(Artikel ini adalah edisi terakhir dari tiga artikel yang sambung-menyambung, yang pada artikel bagian ketiga berjudul: "Kebenaran di Balik Foto Goyang: Kenapa Ketajaman Lensa Bukan Segalanya? (Artikel Bagian Ketiga dari Empat Babak)")
Kami pikir semuanya sudah selesai. Bedul sudah pergi, meninggalkan kami dengan ego yang sedikit retak dan keyakinan yang tidak lagi utuh. Kedai kopi kembali menjadi sekadar kedai kopi, bukan arena pertarungan ideologi visual. Kami kembali memotret seperti biasa—atau setidaknya, mencoba berpura-pura seperti biasa.
Namun, sekitar dua minggu kemudian, sesuatu terjadi.
Pagi itu, Rusli datang ke grup WhatsApp dengan pesan pendek yang aneh.
“Kalian lihat ini?”
Dia mengirimkan tangkapan layar dari sebuah akun Instagram fotografi yang cukup besar. Akun itu biasa mengkurasi karya-karya fotografi jalanan dari seluruh dunia. Bukan akun sembarangan—pengikutnya ratusan ribu, kuratornya terkenal galak, dan standar seleksinya lebih kejam daripada dosen penguji skripsi yang belum sarapan.
Foto yang mereka unggah hari itu berjudul:
Untitled
Tidak ada nama fotografer. Tidak ada deskripsi teknis. Tidak ada lokasi.
Hanya sebuah gambar.
Gambar itu kurang pencahayaan. Sedikit buram. Tidak fokus. Sebagian besar frame dipenuhi dinding dan sebagiannya telah terkelupas sehingga menampakkan susunan bata. Di sudut kanan bawah, ada bentuk samar yang mungkin cat atau tulisan, atau mungkin memang dinding yang gompel, atau mungkin tidak ada apa-apa sama sekali. Di bagian tengah, ada satu garis cahaya tipis yang miring, seperti luka kecil pada tubuh.
Saya merasa jantung saya berhenti.
Saya mengenali foto itu.
Itu foto jepretan si Bedul.
Itu foto yang dia tunjukkan malam pertama.
Foto yang kami tertawakan.
Foto yang kami sebut sampah digital.
Jupri mengetik:
“Ini… ini foto Bedul, kan?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Beberapa detik kemudian, Agus menulis:
“Iya.”
Lalu Peang:
“Bangsat.”
Tidak lama setelah itu, akun kurator tersebut memposting Story yang menjelaskan pilihan mereka hari itu. Tidak panjang. Hanya satu kalimat:
“Foto ini menolak untuk menjelaskan dirinya sendiri, dan justru karena itu, ia jujur.”
Kami membaca kalimat itu berulang-ulang.
Rusli, yang biasanya paling rasional di antara kami, menulis:
“Secara teknis, ini tetap foto gagal.”
Tidak ada yang membalas.
Karena untuk pertama kalinya, kata “gagal” tidak lagi terdengar seperti vonis mutlak. Kata itu terdengar lebih seperti opini.
Malam itu kami berkumpul lagi di Kedai Kopi Barokah. Tanpa janjian. Tanpa diskusi formal. Hanya duduk, memesan kopi, merokok, dan diam lebih lama dari biasanya.
"Jadi," kata Ujang akhirnya, "apakah Bedul benar?"
Tidak ada yang menjawab.
Karena pertanyaannya ternyata salah.
Yang benar bukan Bedul.
Yang salah bukan kami.
Yang berubah adalah kepastian kami sendiri.
Kami akhirnya menyadari sesuatu yang jauh lebih mengganggu daripada semua ejekan Bedul: foto itu tidak berubah. Pikselnya tetap sama. Shake-nya tetap sama. Noise-nya tetap sama. Dan menurut kami, rusaknya juga masih sama dengan yang tempo hari diperlihatkan oleh Bedul kepada kami.
Yang berubah adalah cara kami melihat foto itu.
Dan mungkin, selama ini, itulah satu-satunya hal yang memang pernah bisa berubah.
Sejak saat itu, kawan kami, si Bedul, dia tidak pernah datang lagi setelah itu.
Tidak ada yang tahu ke mana dia pergi. Nomornya tidak aktif. Kursinya di sudut kedai kembali menjadi sekadar kursi. Tidak ada aura. Tidak ada sabda-sabda pencerahan dari sang guru. Tidak ada kegilaan.
Namun sesekali, saat saya memotret dan hasilnya sedikit goyang, sedikit meleset, sedikit tidak sempurna, saya berhenti sejenak sebelum menghapusnya.
Bukan karena saya berharap itu akan menjadi mahakarya.
Tapi karena sekarang saya tahu, saya tidak lagi sepenuhnya yakin bahwa saya berhak menyebutnya kegagalan.
Pada akhirnya, Bedul adalah guru palsu yang berhasil menjual rongsokan visual sebagai relikui suci kepada kurator yang mungkin sedang mabuk arak. Ia pergi meninggalkan kita dengan kamera puluhan juta yang mendadak terasa seperti beban mati—sebuah kotak besi canggih yang hanya mampu memotret kepalsuan yang tajam, sementara Bedul memotret "kejujuran" dengan resolusi yang lebih rendah dari daya ingat penderita amnesia. Kita semua adalah pecundang estetika yang terjebak dalam hirarki piksel, meratapi nasib di depan layar LCD sementara sang maestro "Asal Jadi" mungkin sedang tertawa terbahak-bahak di kedai lain, merayakan kemenangannya atas kewarasan kita.
Ironis memang; kita menghabiskan umur untuk mengejar fokus, namun justru si Bedul yang tidak fokus itulah yang paling jelas melihat dunia. Kita pulang membawa dendam dan duka, menyadari bahwa seni hanyalah tumpukan omong kosong yang dibungkus istilah filosofis agar terlihat mahal. Mungkin besok kita akan sengaja merusak lensa atau memotret dengan mata tertutup, berharap bisa menemukan sisa-sisa "petitah-petitih" Bedul di balik noise yang berantakan. Namun sejujurnya, satu-satunya yang benar-benar nyata dari tiga malam ini hanyalah tagihan kopi yang membengkak dan kesadaran pahit bahwa di hadapan sebuah tembok retak yang viral, ilmu fotografi kita tak lebih berharga dari ilmu nujum tebak nomor undian.
(Artikel ini ditulis ditengah ketidakpastian suasana, dimana kondisi ekonomi masih juga terseok-seok. Saya masih di bali, dan kisah ini memang fiksi belaka, tetapi idenya berangkat dari kejadian nyata yang saya alami. Semoga bisa menghibur Sobat Jepret semua)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar