Senin, 16 Juli 2018

Fotografer itu bukan seniman??? (Tulisan bagian pertama)



Kemayoran, Jakarta, 16 Juli 2018

Fotografer itu bukan seniman???

(Obrolan dengan 5 botol air putih,  3 gelas kecil kopi mix, 8 gelas besar kopi hitam dan asap rokok)

Artikel ini diupload dalam dua babak, dan ini adalah babak pertama, mohon jangan bosan!

Tak banyak orang tahu apa artinya ‘fotografer’, dan tak banyak juga orang tahu apa artinya ‘seniman’, cuma sebagian saja yang mengerti arti kedua kata itu sebenarnya. Tapi, semua orang tahu apa artinya ‘kopi’ dan apa artinya ‘rokok’. Tapi sobat, artikel ini ini bukan untuk menerangkan apa arti kata-kata di atas; ‘fotografer,seniman, kopi, dan rokok’. Bukan sob, sama sekali tak ada keinginan untuk saya menerangkan itu semua. Saya hanya ingin menceritakan satu peristiwa, dimana saya, secara sangat ‘aneh bin ajaib’, kecemplung dalam situasi, dimana kata-kata yang ‘magis’ itu bisa muncul secara harafiah, dan intens.

Itu terjadi pada di hari Kamis  tanggal 21 bulan Juni tahun 2018, selepas siang, di lokasi yang namanya Jakarta Fair. Lokasi dimana saya juga bekerja di sana, walau tak terlibat secara langsung. Entah kenapa, hari itu saya merasa jenuh level dewa. Saya jenuh, karena saya harus bekerja, sementara banyak buruh seperti saya, yang asyik kumpul-kumpul dengan keluarga, menikmati libur. Ketawa-ketiwi, cerita-ceriti dan pasti, ada sebagian yang sambil sedot cerutu. 

Sementara saya???? 

Saya malah harus duduk manis di kantor, di bawah sinar lampu TL yang sinarnya menciptakan suasana “harus kerja, kerja, dan kerja!” Ditambah dengan koneksi internet di kantor, yang biasanya lambat, sekarang malah turun ‘perseneling’ dan pindah ke percepatan paling rendah…alias….”mode siput….ON!”
Hadehhhh…..!!


Ya sudahlah, daripada isi kepala ini dilanda jenuh terus menerus, lebih baik saya habiskan waktu melihat-lihat Jakarta Fair yang sudah mulai ramai, siapa tahu, ditengah “kepanikan” pengunjung yang berbelanja, otak saya bisa jadi enteng, dan segala macam dedemit dan jin iprit yang membuat suasana hati jadi jenuh, bisa minggat cepat-cepat! Atau siapa tahu, ada bidadari yang “kepleset” dari khayangan, dan terperosok di salah satu stand yang ada di situ, jadi bisa saya jepret dan saya upload di istagram saya….Semoga!

Ambil nafas sebentar, siapkan kamera, masukkan ke dalam tas, pakai jaket, pakai topi, langsung jalan ke TKP yang memang lokasinya tak jauh dari kantor dimana saya ber”singgasana”. 


Tak sampai dua menit jalan kaki, sampailah saya di “The Jakarta Fair” yang kesohor itu. Bukan main ramainya! Segala macam bentuk manusia seakan “tumplek blek” di sini. 



Ada yang model “maniak belanja”, dengan berbagai macam jinjingan menggantung di tangan, lengan, bahkan sampai leher! Wuihhhh…!! Ada juga yang model “Miss Universe”, dengan dandanan yang super “bling-bling” yang mungkin memantulkan 95 persen cahaya matahari, bikin silau mata orang yang berpapasan dengan “mahluk ini”, dan langsung  buta sesaat, terus kejedot tiang stand yang emang jumlahnya banyak…….Atau minimal, tabrakan dengan pengunjung lain! Hehehehe…

Ada juga orang tua yang panik karena anaknya hilang di tengah keramaian, atau anak yang kehilangan orang tuanya, terus panik dan nangis melolong-lolong, walaupun, biasanya tak lama kemudian, si orang tua datang menjemput dengan tampang yang tak kalah paniknya!....

Wah….pokoknya, bermacam suasana ada di sini!

Dan yang model fotografer, ternyata juga banyak banget, bejibun malah! Dengan segala atribut “perang” super dahsyat dan terkini! Dari tripod yang harganya setara dengan kamera saya, dan kamera yang harganya setara dengan gaji saya setahun.....hahahahaha.... Jadi bikin ciut nyali saya, yang statusnya masih “fotografer” pemula yang abal-abal, yang gearnya hanya sebatas kamera DSLR “Low Cost” tanpa embel-embel blitz ataupun tripod dan sebagainya. Wahhhh!!! Sempet saya merasa minder kala saya memotret “bidadari-bidadari” stand yang memang banyak di tempat ini! Untunglah, rupanya banyak juga fotografer yang ternyata satu kasta dengan saya, jadi tak terlalu minder deh. Minimal, agak saru sedikit dan tak terlalu mencolok mata!


Ya sudah, saya putuskan untuk terus hunting potret, keliling-keliling, sambil jepret sana, jepret sini. Setiap “target” yang menarik, langsung saya jepret tanpa malu-malu. Mulai dari SPG yang make-up nya meleleh karena puanasnya mentereng abis, atau SPG yang dengan semangat menggebu-gebu berteriak kepada setiap orang yang lewat..’minumnya kakak! Murah, lima ribu dua kakak….Ayo dibeli kakak’, atau teriak ‘rokoknya kakak! Dapat gratis korek dan hadiah door prizenya kakak’....dan macam-macam teriakan lainnya, yang intinya, setengah memaksa pengunjung untuk membeli produknya.  

Atau memotret orang-orang yang sedang duduk, ketawa, bengong, sampai pada emak-emak yang tampangnya super panik karena bingung harus belanja apa lagi. Pokoknya, apa yang buat saya menarik, semua saya jepret! 


Setelah betis ini mulai kaku dan keras macam pokok kayu, saya putuskan untuk mampir ke stand kopi yang memang banyak di sini. Duduk manis, pesan kopi segelas, kopi datang, seruput sedikit, sundut rokok, dan mulai menikmati asap rokok dan kopi, sambil melihat perolehan jepretan saya dan sesekali menikmati suasana “hiruk pikuk” yang semakin “luar biasa” menjelang malam.

Tak lama setelah itu, masuklah sekelompok anak muda, dengan perlengkapan fotografi yang juga sangat “lengkap bin mahal” dan mereka duduk di samping saya. Sama seperti saya, rupanya mereka habis jepret sana-sini dan memutuskan untuk beristirahat, sambil melihat-lihat hasil perolehan foto mereka. Awalnya saya tak terlalu peduli, tetapi, karena volume suara obrolan mereka dipasang mentok pol dan lumayan keras dan kebetulan juga mereka duduk di samping saya, alhasil, mau tak mau, saya jadi curi-curi dengar obrolan mereka,

‘bro, yang SPG di motor K*M udah lu foto bro?’ (sengaja saya sensor nama merk yang diomongkan mereka, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan....hehehehe) tanya salah satu dari mereka yang punya potongan model artis korea,

‘Udah dong, bukan cuma foto doang, WA nya juga gw dapet bray’ jawab temannya yang punya style fotografer, sambil ketawa ngakak, ‘pokoknya, bisa langsung di follow up deh!’, timpalnya lagi.

(sampai disini, kopi saya sudah habis, tetapi, karena pembicaraanya kelihatannya menjurus ke arah yang “menarik”, saya pesan lagi kopi, satu gelas kopi lagi, supaya cukup alasan untuk saya dapat duduk berlama-lama di sini dan meneruskan curi-curi dengar lagi!)

‘Mantab bray, tapi, sialan juga lu, gw juga udah incer itu SPG, malah elu yang nyamber duluan’ sahut salah satu teman yang duduk paling pinggir, sambil asyik melihat layar LCD kameranya. ‘Itu cewe pasti tertarik ame lu, soalnya lu disangka seniman ame tu cewe’, imbuhnya lagi.

‘Seniman? Sorry bray, gw fotografer, bukan seniman, elu itu yang seniman ga jelas’ balas si fotografer dengan nada sedikit sengit, ‘liat kamera gw lah, mana ada seniman pake kamera kaya gini?’ sambungnya lagi, seakan masih tak terima dengan tuduhan dari temannya, yang men”cap” nya sebagai seniman.

Kaget juga saya dengar kata-kata itu, saking kagetnya, saya teguk kopi macam saya teguk air putih, langsung habis, tandas! Dengan sangat terpaksa, saya pesan lagi kopi dalam porsi besar, supaya saya bisa berlama-lama untuk kembali curi-curi dengar topik yang semakin menarik ini. 

Si “Fotografer” tadi lalu menyambung kalimatnya, sambil sedikit memberi nasehat kepada kawan-kawannya. “Kalau mau serius di fotografi, jangan tanggung-tanggung, beli kamera yang bagus sekalian, kaya kamera gw yang ini, kualitasnya bagus, harganya juga lumayan murah, Cuma dua puluh lima juta, tambah lensa yang prime punya yang harganya lima belas juta, dijamin, hasil foto lu bakal keren!”

“Lah, murah juga harganya, Cuma dua puluh lima juta,” timpal kawannya dengan mimik wajah setengah serius, sekedar menyambut omongan saja. 

Buset dah, saya jadi kepengen marah, masa dua puluh lima juta dianggap lumayan murah?

“Kalo emang niat jadi fotografer, lu harusnya beli Ca*on EOS 5D yang mark IV dong, tambah gear dan tripod, paling sekitar enam puluh lima juta,” sahut temannya yang kurus jangkung sambil nyeruput kopinya....sedikit sekali. 

“Tadinya gw mau ambil yang 1D X Mark II,” sambung si”fotografer” tadi, “Cuma lensanya masih indent, jadi gw alihin ke kamera ini, padahal gw udah siapin budget delapan puluh juta, gw males kalo kelamaan nunggu,” sambil ketawa lepas. 

“Lho, bukannya kamera lu dulu itu ni*on D7200,” teman yang model korea itu balik tanya ke si “fotografer”

“Ah, kamera jelek tuh, apaan, susah banget buat fokusnya, gw cuma pake sebulan doang, abis itu gw lego ke kawan gw, dia cuma berani bayarin lima juta, ya gw lepas aja,”

“Gebleg lu, itu kamera harganya lima belas juta, kenapa lu lepas Cuma lima juta?” sambung si Korea dengan intonasi kaget beneran.

“itu kamera ga oke bos kyu, lu ga bakal dapet foto bagus pake kamera itu, mending lu pake yang mahal sekalian, tapi hasilnya bagus, daripada lu pake yang murah kaya kamera gw tadi. Kalo mau jadi fotografer, jangan nanggung-nanggung mas bro, kecuali lu mau jadi seniman, boleh aja lu pake kamera ebreg alias kacrut, tapi kalo lu mau jadi fotografer, ya lu kudu all out bos, pake gear yang emang bisa lu andelin, jangan yang abal-abal!” Sambung si fotografer dengan nada sedikit menggurui. 

“Emang seniman itu apaan sih cuy?,” tanya perempuan yang duduk persis di depan sang “fotografer”, yang sedari awal kayanya lebih banyak foto selfie ketimbang bernafas…hehehehe…rupanya ini cewek lebih mencintai tampangnya sendiri daripada apapun di dunia ini.

Sampai disini, saya harus pesan kopi lagi, tanpa terasa, sudah lima gelas kopi saya minum, dan rokok yang saya hisap ini, adalah batang pertama dari bungkus kedua, karena tanpa terasa, satu bungkus rokok sudah beres....Habis!

Si fotografer kelihatannya shock berat dengan pertanyaan temannya yang hobby selfie tadi, tapi layaknya seorang yang memang “maestro” dalam hal-hal tertentu (maksudnya, maestro dalam membual dan ngebohong), pertanyaan seperti ini pasti bukan hal yang berat untuknya.

“Seniman itu, ya seniman, masa lu kagak paham,” jawab si fotografer dengan nada enteng dan sambil nyeruput kopinya dengan santai, (sampai disini, saya merasa sangat “kagum” dengan “gerombolan” fotografer ini, bukan cuma karena pembicaraannya atau peralatan fotografinya, ataupun gaya mereka, tetapi “kagum” saya timbul, karena mereka bisa betah duduk dua jam lebih, dengan hanya minum segelas kopi saja tiap-tiap orang, itu pun masih sisa setengah, alias tak habis-habis…hehehehe)

“Ah…..Katro, kaga bisa jawab kan lu, seniman itu apaan emangnya? Kok lu bisa bilang kalo fotografer itu bukan seniman?” cecar si cewek selfie itu sambil terus ber”selfie” ria, mungkin sudah ratusan foto selfienya saat itu. 

“Ya, kalo fotografer itu kan udah jelas, kaya gw, punya foto-foto bagus, punya gear bagus, itu namanya fotografer,” jawab si “fotografer” sambil menyeruput lagi kopinya….benar-benar sedikit sekali nyeruputnya!

Melihat si fotografer itu menyeruput kopi lagi, saya jadi terbawa suasana, dan ikutan menyeruput kopi….Astaga! Kopi saya habis! Ini sudah gelas ke enam, padahal kopi saya itu gelas besar! Duh, terpaksa saya pesan lagi kopi, kali ini saya pesan dua gelas besar, supaya tak bolak-balik ke meja kasir untuk pesan kopi, takut bangku saya yang sangat “berharga” itu hilang, ditempati oleh orang lain! Bisa hilang kesempatan saya curi-curi dengar pembicaraan yang sangat “super” itu.


Tetapi, rupanya, setelah saya pesan kopi, dan hendak kembali ke tempat duduk saya tadi,  tempat saya itu sudah ditempati oleh sepasang anak manusia yang sepertinya sepasang kekasih, kelihatan sekali dari cara mereka berbicara dan memandang satu sama lain. Ada yang berbeda, ada satu kedekatan yang sulit untuk dijelaskan, tetapi sangat mudah dimengerti bila kita melihatnya. 

Saya tak enak hati kalau harus mengusir mereka, atau mengintimidasi mereka supaya cepat-cepat pergi meninggalkan kursi itu. Jadi saya putuskan untuk pindah posisi, duduk di tepi teras kedai kopi itu, sambil menikmati gelas ke tujuh dan ke delapan yang sudah ada di tangan saya ini. Kebetulan sekali teras ini ada di lantai dua bangunan kedai, jadi, pemandangan lalu-lalang pengunjung Jakarta Fair, bisa leluasa saya nikmati.


Senin, 02 Juli 2018

ALIRAN FOTOGRAFI-FOTOGRAFI ABSTRAK



Kemayoran, Jakarta, Senin, 2 Juli 2018

Selamat hari Senin sobat jepret semuanya, apa kabar sobat hari ini?

Nah, kembali pada artikel yang ber"aroma" fotografi, kali yang akan saya ulas adalah tentang satu aliran fotografi, yang rasa-rasanya, tidak banyak fotografer yang mau terjun dan menekuni genre atawe aliran yang satu ini, yaitu aliran fotografi yang bernama "Fotografi Abstrak".

"Wahhhhhhh..."!

"Apa lagi nih? Apa benar ada aliran fotografi, yang namanya fotografi abstrak?"

Tenang sob, sebenarnya aliran fotografi ini tidak lebih "seram" dibandingkan aliran fotografi yang lain, tidak lebih "mengerikan" ketimbang Human Interest, atau Street, atau yang lainnya, cuma saja, aliran ini hanya lebih "rumit" dan lebih bias lagi pengertiannya.

Apa pasal kok lebih rumit? 

Penjelasan sederhananya seperti ini sob, kalau dalam aliran fotografi yang lain, sebagian besar penikmat foto, akan memiliki sudut pandang yang sama dengan si fotografer, tentang suatu obyek dalam foto. 


Nah, kalau dalam aliran fotografi abstrak, lain lagi sob, dalam fotografi abstrak, mayoritas penikmat foto justru akan memiliki sudut pandang yang berbeda dengan si fotografer dalam melihat suatu obyek dalam foto. Secara garis besar, fotografi abstrak juga dapat disebut sebagai aliran fotografi "pemuja komposisi". Dimana suatu obyek, ditangkap dan dijabarkan dalam frame secara "bebas", dengan unsur utama yang paling menonjol adalah komposisinya. Terkadang, aliran ini menabrak berbagai aturan dasar dalam fotografi, seperti rule of third, aturan segi empat, dan lain-lain.

Udah jelas kan bedanya? Jadi, aliran ini bukan hanya berbeda dalam hal perspektif obyeknya, cara pengambilan fotonya, tetapi, bahkan perspektifnya dalam mengartikan si obyek juga berbeda.

Gimana? Mudeng ga? (mudeng itu bahasa jawa, yang artinya adalah: "ngerti").


Kalau sobat jepret sekalian masih belum mengerti juga, Sobat Jepret ga usah deg-deg-an dan khawatir. Tenang aja sob, karena Sobat ga sendirian, saya juga tidak ngerti sama sekali tentang aliran fotografi abstrak ini. Tetapi, itulah keindahan dari era keterbukaan saat ini, terutama keterbukaan dalam hal informasi. Supaya sobat dan saya sama-sama bisa paham dan mengerti, ada baiknya saya sertakan penjelasan yang sangat "super" tentang aliran fotografi abstrak ini, dari sang ahlinya langsung.

Berikut ini, kan dijabarkan secara panjang lebar, tentang aliran fotografi abstrak, demikian penjelasannya sob (disadur dari https://formaxmanroe.com/threads/mengenal-fotografi-abstrak.744/, naskah asli adalah tulisan dari Alexanderkus, Aug 8, 2015 :


Fotografi Abstrak


Sudah berapa jenis fotografi yang sudah Anda pelajari dan Anda pahami? Mungkin sudah banyak yah mulai dari modeling, street fotografi, fotografi studio, still life, pernikahan, landscape dan lain sebagainya. Tetapi pernahkah Anda mendengar tentang fotografi abstrak? Apalagi ini? Apakah sebuah jenis fotografi baru? Tentu saja bukan, fotografi abstrak sudah dikenal sejak jaman ‘bahuela’. Jika Anda membuka pada Google Images dengan keyword fotografi ‘abstrak’, dipastikan Anda tidak akan menemukan foto-foto pemandangan gunung atau pantai, Anda tidak akan menemukan model cantik yang berpose seksi atau anak-anak yang berlarian. Fotografi abstrak justru akan dianggap sebagai foto yang rumit dilihat dengan berbagai bentuk benda, garis, dan segala komposisinya. Apakah ini sama dengan still life? 

Memang hampir sama karena still life dan abstrak jarang memasukan objek benda hidup. Tetapi fotografi abstrak lebih menonjolkan sebuah perpaduan antara garis, bentuk benda, tekstur dan komposisi ketimbang hanya menonjolkan sebuah objek utama.


- Inti dan definisi fotografi abstrak

Fotografi abstrak cenderung menghasilkan foto-foto yang dianggap sangat dramatis, misterius dan sedikit ribet dilihat. Fotografer abstrak memang sengaja mengangkat bentuk, warna, dan lekuk sebuah objek ketimbang hanya menonjolkan atau memperlihatkan detil sebuah objek. Jadi bisa disimpulkan bahwa fotografi abstrak memang tidak menampilkan objek secara jelas, namun hanya menyampaikan ide melalui bentuk, warna, dan lekuk yang dibentuk dengan komposisi sesuai selera fotografer. Banyak para seniman menganggap bahwa fotografi abstrak mencoba menkomunikasikan kepada orang yang melihat (umumnya melalui emosi), bukan melalui logikanya. Sebuah genre yang sederhana namun sangat rumit dipahami.


- Objek fotografi abstrak

Berbicara tentang fotografi abstrak, ternyata akhirnya menimbulkan pertanyaan bagi banyak fotografer pemula. Apa objek foto abstrak? Jawabannya padahal sangat sederhana, yakni semua benda. Fotografi abstrak tidak ada batasnya, semua benda yang ada di jagat raya bisa menjadi objek fotografi abstrak mulai dari rantai, dedaunan, alat elektronik, pensil, kipas angin, pagar, dan semuanya. Justru yang seharusnya menjadi pertanyaan bukanlah apa objeknya, melainkan bagaimana sebuah objek difoto agar menjadi abstrak. Jika sudah membahas soal bagaimana membuat foto abstrak pada akhirnya akan berurusan pada otak sang fotografer itu sendiri. Ide, imajinasi dan penataan objek menjadi hal yang penting. Sebagai contoh ada sekitar puluhan pensil yang ada, sang fotografer kemudian menata puluhan pensil itu secara sejajar dan bedempetan. Tatanan pensil-pensil tersebut kemudian di foto dengan komposisi membentuk haris vertical secara close-up. Hasil foto yang demikian sebenarnya sudah cukup layak disebut sebagai fotografi abstrak.


Seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa fotografi asbtrak tidak ada batasnya. Anda bisa mengatur objek dengan komposisi vertical, horizontal, melingkar, membentuk garis segitiga, segiempat, simetris sampai membentuk komposisi yang mungkin sama sekali tidak beraturan.


Apakah tips untuk membuat foto abstrak? Rasanya sulit untuk memberikan tips untuk genre fotografi ini karena foto abstrak bukan merupakan foto yang baku melainkan hanya bisa dirasakan dengan emosi. Mungkin hanya sebagai panduan bagi pemula dapat memotret abstrak dengan menghasilkan komposisi lebih nyaman lewat garis panduan yang tegas seperti vertical, horizontal, silang, dan rumus rule of third juga dapat digunakan dalam teknik foto abstrak. Terkadang Anda juga harus sedikit lebih mendekat dengan objek untuk menghilangkan elemen objek yang tidak perlu. Selamat mencoba dan terus berlatih.

Nah sobat, demikianlah penjelasan dari sang ahli, tentang apa itu fotografi abstrak. memang rumit kan? tapi, justru kerumitan itu yang membuat aliran fotografi abstrak ini menjadi sedemikian menarik. Tidak ada lagi batasan-batasan yang kaku yang membatasi kreativitas sang fotografer. Semua mengalir dan menyatu ke dalam imajinasi, dan sang fotografer juga diberikan kebebasan penuh (bahkan imajinasi yang paling liar sekalipun), untuk mewujudkan foto dalam koridor fotografi abstrak.

Akhir kata, semoga tulisan ini mampu menjadi rujukan yang "membingungkan", dan semakin menambah penderitaan sobat-sobat jepret sekalian. 

Hehehehehe, becanda sob, jangan diambil serius. Pastinya penjabaran dari "sang maestro" fotografi tadi, dapat memberi pencerahan bagi kita semua (semoga)!

Akhir kata, Salam jepret selalu.

Artikel ini diadaptasi dan ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photos

Rabu, 13 Juni 2018

SPOT FOTOGRAFI-MUSEUM SATRIA MANDALA (WISMA YASOO) SATU SEJARAH KELAM TENTANG SAAT-SAAT TERAKHIR PROKLAMATOR & PRESIDEN PERTAMA REPUBLIK INDONESIA - IR. SOEKARNO



Kemayoran, Jakarta, Rabu, 13 Juni 2018

Pk. 01.30 Waktu Indonesia Barat, dan saya masih belum bisa tidur!

Selamat pagi, siang, sore dan malam untuk kalian, para sahabatku. Apa kabar sobat jepret  hari ini? Semoga semburat cahaya sang mentari  tersenyum kepada kalian, seperti halnya ia mensaputkan kelembutan cintanya pada langit sore hari, menghembuskan dengan lembut, selarik kebahagiaan ke dalam relung kalbu, mengusap lembut jiwa kita, mendekap kita dalam kehangatan cintanya, dan membisikkan sejuta “bahagia”, kedalam setiap mili dari ceruk hati kita.

Agak puitiskan? Hahahaha….bukan sobat, ini bukan berarti blog ini berbelok menjadi blog yang sifatnya “mendayu-dayu”, hahahaha…sama sekali bukan! Hanya saja, efek dari kopi yang  luar biasa, telah membuat mata ini jadi seperti pintu angkot usang, terus terbuka dan tak mau menutup! Efeknya? Ya efeknya seperti tulisan saya di atas, saya jadi berlagak puitis, macam anak SMU yang terpesona dengan guratan pena  Khalil Gibran! 

Duh, ngeri sekali bukan? Ya sudahlah, daripada blog yang sudah susah payah saya buat ini jadi bubar (hanya karena saya jadi “pujangga dadakan”), lebih baik saya menulis tentang hal yang “ber-atmosfer” fotografi saja ya sob!

Nah, kali ini saya akan membahas tentang satu spot fotografi, yang sebenarnya sangat unik, tetapi ternyata, kurang begitu menarik perhatian penggemar dan juga komunitas fotografi di Jakarta. Spot tersebut adalah  “Museum Satria Mandala". 


Padahal, kalau boleh jujur, museum Satria Mandala ini menawarkan banyak sekali kelebihan yang berbeda dibanding dengan spot lain. Salah satu contoh adalah suasananya. Museum ini tidak terlalu ramai, sehingga dijamin, konsentrasi saat sobat-sobat jepret memotret atau "beraksi", tak akan terganggu oleh lalu lalang pengunjung. 


Kemudian ada obyek-obyek yang sangat menarik (dengan nuansa militer tentunya!) yang sangat cocok dijadikan obyek utama (still life fotografi, ataupun fotografi obyek), ataupun dijadikan latar belakang (background) foto. Belum lagi, kalau sobat memang tertarik dengan dunia militer dan fotografi, waduh, bisa di mix tuh sob, dan spot ini, adalah tempat yang sangat tepat untuk itu!


Iya sob, spot itu memang museum dalam arti kata yang sebenarnya. Tetapi, berbeda dengan museum lainnya, dalam museum Satria Mandala ini, yang dipamerkan adalah segala hal yang berbau militer, seperti senjata, pesawat, seragam, kapal perang, juga berbagai kejadian sejarah yang berkaitan dengan kegiatan militer.
   

Tetapi, tak banyak yang mengetahui, bahwasanya, museum ini menyimpan satu kisah yang sangat tragis dan kelam. Kisah dimana Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Sukarno, menghabiskan masa-masa terakhir dalam hidupnya dalam kesepian, kesendirian, dipenjara dan diasingkan sampai ajal menjemput, justru oleh orang-orang dari bangsanya sendiri.


Memang Ironis, Presiden yang sekaligus Proklamator Republik Indonesia, diperlakukan sedemikian menyedihkan, bahkan hingga saat ajalnya, tak ada keistimewaan dan penghargaan yang diberikan kepada beliau.

Saya tidak akan bertutur panjang lebar, karena kapasitas saya yang memang sangat lemah dalam mewartakan tentang artikel ini. Untuk itu, saya akan menyadur dari salah satu sumber yang dapat dipercaya. So, tanpa panjang lebar, berikut kisahnya:


Museum Satria Mandala adalah museum sejarah perjuangan Tentara Nasional Indonesia yang terletak di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Museum yang diresmikan pada tahun 1972 oleh mantan Presiden Indonesia, Soeharto ini awalnya adalah rumah dari salah satu istri mantan Presiden Indonesia, Soekarno, yaitu istrinya yang bernama Ratna Sari Dewi Soekarno. Dalam museum ini dapat ditemui berbagai koleksi peralatan perang di Indonesia, dari masa lampau sampai modern seperti koleksi ranjau, rudal, torpedo, tank, meriambahkan helikopter dan pesawat terbang (satu di antaranya adalah pesawat Cureng yang pernah diterbangkan oleh Marsekal Udara Agustinus Adisucipto).

Selain itu museum ini juga menyimpan berbagai berbagai benda bersejarah yang berkaitan dengan TNI seperti aneka senjata berat maupun ringan, atribut ketentaraan, panji-panji dan lambang-lambang di lingkungan TNI. Selain itu di museum ini dipamerkan juga tandu yang dipergunakan untuk mengusung Panglima Besar Jenderal Soedirman saat dia bergerilya dalam keadaan sakit melawan pendudukan kembali Belanda pada era 1940-an.

Masih dalam kompleks Museum TNI Satriamandala ini terdapat juga Museum Waspada Purbawisesa yang menampilkan diorama ketika TNI bersama-sama dengan rakyat menumpas gerombolan separatis DI/TII di Jawa Barat, Jawa Tengah, Aceh, Kalimantan Selatan danSulawesi Selatan pada ear tahun 1960-an. Fasilitas lainnya yang ada di Museum TNI Satriamandala ini antara lain adalah Taman Bacaan Anak, Kios Cenderamata, Kantin serta Gedung Serbaguna yang berkapasitas 600 kursi.

Dan berikut ini adalah satu versi yang memuat tentang kisah tragis, saat-saat terakhir dari Presiden Republik Indonesia yang pertama, Ir. Sukarno. Satu kisah menyedihkan yang seharusnya diketahui oleh generasi muda penerus bangsa, betapa elit bangsa ini, sama sekali tak menghargai pahlawan-pahlawannya.


Bangunan yang terletak di Jalan Gatot Subroto Nomor 14 Jakarta, itu masih kokoh berdiri. Bangunan ini kini digunakan sebagai Museum Satria Mandala milik TNI. Mulai dari halaman depan hingga bagian belakang dan dalam gedung penuh berisi benda-benda berbau militer.

Masuk ke dalam ruang utama, dua bilah pintu dengan tinggi mencapai 2 meter dan lebar masing-masing sekitar 1,25 meter menyambut setiap orang. Tak sembarangan, pintu itu terbuat dari kayu jadi yang dipenuhi ukiran baik di bagian luar maupun dalam.

Usai melewati pintu utama, sebuah replika teks proklamasi yang memenuhi hampir dua pertiga dinding dengan tinggi sekitar 3 meter langsung menyambut mata. Namun demikian, tak banyak benda yang identik dengan Soekarno maupun Dewi terpampang di situ. 

Jika dapat disebut komplek rumah, maka Wisma Yasoo terbagi menjadi beberapa gedung yang tersambung menjadi satu kesatuan. Komplek itu dapat disusuri searah jarum jam, mulai dari pintu utama, kita harus menghadap ke kiri, kemudian lanjut berjalan hingga ujung.

Sesampai di ujung gedung utama, orang diharuskan berbelok ke kanan dan menemukan ruangan yang luas dengan berbagai pajangan bintang jasa. Mungkin akan sedikit bingung jika berada di ruang itu, karena tidak ada akses sama sekali untuk berpindah ke ruangan lain. 

Tetapi, jika teliti, di sana terdapat sebuah tangga yang menghubungkan ruang di bawah yang kini berfungsi sebagai ruang penyimpanan senjata. Saat di dalam pun, hanya ada satu akses, yakni sebuah pintu yang akan menghubungkan dengan halaman belakang gedung utama.

Pada halaman belakang itu, suasana nyaman sangat terasa. Di sana terdapat sebuah kolam ikan berukuran besar, yang dinaungi pohon-pohon rimbun. Tempat yang nyaman untuk menghabiskan waktu luang dengan bersantai. 

Di luar gedung utama, terdapat sebuah gedung dua lantai yang kini berfungsi sebagai ruang diorama. Tetapi, kondisi lantai 1 gedung itu tidak dapat dijamah lantaran rusak akibat banjir besar sekitar tahun 2007 yang melanda Jakarta.

Hampir tak ada jejak Soekarno di sana. Padahal dulu, bangunan ini bernama Wisma Yasoo. Soekarno membangun wisma ini untuk sang istri kelima Naoko Nemoto, yang kemudian diberi nama Ratna Sari Dewi.

"Ini dulu rumahnya Soekarno waktu masih jadi presiden," ujar salah satu karyawan Museum, Dedi Kurniadi (35) saat berbincang dengan merdeka.com di sela aktivitasnya merawat rumput di Wisma Yasoo, Rabu (19/6).

Wisma Yasoo memang dibangun oleh Soekarno untuk beristirahat melepas lelas usai menjalankan tugas sebagai kepala negara. Di rumah itu, Soekarno memadu kasih dengan Dewi, hingga istrinya itu mengandung seorang anak yang dikenal dengan nama Kartika Sari Dewi.

Namun, bayangan kesenangan yang dulu diidamkan Soekarno akhirnya hilang seketika, saat rezim pemerintahan dipegang oleh Soeharto.Situasi semakin buruk sehingga Soekarno akhirnya meminta Dewi melahirkan ke luar negeri. Dia takut terjadi apa-apa pada keluarganya.

Wisma itu pun akhirnya kosong. Soeharto memanfaatkannya untuk menahan Soekarno di tempat itu. Mengasingkannya dari dunia luar. Alat sadap dipasang hampir di setiap sudut Wisma. Penjaga menempel Soekarno dengan ketat. 

Soekarno juga tidak ditempatkan di gedung utama. Dia harus mendekam di sebuah ruangan pengap di berukuran 10x15 meter. Gedung itu diberi nama Makita Loka, yang kini berfungsi sebagai ruang Kepala Museum.

"Ditahannya di ruang Kepala Museum. Di sana ada kamar mandinya," kata Dedi.

Ruang itu hanya bisa diakses melalui halaman belakang komplek rumah. Tidak ada jendela maupun saluran udara di ruangan itu. Hanya terdapat satu pintu sebagai jalur akses keluar masuk ruangan. 

Di ruang inilah Soekarno menjalani hidup sebagai tahanan politik tanpa proses peradilan. Rezim Soeharto pun tidak memberikan celah bagi Soekarno untuk sekedar mendapat informasi perkembangan ibu kota bahkan Indonesia. 

Kondisi itu membuat Soekarno tertekan dan semakin melemahkan kesehatannya yang mengidap komplikasi penyakit salah satunya ginjal. Penyakit itu kian parah sehingga harus dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto. Tetapi, langkah itu tidak memberikan hasil hingga akhirnya Soekarno menghembuskan nafas terakhir pada Minggu, 21 Juni 1970.

Jenazah Soekarno sempat disemayamkan di Wisma Yasoo sebelum dimakamkan. Saat tiba di rumah itu, setelah jenazah dimuliasara, banyak orang datang untuk melepas kepergian Soekarno untuk terakhir kalinya.

Hanya ada satu kata yang mampu mewakili kisah Soekarno , 'ironis'. Ir. Soekarno harus menjalani saat-saat terakhir hidupnya, dalam siksaan....oleh bangsanya sendiri!

Demikian sob, sekelumit kisah tentang Museum Satria Mandala.
Oh ya, untuk melengkapi artikel ini, ada baiknya saya sertakan beberapa foto yang saya ambil di museum tersebut. 

















Senin, 04 Juni 2018

TIPS FOTOGRAFI - MENJALIN KEAKRABAN KETIKA MEMOTRET MANUSIA



Kemayoran, Jakarta, Senin, Mei - Juni  2018

(sengaja saya tidak menulis tanggal, karena ini adalah artikel yang terlambat saya upload, mohon dimaafkan-pen)

Bulan Mei-Juni  tahun 2018 ini, mungkin jadi bulan berkah tersendiri bagi sebagian orang (seperti saya, heheheheh). 

Berkah?....Kok bisa? Kenapa?

Ya berkah lah! Coba sobat jepret lihat kalender, bulan Mei-Juni 2018 tidak mulus hitam atau biru semua, tapi celemongan, alias banyak tanggal merahnya.....Horeeee!!!!!

Ya....Horeeee! Soalnya, banyak hari libur, berarti banyak waktu luang untuk menjalani hobby sobat masing-masing. Yang hobby mancing, bisa langsung nyiapin joran dan umpan, yang hobby tidur, bisa langsung disiapin selimut plus bantal, dan yang hobby bengong.....ya udah...bengong aja!

Nah, khusus untuk saya, banyak libur, berarti banyak waktu untuk menjalani kegiatan yang untuk saya, sangatlah menyenangkan! Motret dan juga menulis, wah.....sudah terbayang kenikmatan di depan mata, menjalani kegiatan tersebut, ditemani oleh dua rekan karib saya, "mbak" kopi dan "mas" rokok!

Pemusik Tradisional Korea
Stand Makanan Korea-Jakarta Fair 2018

Memang sob, akhir-akhir ini, saya semakin menikmati kedua kegiatan tersebut, ditengah hingar-bingar keramaian akibat dari iklim atau suhu politik saat ini, yang masih diperparah dengan nilai tukar Rupiah yang terus menerus "mengalah" terhadap Dollar, yang efeknya juga ngawur...sampe harga cabai juga ikut naik! Hingar bingarnya kondisi,  yang disadari atau tidak, mulai mempengaruhi perilaku setiap orang dan ikut-ikutan menjadi "heboh" dan panik dadakan plus extra latah.

Benar sob, saya jadi semakin menikmati dua kegiatan ini, menulis dan memotret.

Tiga anak bermain di dekat alat berat
Bintaro-Jakarta 2016

Dan artikel kali ini, sengaja saya tulis untuk menanggapi pertanyaan dari kawan, tentang aliran fotografi yang akhir-akhir ini saya "gila-gilai". Pertanyaannya begini:

"Bro, kok sekarang lu hobby nyetreet sih? (maksudnya hobby motret dengan tema street Photography-pen), udah ga mau lagi moto model?"

Dan sayangnya, saya tak sempat menjawab pertanyaan sobat saya itu, entah karena apa...Mungkin sibuk, mungkin lupa, atau mungkin juga karena tak ada kuota (nah, kayanya yang ini bener nih, tak ada kuota!).

Dua Sahabat di warung kopi
Kebayoran lama-Jakarta 2017

Dan karena itu pula, artikel kali ini akan saya "persembahkan" sebagai jawaban dari pertanyaan sobat saya itu, (sekaligus menebus perasaan bersalah karena tak jua menjawab pertanyaan dia!)

Iya, memang akhir-akhir ini, saya cenderung untuk menyukai "Street Photography". Bukan tanpa sebab, saya menyukai Street, bagi saya pribadi, Street Photography memberikan saya kebebasan penuh dalam  hal waktu, tempat, background, dan lain-lain. Juga memberikan keleluasaan untuk memilih tema dari foto yang saya ambil. Saya tak harus memikirkan dan mempersiapkan tema  foto jauh-jauh hari, semuanya sifatnya spontan, tidak kaku, tidak "monoton". Itu kalau saya beralasan dari perspektif dari sisi waktu dan keistimewaan, dan sangat cocok untuk saya, yang jelas-jelas "bukan fotografer".

Lalu, dimana letak "kenikmatan gaya lain" dari Street fotografi itu sebenarnya?

Ternyata, jawabannya sangat sederhana: "Keakraban dengan sang obyek foto!"

Bener sob, ternyata selama ini, saya terlanjur mematok standar tertentu untuk fotografi jalanan, haruslah candid 100%, alias foto sembunyi, sembunyi, tanpa diketahui oleh si obyek foto. Tetapi, ternyata, aturan tersebut tidak dapat diterapkan "plek" untuk seluruh kasus. 

Adakalanya, ketika saya berhasil menjalin komunikasi dengan si obyek foto, dan meminta supaya si obyek foto mau untuk saya foto  (dengan sopan, halus, dan sedikit meng-iba2 tentunya!), foto yang saya hasilkan, ternyata memiliki keunikan lain. Ada suasana keakraban dalam foto itu, ada aura dimana saya merasa, saya berada dalam frame tersebut, dan ada kesan, seakan-akan, frame tersebut bukanlah satu frame dalam artian sebenarnya, melainkan lebih kepada “mata kepala” saya sendiri.


Dengan kata lain, ketika kita melihat foto yang dihasilkan dengan teknik ini, maka kita seakan-akan melihat kejadian dalam frame itu secara langsung, terlibat dan berinteraksi dengan si obyek foto secara nyata, secara “in person”.

Tentu saja, tidak selamanya, si obyek foto tersebut, mau untuk saya foto, bahkan beberapa kali, saya mengalami penolakan. Tetapi jumlah yang menolak ternyata sangat sedikit, lebih banyak yang bersedia untuk difoto dibanding dengan yang tidak. Dan satu hal lagi, mereka tersenyum! Sungguh sangat berlainan “nafasnya” dengan foto candid yang saya telah hasilkan selama ini.

Benar rupanya apa yang dikatakan oleh fotografer kondang “Deniek G. Sukarya” dalam bukunya “kumpulan tulisan fotografi”. 

Beliau menulis, (saya kutip): 

“Bagi saya, cara terbaik membuat foto-foto manusia, adalah dengan pendekatan pribadi yang tulus, melalui senyum, percakapan, dan interaksi lain untuk menciptakan keakraban dan rasa nyaman. Ketika merasa sudah diterima, barulah saya mengutarakan keinginan saya untuk membuat foto mereka.”

Begitulah sob, salah satu tips untuk memotret manusia.....” keakraban dengan sang obyek”! 

Tak ada salahnya untuk diterapkan, walaupun, tidak melulu harus selalu seperti itu! Terkadang, candid juga diperlukan untuk moment-moment tertentu yang memang tidak memungkinkan untuk memotret secara langsung. Tetapi, ketika ada moment yang memungkinkan, maka trik pendekatan keakraban, patut dan wajib untuk dicoba.

Dan berikut ini, adalah beberapa foto yang saya ambil, dengan cara pendekatan keakraban seperti yang sudah saya tulis. Sengaja saya meminta mereka untuk berpose sesuai dengan keinginan mereka sendiri, dan mereka telah memberikan pose yang menurut saya, sangat nyaman untuk mereka.

Catatan: Untuk rekan saya yang telah melontarkan pertanyaan: "Bro, kok sekarang lu hobby nyetreet sih? (maksudnya hobby motret dengan tema street fotografi-pen), udah ga mau lagi moto model?"...Semoga tulisan saya dalam artikel ini bisa sedikit banyak menjawab pertanyaan sobat!

Sukses selalu sobat, dan salam jepret!