Senin, 10 Agustus 2026

Mengatasi Jenuh Memotret: Belajar "Tersesat" dari Nasihat Mbah Jepret (Bagian 2)



Beraban, Tabanan, Bali, Senin, 10 Agustus 2026

Sambungan dari Bagian 1.

Sebelumnya, di warung kopi Bu Darmi, Mbah Jepret baru saja menyinggung tiga hal penting yang harus dipegang Raka supaya tidak jenuh lagi memotret—dan salah satunya justru yang paling sering dilanggar fotografer zaman sekarang.

Mbah Jepret menyulut rokok barunya, menghela asap panjang ke udara sore, lalu mulai bicara dengan nada yang biasa dipakainya kalau sedang benar-benar ingin didengar.


Tiga Pesan dari Mbah Jepret


Satu. Lupain obsesi jadi National Geographic.

"Kamu bukan lagi ngejar momen bersejarah kayak fotografer perang. Dapet foto bapak-bapak nguap di pinggir jalan aja udah patut disyukuri. Kalau seharian jalan dan pulang tanpa satu foto pun, ya udah, anggap aja olahraga sore sambil bakar kalori."

Dua. Tahan jempolmu untuk upload.

"Begitu dapet momen bagus, jangan buru-buru nyari sinyal buat upload. Tahan dulu jempolmu. Nikmatin dulu proses ngintip lewat viewfinder-nya. Rasain angin, denger klakson angkot yang sahut-sahutan, rasain kamu lagi ada di situ. Kamera itu alat buat ngerekam momen, bukan mesin pencari pujian. Simpen dulu di memori kepalamu—urusan upload, bisa nunggu."

Raka menatap Mbah Jepret lekat-lekat. Ini yang dia rasa paling menohok—karena selama ini, jarinya selalu lebih cepat mencari sinyal daripada menikmati momennya sendiri.

Tiga. Ingat alasan pertama jatuh cinta pada fotografi.

"Foto-foto terbaik itu jarang lahir pas kita lagi ambisius setengah mati ngejar viral. Justru lahir pas hati kita santai, rileks, dan nyambung sama sekitar. Tanpa beban harus dapet like atau engagement."


Pulang dengan PR

Raka terdiam sejenak, menatap sisa kopi hitamnya yang sudah mulai dingin. "Jadi minggu ini saya harus solo hunting, Mbah?"

"Bukan harus," Mbah Jepret tersenyum, memadamkan rokoknya di asbak yang sudah penuh. "Tapi coba aja. Cas baterai kameramu sampai penuh—bukan buat nyenengin klien atau netizen, tapi murni buat nyenengin diri sendiri. Pakai sepatu paling nyaman, bawa kameramu keluar, terus pergi tersesat dalam kebahagiaan."

Ia berdiri, merapikan jaketnya yang bau asap rokok dan kopi, lalu menepuk pundak Raka sekali sebelum berjalan pergi. "Kamera itu dulu kamu beli buat motret dunia, Ka. Bukan buat jadi pajangan estetik yang tugasnya cuma nangkring nangkep debu di pojok kamar."

Catatan Penutup untuk Kamu yang Sedang Jenuh


Cerita di atas sebenarnya lahir dari pesan seorang pembaca blog ini yang jujur mengaku sedang berada di titik "muak" memotret—terlalu lelah memikirkan angka likes, algoritma Instagram, dan tuntutan untuk selalu terlihat keren di media sosial.

Kalau kamu merasakan hal yang sama: kamu tidak sendirian. Media sosial seringkali merampok esensi dari hobi kita, sampai kita lupa rasanya kesenangan saat mendengar bunyi klik pertama kali dulu.

Nasihat Mbah Jepret di atas adalah jawaban terbaik yang bisa saya berikan. Akhir pekan ini, matikan data seluler dari Instagram. Cabut silica gel dari drybox, pasang lensa paling ringan, dan keluarlah. Bukan untuk mencari likes, tapi untuk mencari kembali jiwamu yang hilang di dalam kamera.

Selamat memotret kembali, selamat tersesat dalam kebahagiaan!

Bagaimana dengan kalian? Pernahkah kalian mengalami kejenuhan yang sama? Yuk, cerita di kolom komentar!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar