Tanpa sengaja saya berpapasan dengan Mas Jepret di kedai kopi langganan. Tanpa rencana, tanpa janji, dan sejujurnya, tanpa persiapan mental. Tapi ya sudahlah, mari anggap ini takdir. Sobat, ada satu genre fotografi yang selalu bikin saya penasaran setengah mati, dan Mas Jepret adalah sasaran empuk untuk dikorek ilmunya: Fotografi Minimalis.
Di lingkungan komunitas, nama Mas Jepret ini sudah menikmati semacam Halo Effect tingkat dewa. Dia dianggap legenda hidup bukan karena prestasinya yang segudang, tapi karena kelakuannya yang diluar ”nurul” dan idealismenya yang lebih keras dari batu permata. Dia cuma mau memotret dua hal: minimalis dan abstrak. Titik. Tidak ada tawar-menawar—bahkan kalau yang menawar itu klien dengan uang muka sekarung.
Bayangkan, kalau dia diajak ikutan hunting bertema wedding atau portrait model cantik, Mas Jepret tetap akan memotret dengan gaya nyentrik-estetiknya sendiri. Saat fotografer lain sibuk menjepret senyum manis sang model dari dekat, Mas Jepret malah mundur sepuluh meter, memotret tiang listrik kusam, dan meletakkan ujung siku si model di pojokan frame. Idealisme level dewa, rezeki level kerak neraka. Alhasil? Banyak model yang butuh konsultasi psikolog setelah melihat hasil jepretannya. Boro-boro bisa dipakai buat profile picture, muka mereka saja cuma kelihatan sebesar debu—minimalis katanya, padahal harga diri si model yang jadi korban minimalisasi.
Menyadari bahwa ilmu gratisan itu cuma mitos urban, saya langsung melancarkan aksi diplomasi tingkat tinggi. Kopi hitam dua cangkir diluncurkan, sepiring gorengan hangat disorongkan, dan sebungkus rokok mahal dibuka lebar-lebar di meja, persis seperti persembahan tumbal ke siluman penunggu pohon keramat di kuburan desa saya. Ritual sesajen ini saya lakukan dengan wajah setenang mungkin, padahal kalkulator di kepala sudah menjerit: ini investasi ilmu, atau cuma modal bakar duit demi konten obrolan warkop?
"Mas, boleh tanya-tanya soal minimalis?" saya membuka percakapan, berusaha terdengar seperti intelektual seni, padahal isi kepala cuma satu: jangan sampai sesajen ini menguap sia-sia.
Mas Jepret melirik gorengan, melirik rokok, lalu melirik saya—urutan kasta prioritasnya sudah sangat jelas. "Boleh," katanya. Sesingkat mungkin. Seolah setiap huruf tambahan akan dikenakan pajak pertambahan nilai.
Setelah "sesajen" itu resmi berpindah teritori ke dekat sikunya, barulah pertahanan Mas Jepret runtuh. Dia berdehem sejenak, dan seketika saya duduk tegak layaknya murid yang siap menerima pelajaran jurus pertama dari suhunya suhu.
"Cuma ada dua hukum," katanya, mengangkat dua jari seperti politisi yang lagi kampanye nomor urut. "Dan saya cuma akan ngomong sekali. Nggak ada her."
Saya manggut-manggut cepat, berharap sesajen mahal ini cukup untuk membeli lebih dari sekadar dua kalimat klise.
"Pertama," katanya, sambil menyalakan rokok pertama dari jatah saya tanpa rasa bersalah sedikit pun, "kamu harus belajar pelit. Pelit bingkai." Saya mengangguk, walau dalam hati memaki: pelit bingkai gundulmu, tapi royal banget ngabisin rokok orang.
"Aturan 80/20. Kasih 80% ruang kosong—langit, tembok kusam, apa aja yang nggak penting. Subjekmu? Taruh 20% sisanya di pojok. Konsepnya Wabi-Sabi, mengusung kekosongan biar subyeknya kelihatan kesepian." Mas Jepret menghembuskan asap ke arah kursi kosong, mendemonstrasikan langsung konsep "kesepian" itu ke saya. Sangat efektif. Saya langsung paham betul rasanya kesepian, karena isi dompet saya sudah merasakannya duluan.
"Pakai lensa tele. Kompres semua. Ada gerobak bakso di belakang? Potong. Tiang jemuran? Potong. Nggak ada ampun buat sampah visual." Cara dia bilang "nggak ada ampun" itu lebih mirip manifesto pembunuh bayaran daripada tips fotografi. Entah kenapa, saya jadi ngeri sendiri kalau-kalau saya juga termasuk "sampah visual" yang sedang dia kompres keluar dari hidupnya begitu sesi ini kelar.
"Terus, underexpose satu sampai dua stop pas matahari lagi galak-galaknya. Bikin siluet. Foto jadi dramatis," tutupnya. Ia menjeda, menatap kepulan asapnya sendiri seolah itu mahakarya Louvre.
"Paham?" tanyanya, dingin.
"Paham, Mas," jawab saya cepat, walau separuh otak masih sibuk menghitung opportunity cost dari tiga batang rokok yang baru saja raib.
Tapi Sobat, kalau Hukum Pertama saja sudah sukses merampok jatah nikotin dan harga diri saya sebagai audiens, tunggu sampai kalian mendengar Hukum Kedua. Karena di situlah Mas Jepret menunjukkan wujud aslinya: seorang diktator visual berkedok seniman kere.
Catatan tambahan:Dari "Her" ke "Remidi": Evolusi Istilah Ujian Susulan di Sekolah Indonesia
Bagi generasi yang bersekolah di era 1980-an hingga 1990-an, kata "her" adalah momok yang menakutkan. Istilah ini merujuk pada ujian ulangan bagi siswa yang nilainya belum mencapai standar. Kata "her" sendiri merupakan warisan kolonial Belanda, singkatan dari herexamen (her berarti mengulang, examen berarti ujian). Selama puluhan tahun setelah kemerdekaan, istilah ini melekat kuat dalam kultur pendidikan Indonesia karena diadopsi secara turun-temurun oleh para guru senior.Namun, memasuki era 2000-an, wajah pendidikan Indonesia mulai berubah seiring dengan pembaruan kurikulum. Pengaruh bahasa Belanda perlahan memudar, digantikan oleh istilah-istilah berbasis bahasa Inggris yang dinilai lebih modern. Istilah herexamen pun resmi digantikan oleh program remedial (perbaikan).Di tangan generasi muda—khususnya Gen Z dan Alpha—kata remedial disederhanakan secara kasual menjadi "remidi" atau "remed". Pergeseran bahasa ini bukan sekadar pergantian kata, melainkan refleksi dari pergantian generasi penutur dan kiblat sistem pendidikan Indonesia yang kini lebih berkiblat pada standar global modern.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar