Senin, 30 Maret 2026

Capek Itu Bukan Estetika: Catatan Fotografer Jalanan tentang Manusia Sibuk, Keluhan Palsu, dan Hidup yang Terlalu Banyak Edit (Bagian Pertama)



Beraban, Tabanan, Bali, Senin, 30 Maret 2026

Catatan Fotografer Jalanan Tentang Manusia, Citra, dan Kegemaran Mengeluh

Beberapa hari lalu, saya sedang ngopi malam dengan seorang sobat fotografer jalanan. Usianya sudah mendekati angka yang kalau dimasukkan ke EXIF file RAW, biasanya bikin orang berhenti sejenak sebelum klik “OK”: hampir 50 tahun. Ia bekerja di perusahaan ekspedisi kecil, hidup sederhana, dan—yang makin langka—punya isi kepala yang relatif waras alias tidak gila. Tidak sibuk membangun citra, tidak terobsesi untuk terlihat menderita (biar dikasihani), dan tidak merasa perlu mengumumkan kelelahan sebagai bukti bahwa hidupnya sah.

Sebagai fotografer jalanan, ia terbiasa mengamati tanpa ikut campur. Ia tahu bahwa tidak semua hal perlu direkam, dan tidak semua drama layak dipublikasikan. Di sela kopi hitam dan asap rokok, ia bercerita tentang satu sosok di lingkungannya yang membuatnya merenung lama soal manusia, uang, dan satu “genre” yang kini jauh lebih populer daripada street photography itu sendiri: keluhan sebagai identitas visual.

Tokohnya adalah tetangganya, seorang bapak paruh baya. Dari luar, hidupnya tampak seperti personifikasi khas kelas menengah yang sudah melewati proses kurasi ketat. Usahanya lancer jaya, income rutin dari empat penjuru angin, rumah ramai, aktivitas padat. Kalender penuh, ponsel selalu bergetar, dan wajahnya membawa ekspresi khas: lelah. Tapi bukan lelah yang ingin selesai—melainkan lelah yang dipertahankan. Lelah sebagai properti visual. Sejenis stempel eksistensi.

Hampir setiap hari, bapak ini mengeluh. Hidup terasa berat. Uang selalu kurang. Beban datang seperti ombak di lautan tanpa jeda. Tapi seperti foto yang terlalu sering dipoles, keluhannya jarang punya detail konkret. Tidak ada angka, tidak ada urgensi nyata. Hanya perasaan abstrak, seperti foto blur yang sengaja dibiarkan agar terlihat “jujur”.


Dalam dunia street photography, kita tahu satu hal: kehidupan kota penuh sandiwara kecil. Banyak orang tidak benar-benar ingin jujur—mereka hanya ingin terlihat bermakna. Di lingkungan tertentu, hidup yang tenang tanpa drama justru dianggap mencurigakan. Seolah-olah tanpa penderitaan yang diumumkan, hidup belum cukup sah. Maka mengeluh menjadi ritual sosial. Mirip foto hitam-putih dengan grain berlebihan: tidak selalu dalam, tapi terasa “serius”.

Bapak ini juga pandai mengkurasi cerita keluarga. Anak yang sukses dijadikan tokoh cerita—dipamerkan seperti frame terbaik di pameran. Sedangkan anaknya yang belum “jadi”, langsung masuk daftar tunggu, disimpan rapi, tidak dihapus, tapi juga tidak pernah ditampilkan walau hanya sekilas. Kecemasan itu jarang diproses secara jujur. Lebih sering diproyeksikan ke luar lewat keluhan, perbandingan, dan narasi berulang dengan sudut pengambilan yang sama.

Sobat saya, sebagai fotografer jalanan, membaca ini dengan dingin. Ini bukan tentang kesusahan, tapi tentang kurasi penderitaan. Cukup dramatis untuk mengundang simpati, cukup aman agar tidak perlu berubah. Penderitaan setengah matang—seperti foto yang sengaja tidak dikoreksi exposure-nya supaya terlihat “apa adanya”.

Suatu waktu, bapak ini meminjam uang darinya. Ceritanya rapi, nadanya meyakinkan. Tapi pengembaliannya molor. Bukan karena tidak mampu, melainkan karena ada manusia yang sangat disiplin menjaga citra, tapi pakai “standar karet” soal tanggung jawab. Dalam fotografi, ini seperti memamerkan kamera mahal tapi malas belajar memotret.

Di titik ini, keluhan berubah fungsi. Bukan lagi ekspresi, melainkan tameng moral. Orang yang rajin mengeluh sering dianggap mustahil berniat buruk. Padahal, seperti foto, keluhan pun bisa direkayasa komposisinya.

Sobat saya menutup ceritanya sambil menghembuskan asap rokok, “Yang capek itu sering kali bukan hidupnya, tapi usaha menjaga tampilan capeknya.”

Dua tahun kemudian, kalimat itu terasa makin relevan—ketika ketenangan justru dianggap salah fokus.

(Bersambung ke bagian Kedua dengan judul: "Ketika Ketenangan Terlihat Salah Fokus (dan Kesederhanaan Dianggap Kurang Niat Hidup))

Catatan tambahan: 
Kurasi adalah proses penyeleksian, pengorganisasian, pengelolaan, dan penyajian sekumpulan objek, konten, data, atau karya seni berdasarkan kriteria tertentu. Tindakan ini bertujuan untuk memilih yang terbaik, memberikan nilai tambah, atau memudahkan audiens memahami makna objek yang dipamerkan atau disajikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar