Senin, 12 Oktober 2026

Lensa Purba (Babak 2: Kemanusiaan dalam Lensa)



Beraban, Tabanan, Bali, Senin, 12 Oktober 2026

Foto "Menunggu" & Pameran Palsu


Berbulan-bulan sebelumnya, di pertemuan ketiga, Gita pernah membawa fotonya sendiri: seorang ibu penjual canang di pasar, matanya menatap kamera sambil setengah tersenyum. El memandanginya tiga detik.

"Objeknya terlalu dekat," kata El. "Kurang jarak. Kurang misteri."

"Iya, Kak," jawab Gita. Malam itu ia menghapus foto tersebut dari ponsel. Bedul, yang duduk di sebelahnya dan jelas tahu foto itu bagus, menatap kopinya dan tidak berkata apa-apa. Gita tidak menyalahkannya. Ia hanya mencatatnya, seperti petugas klaim mencatat kerusakan.

Setelah Bedul dikeluarkan, Gita menyimpan sesuatu yang berbahaya. Di ponselnya ada folder bernama Laporan Klaim Q3, isinya dua puluh tiga foto Bedul, ditemukan di akun Instagram yang tak punya pengikut dan tak pernah dilihat siapa-siapa. Nama folder itu ia pilih supaya tak ada yang membukanya, termasuk dirinya sendiri di saat lemah. Ia juga mencatat tanggal unggah masing-masing foto, kebiasaan orang kantor asuransi yang tak bisa menyimpan apa pun tanpa bukti. Kalau pekerjaannya membosankan, ia membuka folder itu. Foto-foto itu membuatnya merasa masih boleh berpikir sendiri.

Ironi Lensa Purba: Ketika Eksklusivitas Mengalahkan Nalar


Musim berganti. Lensa Purba makin meninggikan benteng eksklusivitasnya. Setiap ada hunting akbar, mereka datang bergerombol dengan dagu terangkat, menenteng lensa sebesar meriam, dan menceramahi setiap peserta baru.

"Hei, jangan ambil sudut dari bawah begitu! Itu merusak estetika arsitektur!" bentak Pur pada seorang anak SMA yang kebetulan ikut acara publik. Pur memang galak hanya kepada orang yang lebih muda dari anaknya.

"Tapi bayangannya menarik, Om," jawab anak itu polos.

"Estetika itu bukan soal bayangan murahan!" kata El. "Ikuti pakem kami kalau mau diakui!"

"Diakui siapa, Tante?"

Hening. El tidak pernah dipanggil Tante. El memutuskan, saat itu juga, untuk mencatat wajah anak itu.

Lama-lama orang risih. Panitia lomba enggan mengundang mereka, karena juri dari Lensa Purba selalu mendiskualifikasi peserta yang tak sejalan dengan selera mereka, selera yang usianya empat belas bulan tapi berlagak warisan leluhur. Pernah ada juara yang dicoret karena fotonya "terlalu bahagia". Bukan karena karya mereka jelek, teknik mereka memang cepat matang, melainkan karena aura mereka beracun.


Bedul dan Fotografi Jujur: Menyusuri Jejak Kemanusiaan di Jalanan


Puncaknya terjadi pada Minggu sore di Festival Budaya Kota.

Empat tripod berdiri tegak di barisan depan bagaikan pagar makam. Mereka membidik penari tradisional dengan wajah serius, menunggu satu momen magis yang cocok dengan rumus buku teks.

"Tunggu cahayanya," bisik Anin. "Lima belas menit lagi jadi emas."

"Tunggu gerakannya," bisik El. "Belum klimaks."

"Tunggu sebentar, saya benerin punggung dulu," bisik Pur.

Penari selesai satu babak, lalu dua, lalu ganti kostum. Momen magis yang dinanti tak juga muncul. Tapi mereka tetap menunggu, karena bagi Lensa Purba, kesabaran adalah tanda kelas.

Di seberang lapangan, di bawah pohon ketapang, duduk Bedul di kursi plastik usang, hanya dengan kamera saku tua di leher dan segelas es teh manis. Ia tidak menunggu momen. Ia berjalan ke mana pun momen itu berada: anak-anak yang terpingkal-pingkal melihat topeng barong, tukang es kelapa yang kewalahan melayani pembeli, dan peluh di kening seorang kakek penarik becak yang sedang beristirahat.

Bedul selalu meminta izin, dan itu yang membedakannya. Kepada si kakek ia bertanya, "Boleh, Kek?" Si kakek menjawab, "Jangan lupa cetakkan ya." Di ranselnya ada map plastik berisi belasan foto 4R, siap dibagikan kepada orang-orang yang pernah ia potret dan kebetulan lewat.

Beberapa fotografer muda mengerubungi Bedul. Mereka tidak membahas aperture atau shutter speed. Mereka menatap layar kecil itu: foto hitam putih yang kasar, jujur, dan berdenyut penuh napas kehidupan. Di antara kerumunan itu ada anak SMA yang dulu memanggil El "Tante".

El melirik dari kejauhan, matanya menyipit di balik lensa mahal. "Lihat si anak buangan itu. Memotret kok asal jepret."

"Biarkan saja, Kak El," kata Anin. "Mereka tidak punya standar."

"Setuju," kata Pur cepat, sebelum siapa pun bertanya.

Hanya Gita yang diam. Jarinya, tanpa ia sadari, sudah setengah jalan menuju tombol follow.

Beberapa menit kemudian El menyuruh Gita mengambilkan air mineral di kios seberang. "Sekalian yang dingin, ya. Jangan yang hangat, nanti rasanya seperti hidup."

Di kios itulah Gita berpapasan dengan Bedul, yang sedang membeli rokok ketengan. Mereka pernah berbagi satu meja selama berbulan-bulan, dan kini berdiri seperti dua orang yang tertukar salah kamar.

"Bang," kata Gita. Lalu, karena ia tak sanggup menahan lebih lama: "Saya punya dua puluh tiga foto Abang."

"Buat apa?"

"Buat dilihat kalau sedang capek."

Bedul terdiam sebentar. Wajahnya melembut dengan cara yang agak terlalu puas, seperti orang yang akhirnya dilihat dan tak keberatan siapa yang melihat. Ia mengeluarkan selembar foto dari map plastiknya: ibu penjual canang yang sama dengan foto Gita yang dihapus, dipotret dari sudut lain, di hari lain.

"Dulu saya diam ya, waktu fotomu dibilang kurang misteri," katanya.

"Iya, Bang."

"Bang, Abang tidak marah? Sama mereka?"

Bedul menyalakan rokoknya, dan Gita melihat korek di tangannya gagal dua kali. "Marah itu mahal, Dek. Saya tidak punya anggarannya. Lebih murah cetak foto."

Kalimat itu kelak Gita ingat sebagai kalimat paling indah yang pernah ia dengar, dan baru bertahun-tahun kemudian ia sadar bahwa itu juga kalimat orang yang sudah menghitung harga dari segala sesuatu, termasuk dirinya.

Matahari akhirnya benar-benar keemasan. Cahaya yang ditunggu Anin sejak tadi datang persis ketika panggung kosong. Penari sudah pulang. Panitia sudah menggulung karpet.

Empat orang berdiri di depan panggung kosong, dengan empat tripod, empat kamera, dan nol foto.

Lalu si anak SMA mendekat, sopan tapi jelas menahan tawa, menyodorkan ponselnya. "Tante, Om, Kakak-kakak, ini foto dari Bang Bedul. Katanya kalian pasti mau lihat."

Di layar, empat siluet berdiri kaku dengan tripod menjulang, membelakangi kamera, menghadap panggung kosong di bawah cahaya emas sore. Judulnya satu kata: Menunggu.

Foto itu bukan kebetulan, dan bukan kelembutan. Bedul memotretnya dari bawah pohon ketapang dengan tangan agak gemetar, lalu mengirimkannya lewat si anak SMA supaya ia sendiri tak perlu menyaksikan wajah mereka. Ia menyebutnya bercanda. Sebenarnya itu balas dendam yang dibungkus kain halus, dan ia puas sekali.

Tak seorang pun bicara.

"Ini..." kata Anin pelan, "kok bagus ya?"

El memandangi layar lama sekali, lalu menyipitkan mata seperti juri yang mencari cacat.

"Horizonnya miring," katanya. "Dua derajat."

Dan untuk pertama kalinya sejak Lensa Purba berdiri, tak seorang pun mengangguk.

Rapat evaluasi diadakan Selasa malam, di meja yang sama, dengan kopi yang sama. El membuka dengan suara tenang, terlalu tenang.

"Ada yang mau disampaikan?"

Gita menarik napas. Ia sudah melatih kalimat ini di kamar mandi, di mobil, dan di depan cermin kantor. "Kak El, saya rasa saya mau keluar dari..."

"Kamu tidak keluar," potong El. "Kamu dikeluarkan."

Ponsel Gita bergetar. Grup Lensa Purba Official (Dilarang Baper) memunculkan satu notifikasi terakhir: El mengeluarkan Gita. Di bawahnya, Anin dan Pur sudah menekan jempol, entah karena kebiasaan atau karena takut.

"Sekalian," kata El sambil menyesap kopi, "ini bukan soal kamu. Ini soal kita. Kita punya masalah citra."

Dua minggu kemudian, foto Menunggu menyebar. Seseorang mengunggahnya ke media sosial, dan dalam tiga hari ia dibagikan ribuan kali dengan kalimat yang sama dari orang-orang yang tak saling kenal: ini sindiran paling elegan yang pernah kulihat.

Kolom komentarnya cepat berubah jadi arisan tebak-tebakan. Seseorang menandai akun El. Seseorang lain menempelkan tangkapan layar yang bocor dari salah satu dari tiga orang yang dulu keluar karena baper, lengkap dengan kalimat "dokumentasi tukang rongsokan". Sebuah akun tanpa foto profil menulis, "Dewan Presidium Abadi, wkwk, ada yang pernah memilih mereka?" dan mendapat empat ribu jempol.

Bedul membaca komentar itu empat puluh kali, di lampu merah, di depan gudang, di sela mengangkat galon. Angka nol di akunnya akhirnya berubah, dan ia merasa seperti orang yang diam-diam menang taruhan yang tak pernah ia akui pernah ia pasang.

Sebuah galeri di Ubud mengiriminya pesan lewat Instagram. Ia membacanya di atas motor bak terbuka yang mesinnya masih menyala, lalu membalas dengan jempol yang agak lambat: "Boleh, asal foto Pak Made dipajang juga." Ia tidak bertanya soal bayaran. Ia tidak mencantumkan nomor telepon atau surel, karena ia pikir orang galeri pasti tahu cara menghubunginya. Orang yang menunggu dicari memang selalu berpikir begitu.

Di meja kopi yang sama, El membaca komentar-komentar itu dengan ketenangan yang mencurigakan. Rokoknya tidak dinyalakan.

"Tiga juta tayangan, Kak El," kata Anin pelan, dengan nada orang yang menyebut angka rumah sakit.

"Kita punya masalah citra," kata El, untuk kedua kalinya dalam dua minggu. "Orang-orang itu tidak membenci fotografi kita. Mereka membenci cara kita ditampilkan."

Anin mengetuk-ngetuk layarnya. "Akun Bedul itu publik, Kak El. Fotonya banyak. Tidak ada yang mengurusnya."

Tak seorang pun berbicara beberapa detik. Di luar, gerimis mulai turun, tepat waktu seperti biasa.

"Tapi izinnya..." kata Pur, lalu menyesali ucapannya sendiri.

"Pur," kata El, lembut seperti guru yang kehabisan sabar, "ini bukan arsip pribadi. Ini warisan visual kota. Warisan tidak minta izin."

"Setuju," kata Pur.

Malam itu juga El mencoret kop surat lama. "Dewan Presidium Abadi" ia ganti dengan "Lensa Purba Collective". "Kolektif," katanya, "terdengar seperti orang-orang yang saling memeluk." Anin mengunduh dua puluh sekian foto dari akun Bedul, menaikkan kontras di sana-sini "supaya layak cetak", dan menghapus tahi lalat di wajah seorang nenek penjual sayur. Tangannya berhenti saat sampai pada foto Pak Made yang tertidur bersama kunci pasnya. Ia membiarkannya apa adanya. Ia sendiri tak tahu kenapa.

El menulis narasi kuratorialnya sendiri, tiga halaman, dengan kata "kemanusiaan" muncul sebelas kali. Tajuk pamerannya ia ambil dari kalimat yang dulu ia tertawakan di rapat darurat: Kemanusiaan dalam Lensa. Kalimat itu sebenarnya masih ada di catatan ponselnya, tertanggal empat belas bulan lalu, di bawah judul "Pelajaran 1 dari Bedul". El menghapus judulnya lebih dulu, baru menyalin isinya.

Proposal itu mendarat di surel kurator galeri, Ibu Ayu, dua hari setelah balasan Bedul. Lengkap: konsep, daftar karya, foto beresolusi tinggi. Jalurnya mudah. Dua tahun lalu El pernah mengisi lokakarya kecil yang dihadiri asisten kurator, Gek Sari, dan sejak itu El menjadi satu-satunya nama fotografi Denpasar yang Gek Sari hafal. Ketika Bu Ayu bertanya, "B ini siapa, ada yang kenal?", Gek Sari menjawab ringan, "Kayaknya binaan Lensa Purba, Bu." Telepon dari El sore itu tinggal mengonfirmasi. "Tentu, anak asuh kami," katanya, dan ia merasa tidak sedang berbohong, karena sejak menjadi otodidak ia sudah terbiasa mengaburkan siapa yang mengajari siapa.

Bedul tidak menagih. Seminggu. Dua minggu. Lalu ia menyimpulkan sendiri, seperti orang yang sudah lama terbiasa menyimpulkan: pasti galerinya berubah pikiran. Tidak apa-apa. Ia tidak mengirim pesan lanjutan, karena bertanya berarti mengaku bahwa ia menunggu.

Ia baru tahu dari anak SMA itu, yang mengirim tangkapan layar poster pameran dengan satu pertanyaan: "Bang, ini beneran Abang yang ikut?" Bedul membaca tajuknya dua kali. Kalimat itu miliknya. Ia ingat persis di mana ia mengucapkannya, dan siapa yang mengangguk-angguk sambil mengetik di ponsel. Ia tidak membalas. Ia mengantar dua galon terakhir hari itu, dan malamnya memutuskan datang. Bukan untuk membuat keributan. Ia hanya ingin memastikan foto Pak Made benar-benar dipajang, karena itu satu-satunya hal yang ia minta.


Pameran Seni dan Topeng Komersial: Saat Harga Sebuah Karya Ditawar


Pameran itu dibuka dua bulan kemudian. Undangannya mengilap, hurufnya emas, dan di bagian bawah, dalam huruf kecil sekali, tertulis: Dipersembahkan oleh Lensa Purba Collective.

El berdiri di podium dengan blazer putih. Di belakangnya terpampang foto besar Menunggu, dicetak di kanvas, dibingkai kayu jati.

"Fotografi," ucapnya, dan seluruh ruangan hening, "pada hakikatnya adalah kemanusiaan. Bukan spesifikasi alat."

Tepuk tangan pecah. Seseorang bersiul. Anin, di barisan depan, memastikan wajahnya kena cahaya terbaik. Pur menepuk dada dan mengangguk-angguk, dengan mata berkaca-kaca, seolah kalimat itu ia sendiri yang menciptakan.

Di dinding samping, foto-foto Bedul digantung berjajar: penjual canang, kakek penarik becak, anak-anak dengan topeng barong, dan Pak Made yang tertidur bersama kunci pasnya. Di bawah setiap foto ada kartu kecil bertuliskan: Koleksi Lensa Purba Collective. Foto oleh: B. Harga tertera di ujung kartu, dengan angka nol yang banyak.

Bedul berdiri di paling belakang ruangan, dengan es teh di tangan. Ia sempat berjalan mendekati dinding itu, membaca satu kartu, lalu mundur lagi ke tempatnya tanpa menyentuh apa-apa. Ketika seorang kolektor bertanya keras-keras siapa fotografer asli B ini, ia punya waktu tiga detik untuk mengangkat tangan. Ia menunduk dan meminum es tehnya. Tak ada yang mengenalinya. Seorang perempuan yang lewat sambil memeriksa kameranya bahkan menyerahkan gelas kosong kepadanya tanpa menoleh, mengira ia petugas. Perempuan itu Anin.

Gita ada di sana juga. Ia membawa foto ibu penjual canang miliknya sendiri, yang ia temukan kembali di cadangan awan lama dan kini sudah dibingkai. Ia melihat Anin menyodorkan gelas tanpa menoleh. Ia melihat Bedul menerimanya begitu saja.

Gita berjalan menghampiri, mengambil gelas itu dari tangan Bedul, dan mengembalikannya ke tangan Anin. "Ini fotografernya, Anin," katanya. "B. yang di kartu itu."

Anin melihat Bedul, melihat kartu di dinding, lalu berkata "Oh," persis seperti ketika ia menerima tripod yang diantar tepat waktu. Ia kembali ke kerumunan di sekitar El, yang lebih pandai berbicara. Ia tidak mengucapkan terima kasih, karena itu bukan sesuatu yang pernah ia ucapkan kepada Bedul dengan arti sungguh-sungguh.

Sesuatu di dada Bedul yang selama empat belas bulan selalu siap sedia akhirnya berhenti siap. Ia menatap Gita sebentar, lalu mengangguk kecil. Itu terakhir kalinya ia mengangguk kepada Gita.

Sesudah pidato, seorang kolektor bertanya pada El, "Yang ini terjual?"

"Yang mana, Pak?"

"Yang tukang tambal ban."

El melirik kartunya dan tersenyum seperti kurator sungguhan. "Sudah ada yang pesan. Ini karya paling berharga kami."

Di luar galeri, di bawah lampu jalan yang mulai menyala, Pak Made masih menambal ban sepeda motor seorang turis, tangannya hitam oleh oli, kunci pasnya tergenggam erat seperti biasa. Foto dirinya dijual di dalam sana seharga sepuluh kali penghasilannya sebulan. Ia tidak pernah diundang, dan tidak pernah tahu.

Malam itu, ketika El pulang membawa piagam penghargaan dari panitia dan Anin sibuk mengunggah swafoto di depan karya Bedul, Pur berjalan paling belakang, menggendong lensanya seperti balita. Ia berhenti sejenak di depan foto Pak Made.

"Maaf, Dul," bisiknya pelan.

Lalu ia berbalik, menyusul El dengan langkah cepat, sebelum ada yang sempat bertanya apa yang ia gumamkan.

Gita tidak bisa tidur malam itu. Ia membuka folder Laporan Klaim Q3, mencocokkan tanggal unggah dua puluh tiga foto dengan tanggal pameran, lalu mengunggah semuanya ke akunnya sendiri dalam satu utas panjang yang disusun rapi seperti dokumen klaim: foto asli, tanggal asli, kartu pameran, dan satu kalimat penutup, "Foto ini bukan milik siapa-siapa selain B."

Utas itu mendapat dua ratus dua belas jempol. Empat puluh komentar menyebutnya "mantan anggota yang sakit hati". El membalas di kolom komentar dengan satu kalimat yang dibagikan ulang lebih sering daripada utasnya: "Kami menyayangkan anggota yang tak sanggup dibina."

Tiga hari kemudian galeri mengubah kartu-kartu itu secara diam-diam. Kini tertulis: Foto oleh: Bedul (binaan Lensa Purba Collective). Dalam huruf yang lebih kecil. Di bawah nama yang lebih besar.

Seminggu kemudian El datang ke gudang air itu dengan membawa amplop cokelat.

"Ini apresiasi, Dul," katanya, tersenyum dengan seluruh giginya. "Dari kami. Dua juta. Jangan terlalu dipikirkan. Kamu paham maksud saya, kan?"

Bedul memandang amplop itu lama. Cicilan motor bak terbukanya menunggak tiga bulan. Ia tidak menjawab pertanyaan El. Ia hanya menerima amplop itu dan berkata, "Terima kasih, Kak El," dengan suara yang bahkan ia sendiri tak kenali. Itu bukan ketabahan. Itu harga yang ternyata bisa ditawar.

El pergi dengan senyum seorang dermawan. Bedul berdiri di antara galon-galon kosong, memegang amplop itu, dan untuk pertama kalinya ia merasa marah. Bukan kepada El. Ia marah kepada kenyataan bahwa di matanya, dua juta rupiah itu memang punya arti yang tidak bisa ia abaikan.

[Baca Babak 1 di sini] | [Bersambung ke Babak 3]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar