Di zaman di mana "makan tanpa difoto dianggap tidak kenyang" dan "liburan tanpa check-in dianggap kurang piknik," kita semua sedang terjebak dalam perlombaan validasi yang melelahkan. Kita sibuk memoles etalase digital agar terlihat bahagia, padahal di balik layar, kita sering kali merasa hampa alias kosong. Namun, di antara keriuhan itu, selalu ada sosok seperti Mas Wowo—seorang pria yang membuktikan bahwa kualitas hidup tidak diukur dari jumlah followers, melainkan dari seberapa dalam kita berdamai dengan diri sendiri.
Saya pernah punya teman kantor yang akun Instagram-nya lebih sepi daripada kuburan di malam Jumat Kliwon. Foto profilnya mungkin cuma gambar tustel tua atau siluet Gunung Merapi yang diambil tahun 2015. Namanya Mas Wowo. Umurnya 45 tahun, karyawan teladan yang kalau datang ke kantor selalu rapi, tapi kalau bicara iritnya minta ampun.
Banyak rekan kantor yang muda-muda, kaum Gen-Z yang hidupnya full konten, sering bisik-bisik, "Mas Wowo itu kurang piknik ya? Kok nggak pernah update nongkrong di kafe kekinian?" Padahal, Mas Wowo bukannya kurang piknik. Dia cuma sudah lulus dari universitas validasi sosial dengan predikat cum laude.
Sang Pengintai di Balik Lensa Nikon Tua
Bagi Mas Wowo, kamera bukan sekadar hobi, tapi "jimat" untuk tetap waras di tengah tekanan deadline kantor. Kalau ada acara kumpul keluarga atau gathering kantor, Mas Wowo nggak bakal ikut nimbrung gosip di meja utama. Dia bakal menghilang ke pojokan, megang kamera, lalu sibuk memotret ekspresi mbah-mbah yang lagi ketawa atau bocah yang lagi belepotan makan es krim.
Dia ada di sana, dia melihat semuanya lewat viewfinder, tapi dia nggak merasa perlu menjadi pusat perhatian. Baginya, dunia adalah objek foto, bukan panggung untuk pamer eksistensi. Dia lebih suka menangkap momen daripada harus dipotret sambil bergaya dua jari.
Rutinitas Tanpa Woro-Woro
Ada tipe orang yang kalau mau ganti oli motor saja harus update status "Maintenance My Beast" pakai lagu metal. Mas Wowo beda. Dia tetap jalan, tetap punya rutinitas. Sabtu pagi buta, saat orang lain masih ngorok, Mas Wowo sudah sampai di tengah sawah di pinggiran Jogja atau Solo, nungguin sunrise sambil bawa termos kopi hitam.
Dia dapet foto golden hour yang luar biasa cantiknya? Dia simpan sendiri. Dia nggak bakal langsung upload di grup WhatsApp kantor atau bikin Instastory pake caption bijak ala Mario Teguh. Kenapa? Karena buat dia, keindahan itu untuk dirasakan, bukan untuk dipamerkan. Dia nggak butuh jempol netizen buat ngebuktiin kalau sabtu paginya berkualitas.
"Partner" Terbaik Adalah Diri Sendiri
Di usia 45, Mas Wowo sudah malas nungguin orang. Kalau dia pengin memotret gugus bintang galaksi Bima Sakti di Bromo, ya dia berangkat. Nggak perlu nunggu temennya yang "iya-iya" tapi pas hari-H alasannya mendadak meriang atau istrinya nggak ngasih izin.
Mas Wowo sudah sampai di level Kedaulatan Solo. Mau makan bakmi jowo di pinggir jalan sendirian? Sante wae. Mau nungguin burung emprit hinggap di dahan selama tiga jam? Monggo. Dia sudah terbiasa menjadi partner buat dirinya sendiri. Ini bukan karena dia nggak punya siapa-siapa. Justru di masa mudanya, Mas Wowo mungkin pernah jadi orang yang paling ribet nyari barengan. Sampai akhirnya dia sadar: "Nungguin kesiapan orang lain itu cuma bikin sensor kamera karatan."
Instastory? "Mboten Sah, Mas..."
Coba intip medsosnya. Isinya paling cuma foto random pohon atau sawah, atau malah kosong melompong berminggu-minggu. Bukannya hidupnya garing, tapi dia paling males kalau ditanya: "Lagi di mana Mas Wowo? Kok nggak ngajak?"
Bagi pria Jawa tulen seperti dia, privasi itu adalah bentuk kehormatan. Dia bukan mau rahasia-rahasiaan ala intel, dia cuma menghargai ruangnya sendiri. Dia tipe yang kalau dapet foto landscape yang "pecah" banget, dia bakal senyum simpul pas proses editing di laptopnya sambil dengerin langgam Jawa. Selesai. Bahagianya sudah tuntas di kartu memori. Dia nggak butuh pengakuan kalau dia fotografer handal.
Hubungan yang "Low Maintenance"
Mas Wowo ini tipe orang yang nggak bakal drama kalau nggak diundang ke acara peresmian kafe milik bosnya. Ada yang datang ke rumah? Disuguhi teh anget dan kacang rebus, diajak ngobrol soal teknik long exposure. Ada yang menjauh? Ya sudah, yo wis. Ibarat fokus lensa, kalau nggak dapet bokeh-nya, ya tinggal diputar dikit ring-nya.
Dia nggak sibuk pamer lensa-lensa mahal seharga DP mobil baru. Dia nggak butuh validasi dari orang lain kalau hidup dia sudah ajeg. Karena ukuran bahagia buat Mas Wowo bukan soal dilihat, tapi soal rasa "Ayem".
Pada akhirnya, kesejatian Mas Wowo bukan terletak pada kamera mahalnya, melainkan pada kemampuannya untuk berdamai dengan kesunyian. Di tengah dunia yang memaksa kita untuk terus bersuara, Mas Wowo memilih untuk menjadi pendengar yang tenang lewat lensanya. Dia adalah sutradara sekaligus kurator tunggal dari pameran foto hidupnya sendiri—sebuah pameran eksklusif yang pintunya tertutup bagi mereka yang hanya mencari panggung.
Jadi, kalau Sobat melihat Mas Wowo lagi duduk sendirian di taman kota, jangan dikasihani. Dia tidak sedang kesepian. Dia sedang merayakan kemerdekaan batinnya, memotret dunia yang mungkin terlalu silau buat mata kita, tapi terasa begitu teduh di mata hatinya. Mungkin, sesekali kita perlu belajar dari Mas Wowo: bahwa hidup yang paling mewah adalah hidup yang tidak perlu dibuktikan kepada siapa pun.
(Ditulis di Beraban, pagi hari, bersama dengan kopi hitam dan asap rokok)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar