Selasa, 04 Agustus 2026

Mengatasi Jenuh Memotret: Belajar "Tersesat" dari Nasihat Mbah Jepret (Artikel Bagian Pertama)



Beraban, Tabanan, Bali, Selasa, 4 Agustus 2026

Sore itu, selepas acara hunting bareng komunitas bubar, warung kopi Bu Darmi jadi tempat pelarian terakhir sebelum semua orang pulang ke rumah masing-masing. Mejanya sudah penuh cincin noda kopi yang menumpuk entah dari berapa generasi pelanggan, asbak di tengah meja isinya puntung rokok bercampur abu, dan aroma kopi hitam bercampur asap kretek jadi satu-satunya wewangian yang tersisa.

Di pojok meja, Mbah Jepret—sesepuh komunitas yang kameranya lebih tua dari umur sebagian besar anggota—duduk santai sambil menghisap rokoknya dalam-dalam. Di depannya, Raka, fotografer muda yang tadi seharian motret dengan wajah datar dan jarang mencet shutter, menyeruput kopi hitamnya sambil menatap kosong ke jalan raya.

"Kok dari tadi kameranya lebih sering nangkring di leher daripada nempel di mata, Ka?" tanya Mbah Jepret, sambil menyulut rokok baru dari puntung yang belum habis.

Raka menghela napas panjang. "Capek, Mbah. Motret sekarang rasanya kayak kerja paksa. Tiap angkat kamera, yang kepikiran malah revisi klien, atau mikir ini bakal FYP apa enggak."

Mbah Jepret tertawa pelan, asap rokoknya mengepul lalu menghilang ditiup angin sore. "Kamera punyamu itu udah berapa lama teronggok di drybox, temenan sama silica gel?"

"Ya... hampir tiap hari, Mbah. Keluarnya cuma pas kerjaan."

"Nah, itu masalahnya," kata Mbah Jepret sambil menyandarkan punggung ke kursi kayu yang sudah reyot. "Kamera itu dulu jadi tempat kamu ngungsi dari ributnya dunia. Sekarang malah jadi salah satu sumber ributnya. Wajar kalau jenuh."

Obat yang Cuma Satu


Raka mengangkat alis. "Terus solusinya apa, Mbah? Berhenti motret?"

"Bukan," jawab Mbah Jepret tegas. "Solo hunting tanpa agenda. Itu obatnya."

"Maksudnya?"

Mbah Jepret menyeruput kopinya, membiarkan hening sebentar sebelum menjelaskan. "Keluar rumah sendirian. Bawa satu kamera, satu lensa aja—lensa kit boleh, lensa fix juga bisa, biar bahumu gak keseleo. Gak janjian sama siapa-siapa, gak tahu mau motret apa. Jalan aja kayak orang yang lagi nyari jati diri."

Raka nyaris tersenyum, meski masih ada beban di wajahnya. "Terus ngapain, Mbah? Muter-muter doang?"

"Justru di situ keajaibannya," Mbah Jepret menjawab, matanya menerawang seolah mengenang sesuatu. "Pas kamu jalan sendirian tanpa tujuan, kepala yang tadinya bising—cicilan, omelan bos, drama di media sosial—pelan-pelan jadi hening. Fokusmu mulai balik ke hal-hal kecil di depan mata. Itu meditasi, Ka. Cuma medianya tombol shutter."

Raka terdiam, mencerna kalimat itu baik-baik. Tapi sebelum dia sempat bertanya lebih jauh, Mbah Jepret mengetuk-ngetukkan puntung rokoknya ke asbak, lalu menatapnya lekat-lekat dengan raut yang tiba-tiba berubah serius.

"Tapi solo hunting doang gak cukup, Ka," katanya pelan. "Ada tiga hal yang harus kamu pegang, kalau enggak, kamu bakal balik jenuh lagi minggu depan. Dan salah satu dari tiga itu—yang paling penting—justru yang paling sering dilanggar sama fotografer sekarang."

Ia menghela napas panjang, seakan menimbang apakah perlu diteruskan sekarang atau nanti.

(Bersambung ke Bagian 2)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar