Definisi Foto Seni, Kamera Kodak, dan Sang Maestro yang Menolak Untung-untungan
Salam jumpa rekan-rekan Sobat jepret. Di Bagian 2 ("Fotografi Seni (Fine Art Photography) – Sebuah Penjelasan yang Njelimet dan terbagi Menjadi Beberapa Tulisan – Coretan Bagian Kedua"), kita sudah menyaksikan drama panjang antara kubu pictorialism yang gemar mengaburkan fokus dan Group f/64 yang alergi pada segala yang buram. Pertanyaannya sekarang: setelah semua keributan itu, foto seni sebenarnya didefinisikan seperti apa? Mari kita rapikan, pelan-pelan, tanpa teriak.
Foto Seni Itu Punya Nilai Estetik, Bukan Sekadar Hasil Fotokopi
Secara definisi, foto seni adalah foto yang memiliki nilai seni, yaitu nilai estetik, baik yang bersifat universal maupun tidak. Hasil karya foto seni biasanya lebih tahan lama tanpa mengurangi nilai seninya. Ia juga cukup berpengaruh pada cabang fotografi lain, misalnya foto jurnalistik.
Sebuah foto baru layak disebut benda seni ketika ia bukan sekadar hasil reproduksi. Dan ide untuk membuat foto seni tidak muncul tiba-tiba, alias dadakan seperti tugas kuliah yang dikerjakan semalam sebelumnya. Foto seni yang baik biasanya lahir lewat pengamatan menyeluruh, perenungan, dan serangkaian mimpi panjang, lalu berakhir sebagai eksekusi: konsep, visi, dan misi yang jernih dan baru. Jadi, kalau Sobat hanya memotret karena kebetulan lewat, itu bukan salah, tapi mungkin belum sampai ke tahap seni.
Kodak, Eastman, dan Banjir Kamera di Amerika
Penyempurnaan teknik dan kualitas gambar fotografi terjadi pada akhir abad ke-19, ketika pasar di Amerika dibanjiri kamera Kodak yang dipopulerkan oleh George Eastman. Sejak saat itu, memotret tidak lagi jadi urusan segelintir orang berduit dan berlengan kuat. Kamera bisa dimiliki lebih banyak orang. Hasilnya? Foto jadi banyak, tapi foto bagus tetap sama langkanya.
Foto Seni di Indonesia: Indah, tapi Modelnya Disuruh Diam
Perkembangan foto seni di Indonesia sebenarnya sudah terjadi sejak akhir abad ke-19. Ada warga Indonesia yang saat itu sudah mampu membuat foto-foto indah menawan, baik di dalam maupun di luar studio, dengan kadar seni yang sangat baik. Objek, pencahayaan, dan komposisi sudah diatur dengan hati-hati dan cermat. Orang zaman dulu ternyata sudah serius soal komposisi, jauh sebelum ada preset.
Meski hasil cetaknya terhitung sangat baik, foto pada zaman itu masih terkesan kaku dan kurang natural. Penyebabnya, ketika memotret manusia, sang model harus diam beberapa saat karena teknologi kameranya masih sederhana. Jadi kalau Sobat melihat foto lama dengan wajah tegang tanpa senyum, jangan buru-buru berkesimpulan mereka tidak bahagia. Bisa jadi mereka sedang menahan napas supaya tidak goyang.
Ansel Adams: Maestro yang Tidak Percaya Keberuntungan
Ansel Adams adalah fine art photographer Amerika terbesar di abad ke-20. Ia tidak hanya dikenal sebagai fotografer seni, tetapi juga berkontribusi di dunia pendidikan fotografi lewat Zone System, metode yang ia temukan bersama rekannya, Fred Archer, pada awal tahun 1940-an.
Zone System pada dasarnya adalah proses terencana dalam membuat foto, mulai dari pra-visualisasi, pengaturan cahaya, sampai pemrosesan film dan cetakan agar kualitasnya maksimal. Dengan begitu, fotografer tidak lagi mengandalkan faktor untung-untungan dalam urusan pencahayaan. Ini penting, karena untung-untungan itu enak untuk undian arisan, tapi menyiksa untuk fotografi.
Keindahan di Atas Makna?
Menurut sebagian kalangan, foto seni berkaitan dengan foto-foto pictorialism yang menonjolkan estetika dan meniru pencitraan gambar atau lukisan. Foto seni lebih memfokuskan pada keindahan atau artistik daripada kandungan makna foto itu sendiri. Elemen yang biasa dieksploitasi adalah komposisi, penyinaran yang dramatis, dan nada warna.
Maka dapat disimpulkan bahwa foto seni adalah proses yang berkelanjutan tanpa putus, mulai dari perencanaan konsep, pembuatan, hingga penerapan teknis yang akurat, termasuk pemrosesan film maupun file digital. Seorang fotografer ternama berpendapat bahwa hanya foto jurnalistik yang harus apa adanya dan tidak boleh dimanipulasi. Berbeda dengan fine art, yang menjadikan proses digital sebagai alat bantu berkarya.
Demikian ocehan bagian ketiga, Sobat Jepret. Tapi jangan senang dulu, karena masih ada bagian yang menanti. Di Bagian 4 ("Fotografi Seni (Fine Art Photography) – Sebuah Penjelasan yang Njelimet dan terbagi Menjadi Beberapa Tulisan – Renungan Bagian Keempat") kita akan membahas hal yang sering membuat fotografer galau: kenapa foto seni sama sekali berbeda dengan foto komersial, kenapa “identitas” lebih penting daripada kamera mahal, dan kenapa fotografer seni kadang tidak peduli apa yang sedang dikerjakan modelnya. Penasaran? Wajar. Lanjut. Semoga setelah lanjut nanti Sobat Jepret dimanapun bisa turut bersedih bersama saya.
Artikel ini diadaptasi dan ditulis oleh: Tuntas Trisunu
Sumber:
Laman Fotografiana
Judul artikel: FOTO SENI ( FINE ART PHOTOGRAPHY )
Oleh: Greria Tensa. N dan Utari Ambarwaty






Tidak ada komentar:
Posting Komentar