Rabu, 27 November 2019

5 Cara Memotret Bunga Supaya Hasilnya Ciamik ! (Semoga......!)



Kemayoran, Jakarta, Rabu, 27 November 2019

Selamat berjumpa lagi ya sob. Apa kabarnya sobat-sobat semuanya? Moga-moga baik dan sehat selalu ya sob. 

Oh ya sob, artikel kali ini, saya mau coba untuk menulis, secara singkat aja sih, tentang cara memotret bunga supaya hasilnya bisa kelihatan ciamik alias layak disebut sebagai hasil foto bikinan fotografer.

“Bunga?, Lho, Kenapa harus bunga?”

“Lah, Memangnya kenapa dengan memotret bunga?” 

“Apakah salah dan hina jika memotret bunga?” 

“Apakah haram hukumnya, memotret bunga?”

Ya, tentu ga salah dong memotret bunga! Malah bunga itu adalah salah satu obyek foto yang boleh dibilang abadi. Juga termasuk obyek foto yang super kalem, super beraneka rupa, dan yang paling menarik dari bunga itu adalah…..mudah dapatnya!


Tapi, layaknya obyek foto yang lain, bunga termasuk obyek yang gampang-gampang susah untuk dipotret. Bukan karena bunga itu sok jual mahal, atau susah diatur, atau gampang ngambek, atau centil, atau banyak gaya, atau banyak maunya!

Bukan itu Sob!

Sama halnya kalau kita motret obyek lain, yang namanya memotret bunga, itu juga harus diperhatikan, supaya foto yang kita hasilkan, bukan foto asal jepret saja Sob. Nah, dibawah ini, akan saya coba paparkan dengan sepenuh jiwa raga, tentang gimana sih caranya memotret bunga yang (tidak) sesuai dengan kaidah perfotografian dunia?

Ada beberapa unsur dan elemen yang perlu Sobat perhatikan pada saat memotret obyek bunga tersebut. Nah, monggo disimak beberapa trik berikut ini ya Sob:


1. Cahaya

Apik tidaknya hasil foto bunga yang Sobat jepret, salah satunya bergantung pada elemen cahaya. Konon katanya, waktu yang paling indah dan paling cocok untuk memotret bunga adalah pada saat siang hari. Namun sebenarnya itu adalah waktu yang paling tidak direkomendasikan oleh para ahli dari BMKG (“nah lho, kok BMKG?”) karena cahaya matahari pada siang hari itu intesitasnya maksimal, sehingga bisa mengaburkan hasil foto dan membentuk bayangan. Belum lagi, sobat bisa over exposure dalam hal pencahayaan, alhasil, fotonya jadi ga bagus. 

Dus, secara siklusnya si bunga itu sendiri. Untuk sebagian besar bunga, siang hari adalah periode dimana si bunga lebih memilih untuk sedikit “melayukan” kelopaknya, sehingga tampilannya akan terkesan tidak fresh alias kucel. Tapi ini tidak berlaku untuk semua bunga ya Sob, tergantung jenisnya.

Jadi, supaya hasil fotonya bisa aman dan terkendali, sebaiknya Sobat memotret bunga pada saat pagi hari atau sore hari ketika cahaya matahari tidak terlalu cerah, agar hasil foto bunga yang Sobat ambil warnanya bias lebih ciamik.

Dan yang tak kalah pentingnya, kalau memotret pada saat pagi atau sore hari, Sobat bisa terbebas dari warna kulit yang kusam dan gelap akibat terpapar sinar matahari, untuk itu lotion ini akan sangat…….”Lah….kok malah ngelantur sih?”


2. Titik Fokus

Tentukan titik fokus obyek yang Sobat akan jepret, entah itu sekumpulan bunga berwarna-warni atau hanya setangkai bunga. Perhatikan bagian apa saja yang akan dimasukkan ke dalam frame Sobat. 

Perhatikan juga background atau foreground obyek, jangan sampai ada hal-hal yang mengganggu. Jika background ataupun foreground obyek dirasa tidak menarik, lebih baik mencari titik fokus yang lain.

Contohnya, pada saat Sobat akan memotret bunga, eh, tiba-tiba ada tukang es cendol, atau tukang bubur ayam yang menghalangi! 

Itu kan mengganggu banget, iya kan Sob? 

Kalau ketemu kasus seperti itu, gampang kok Sob. Sobat tinggal samperin itu tukang cendol atau bubur, pasang tampang melas dan sedih, sambil ngomong begini: “Bang, utang dulu, boleh ga Bang?”
Saya berani jamin, itu tukang cendol atawe bubur, langsung minggat deh!


3. Jangan sampai goyang

Kadangkala, secara tak sadar tangan sering goyang saat Anda tengah memotret. Atau malah seluruh badan kita yang goyang. Contohnya, pas lagi mau motret, tiba-tiba ada angin, atau malah ada Orkes Dangdut Keliling yang numpang pentas. Walhasil, foto yang kita jepret ada yang kabur. Ini wajar-wajar saja. Untuk itulah, disarankan Sobat minum tolak angin dan memakai tripod untuk mengurangi sindrom tangan bergoyang akibat angin, sehingga foto yang dihasilkan bisa terlihat lebih baik.

Tapi Sob, metode tolak angin dan tripod ini ternyata tidak mampu menyelesaikan masalah, kalau ternyata gangguan yang lewat itu Orkes Dangdut keliling alias Dorling! Percuma Sob!

Cara yang paling ampuh untuk mengatasi gangguan dari godaan Orkes Dangdut Keliling adalah; siapkan duit lima ribu perak, terus sobat bolehlah ikutlah joget dulu bangsa dua atau tiga lagu untuk memuaskan dahaga hati akan panggilan berjoget. 

Begitu Orkes Dangdut keliling alias Dorlingnya kelar, baru deh terusin motret lagi! (Ingat ya Sob, cukup joget dua atau tiga lagu saja! Jangan sampai jogetnya full satu album….itu mah kebangetan namanya! Mau motret apa mau joget? Jangan gitu lah, kalau mau motret itu harus konsekuen dan fokus dan….#*$###**?!@#@!#%$)


4. Sudut dan Jarak

Jangan memotret bunga hanya dari satu sisi saja. Disarankan untuk berputar mengelilingi bunga tersebut dan tidak hanya diam di satu tempat. Coba juga mengambil foto obyek tersebut dengan berbagai sudut ketinggian, baik dari atas, sama, atau lebih rendah dari obyek. Perhatikan pula jarak Sobat berdiri saat akan mengambil foto dengan obyek yang difoto. Jangan terlalu jauh, apalagi sampai beda kelurahan atau propinsi……Bisa gagal deh motretnya!


5. Libatkan Obyek Lain Dalam Frame

Sebuah foto akan terlihat lebih hidup jika kita bisa mengambil obyek tersebut dengan frame-frame yang unik. Jadi jangan hanya memotret bunganya saja, tapi cari cara yang unik untuk memotret bunga tersebut. Misalnya dengan melibatkan obyek lain yang ada di sekitarnya seperti ranting, serangga yang ada di bunga, harimau, atau ular, atau sekalian saja badak jawa bercula satu, dijamin bubar deh, ga jadi motret lagi!

Nah, itulah sob, lima trik, yang rasa-rasanya, tak perlu sobat terapkan, karena memang ngaco. Tapi, kalau sobat mau terapkan juga….Yah….Resiko tanggung sendiri ya sob!

Oh ya, kalau ada sobat yang masih belum mengetahui apa itu bunga, orkes dangdut keliling, dan lain sebagainya, Sobat bisa membaca deskripsinya di catatan di bawah ini. 

Akhir kata…..salam jepret untuk semua.


Catatan:

Orkes Dangdut Keliling adalah satu grup pengamen music dangdut atau Orkes dangdut yang pada saat keliling mengamennya menggunakan sarana gerobak dorong, atau yang lebih dikenal dengan sebutan dorling. Dalam gerobak dorong itu ada pengeras suara dan sebagainya. Biasanya mereka mengamen pada malam hari.

Bunga atau kembang (bahasa Latin: flos) adalah alat reproduksi seksual pada tumbuhan berbunga (divisio Magnoliophyta atau Angiospermae, "tumbuhan berbiji tertutup"). Pada bunga terdapat organ reproduksi, yaitu benang sari dan putik.

Tukang es cendol adalah penjaja atau penjual jajanan es cendol, biasanya berkeliling dengan gerobak, atau bisa juga mangkal di satu tempat (lha iya dong, terserah tukangnya juga kelez...ngapain situ ngatur-ngatur tukangnya buat keliling atau mangkal....).

Es Cendol adalah minuman khas Sunda yang dahulunya terbuat dari tepung hunkwe, namun kini cendol terbuat dari tepung beras, disajikan dengan es parut serta gula merah cair dan santan. Rasa minuman ini manis dan gurih.

Tukang bubur ayam adalah penjual atau penjaja sejenis jajanan atau penganan yang terdiri dari bubur nasi lengkap dengan lauk-pauknya. Biasanya keliling dengan gerobak, tapi banyak juga yang mangkal.

Bubur ayam adalah salah satu jenis makanan bubur dari Indonesia. Bubur nasi adalah beras yang dimasak dengan air yang banyak sehingga memiliki tekstur yang lembut dan berair. Bubur biasanya disajikan dalam suhu panas atau hangat. ... Selain sarapan, bubur ayam kerap menjadi pilihan hidangan hangat di tengah malam.

(Artikel ini terinspirasi dari artikel yang tayang di inet.detik.com dengan judul "5 Kunci Sukses Memotret Bunga Layaknya Fotografer". Artikel arisinilnya bisa dibaca di sini)



Selasa, 26 November 2019

Bagaimana cara memulai fotografi hitam putih? (Pertanyaan...ataukah mengingatkan?)



Kemayoran, Jakarta, Selasa, 26 November 2019

Malam hari disini, sudah menjelang Isya. 

Sebenarnya, pertanyaan ini sudah lama diajukan kepada saya…..Lama sekali! Tapi baru sempat saya tulis sekarang.

“Om, gimana sih caranya ambil foto hitam putih yang baek dan bener?” 

Duh….Tepok jidat nih saya kalau dapat pertanyaan seperti ini. Dia pikir si “fotografi” itu lagi sakit parah, atawe sakit gigi, atau si “fotografi” sedang terjerumus dalam perbuatan yang sesat?....kok dia pake tanya, fotografi yang “baek dan bener” itu gimana?....

Apa ini orang tak paham, sudah dua tahun ini saya tak lagi pegang kamera. Sudah dua tahun ini, saya punya kamera sudah saya bungkus dalam tas, masuk ke dalam rak, dan hanya jadi salah satu benda penghuni tempat terkutuk itu? Dan terlalu lama saya tak pegang kamera, sampai saya lupa, seperti apa bentuknya kamera, dan apa itu shutter dan lensa!

Gimana caranya saya jawab pertanyaan seperti itu? 

Bakalan beda cerita kalau pertanyaan sobat saya itu diajukan dua tahun kemarin. Waktu saya masih rajin jepret sana dan jepret sini. Dan kalau sohib saya itu tanya saya saat itu, pasti akan saya jawab pertanyaan sohib saya itu dengan penuh semangat yang berkobar, ditimpali dengan intonasi suara yang naik turunnya macam ombak lautan saat badai besar, dus dengan petir menggelegar dan sambar menyambar….Saya jawab pertanyaan dia sampai khatam….Zonder sisa!!

Tapi, sayangnya, itu dulu…dan….Ya.....Seandainya!



Sekarang saya sama sekali tak mampu menjawab pertanyaan itu….Tak ada intonasi seperti ombak apalagi petir….Yang ada cuma jawaban lirih!

“Tanya mbah google aja sob!”…..Lirih, bahkan nyaris tak terdengar.

Dengar jawaban saya yang “tanpa nyawa” seperti itu, sohib saya kelihatan kaget. Dia pasang roman muka aneh sambil melihat muka saya dalam-dalam, dia pikir, dia salah orang, dan pasti dia berpikir, yang berdiri didepan dia saat itu bukanlah saya!

Saya Cuma senyum….”Bener sob, saya bingung gimana jawabnya” timpal saya, sambil masih pakai intonasi macam manusia yang sudah berhari-hari tak ketemu nasi.

“Coba aja dijawab!”…cecarnya agak ga sabar. 

Agak merasa berdosa juga kalau saya tak jawab pertanyaan sobat saya itu. Lama kami berkawan, tak enak juga kalau saya kecewakan dia kali ini.

Yah......okelah, saya akan coba jawab saja pertanyaan dia itu, semampu saya, sebisa saya.

Dan saya ajak sohib saya itu pergi ke warung. Seperti biasa, lagi-lagi ditemani kopi hitam, dan lagi-lagi dihiasi asap rokok!

Alhasil…..mulailah saya bercerita, tentang foto hitam putih, dan inilah ceritanya:


Apakah Sobat pernah menyadari bagaimana beberapa foto hitam-putih terlihat begitu menakjubkan, begitu hidup, dan begitu mampu bertutur kata? dan kemudian sobat ingin mencoba menciptakan foto yang serupa dan hasilnya bikin miris? Hal pertama yang mutlak diperlukan dalam menciptakan foto hitam-putih adalah jiwa, dan hati, dan sama sekali bukan tentang kamera.


Untuk bisa membuat sebuah foto hitam-putih yang bagus kita harus mampu memahami obyek itu secara utuh dalam hitam putih. Tekstur, garis, guratan, atau apa saja yang tampak seperti itu dan bisa ditonjolkan melalui warna hitam dan putih.


Tekstur-tekstur tertentu, semisal tekstur alami akan tampak lebih hidup dan lebih terlihat “bernafas” jika disajikan dengan warna hitam dan putih. Esensi foto hitam dan putih itu adalah tentang menangkap aura dan suasana dramatis, jadi jika obyek foto yang kita incar itu memiliki unsur yang dramatis secara alami, maka sobat sudah melalui langkah pertama dalam menciptakan foto hitam-putih. Contoh tekstur yang tampak bagus dalam nuansa hitam dan putih adalah serat kayu, pecahan logam, pola yang berulang di alam bebas seperti air atau spiral, gurat wajah, dan keseharian akan terlihat kuat, memiliki kharakter, dan bagus untuk foto hitam-putih.


Melalui warna hitam dan putih, cobalah untuk tetap menyertakan unsur simetris dalam frame yang kita ambil. Hal ini lebih mudah untuk membuat foto hitam-putih ketika kita memiliki simetris karena foto tersebut tentunya akan kehilangan unsur warna. Tekstur yang simetris dalam warna hitam dan putih akan terasa lebih hidup dan lebih berbicara, dan selalu menawarkan aura yang tidak dapat ditangkap oleh mata secara awam.


Greyscale bukannya tidak memiliki warna, atau semua yang diambil dalam nuansa abu-abu. Sobat harus memahami konsep greyscale terlebih dahulu sebelum memahami dan menguasai fotografi hitam-putih. Greyscale merupakan spektrum warna hitam, banyak abu-abu dan putih, seperti warna pelangi tetapi bedanya ini dalam serangkaian warna hitam dan putih serta tone abu-abu. Cobalah sobat melihat beberapa hasil karya foto hitam-putih, tentunya tidak hanya melulu warna hitam dan putih kan? 


Sebenarnya banyak nuansa serta kedalaman warna abu-abu yang berbeda. Jadi ketika Kita berbicara tentang greyscale, ini berarti adalah cara kita mengukur kedalaman tone abu-abu. Hitam dan putih tentunya termasuk dalam greyscale (skala abu-abu).

Ini akan terdengar sedikit aneh, tetapi ketika kita menemukan apa yang terlihat bagus dalam hitam-putih, sobat bisa memulainya dengan warna kontras yang tinggi pada setiap subyek yang ada di dekat kita. 


Warna mencolok seperti merah, ungu, kuning bisa menjadi bahan uji coba awal yang bagus. Dengan menggunakan warna-warna tajam seperti itu, kamera kita akan menafsirkannya secara berbeda. Silahkan Sobat mencoba dan bereksperimen terhadap warna-warna tersebut. Jika sobat tidak bisa menemukan warna-warna kontras itu di sekitar rumah, maka cobalah ke taman terdekat dan potretlah beberapa bunga yang memiliki warna tersebut.

Jadi yang perlu di pahami dan dimengerti adalah foto hitam-putih sebenarnya bukanlah zonder warna sama sekali. Dalam foto hitam putih itu ada warna, bahkan lebih banyak warna ketimbang foto yang benar-benar berwarna. Tujuan dari foto hitam-putih saat ini (bukan pada era kamera dan film dimana tidak ada pilihan selain hitam-putih) adalah menciptakan nuansa abadi dan tidak lekang oleh waktu, dan dengan prespektif yang tepat tentunya akan bisa menyampaikan pesan serta cerita tentang apa yang ada dalam frame itu, secara utuh, alami, dan juga sangat hidup.


Tapi yang paling utama adalah: Jangan pernah berhenti untuk mencoba memotret, dan jangan pernah memotret dengan mata, tapi cobalah memotret dengan hati. Nafas dari setiap foto, adalah cerminan dari hati si fotografer. Foto itu bukan hanya karya, tetapi foto itu adalah sidik jiwa dari sang fotografer yang terekam dalam frame.

Sampai disini, saya perlu diam sekejap. Saya menunggu reaksi sohib saya itu, menunggu supaya otaknya bisa mengunyah dan menelan omongan saya barusan. Jangan-jangan, jawaban saya tidak bikin sreg dia punya hati.

Tapi, untungnya dia menerima jawaban saya, sambil cengar-cengir, dia buka bicara:

“Ah, untunglah……Gue kira lu udah bener-bener pension dan ga mau motret lagi!”

“Jawaban lu barusan, ngebuktiin kalo lu cuma ga sempet motret, atawe lagi jenuh motret,….bukan ga mau motret, apalagi ga akan motret lagi!”

Kaget saya denger jawaban dia. Agak malu juga dengar komentarnya. 

Saya akui, beberapa tempo belakangan ini, saya memang benar-benar tak punya kesempatan lagi pegang kamera. Terlalu banyak yang mengganggu, terlalu banyak yang menghalangi. Tapi, sebenarnya, terlalu banyak alas an yang saya bikin, untuk membenarkan kealpaan saya dan kemalasan saya memotret!

Rupanya, sobat saya itu bukan bertanya, tetapi mengingatkan saya.

Sambil saya hisap asap rokok dalam-dalam, saya mulai merasa lucu dan juga malu.

Lucu, karena saya pikir, tadinya sobat saya itu hanya ingin bertanya saja.

Dan malu, karena sobat saya itu rupanya bisa memahami dan mengingatkan saya akan kealpaan dan juga alasan yang selalu saya buat selama ini...alasan untuk tidak motret!


Catatan:
Cerita ini terinspirasi oleh artikel yang ditulis oleh ariespiskha, dan dalam artikel aslinya yang berjudul "Bagaimana Memulai Fotografi Hitam Putih" yang sudah tayang di www.infotografi.com.
Artikel aslinya dapat dilihat di sini.

Senin, 23 Juli 2018

Apa Sih Bedanya "Fotografer" dengan "Tukang Foto"....???? (Tulisan ini adalah tulisan bagian Kedua)



Ciledug, Tangerang, Banten, Senin, 23 Juli 2018

Apa sih bedanya "fotografer dengan tukang foto"???
Bagian Kedua

(Ceritera ini sengaja saya belah menjadi dua babak, ada ceritera bagian satu dan ada ceritera bagian kedua, tujuannya hanyalah agar tak bosan membacanya. Dan kalau sobat bingung membacanya, baca dahulu bahagian pertama, barulah disusul dengan bahagian kedua. Mohon dimaklumi ya sob!)

Sebenarnya, ada yang mengganjal di kepala saya tentang ucapan dia, tentang apa itu fotografer, dan apa itu tukang foto. Saya punya pemikiran sendiri tentang apa itu tukang foto, dan apa itu fotografer dari sudut filosofis maupun praktis. 

Ingin rasanya saya kemukakan pendapat saya…….Tapi, melihat roman mukanya yang sedang kusut dan carut marut, tak sampai hati saya jadinya. Biarlah dia tenang dulu, biar berlalu dahulu soalan ini dari dirinya, setelah itu, bolehlah rasanya saya undang dia untuk omong-omong masalah ini, masalah bedanya tukang foto dan fotografer. 

“Kalau gw tau bakalan gini jadinya, gw kaga mau ambil job ini om, rugi waktu dan tenaga, tapi hasilnya malah bikin kecewa” sambung bedul sembari melirik kearah gelas kopinya. Kopinya hampir habis, saya menganggukkan kepala, dan dia lalu mengacungkan satu jari ke arah mas penjual kopi, pesan satu gelas lagi…..

“Mana orang bisa tau nantinya gimana mas bro, Cuma peramal aja yang tahu, atau merasa tahu, masa depan itu kaya gimana,” jawab saya. Dalam hati sayapun sependapat dengan kawan saya itu. Kalaulah saya bisa meramal dan tahu masa depan itu seperti apa, tentu saja saya akan berkilah seribu satu cara supaya saya tak ketemu dia hari ini. Rugi! Rokok saya musnah, malah saya juga harus kena traktir kopi!

Malam itu kita ngobrol sampai hampir subuh. Pelan-pelan, kawan saya itu rasanya mulai tenang dan bisa enteng kepalanya. Tepat jam empat pagi, dia pamit pulang, sayapun pulang juga. Enak juga sesekali omong-omong tentang topik yang “enteng-enteng berat” seperti ini.

Mungkin lain waktu, bisalah dilanjut ngobrol-ngobrol seperti ini lagi, tentu saja saya akan bikin persiapan matang. Saya akan siapkan air panas di termos dan juga kopi sachet puluhan renceng, jadi tak terlalu hancur-lebur saya punya kantong.

Setiba di rumah, sudah jam 5 pagi, jelas tak mungkin rasanya saya pergi nguli ke kantor hari itu. Jadi terpaksalah saya berbohong, kalau saya tak enak badan, dan tak dapat masuk kerja….

Seperti yang di awal saya ceritakan, kalaulah saja malam itu saya ada kerja lembur, dan harus terpaku di kantor, atau kalau saja saya punya kemampuan meramal yang cespleng dan jitu, tentu saja saya akan berkilah seribu satu cara, supaya saya bisa menghindar, dan tak jadi ketemu kawan saya malam itu!

Untuk melengkapi penderitaan sobat jepret sekalian, berikut ini adalah beberapa foto dari saya, yang bukan seorang fotografer dan juga bukan seorang tukang foto. Dan juga ada tambahan catatan, tentang apa itu fotografer dan apa itu tukang foto, berdasarkan sudut pandang dari seorang fotografer kawakan.










Tambahan:


Kemarin dulu, sebelum saya ketemu kawan saya ini, saya membaca suatu artikel yang terus terang, sangat pas dengan obrolan kami hari itu. Judul dari artikel itu adalah; “Perbedaan tukang foto dengan fotografer”, yang ditulis oleh fotografer kawakan, tuan Enche Tjin. Dalam artikelnya tersebut, beliau menulis tentang perbedaan secara definisi singkat saja, tanpa disertai dengan penjelasan yang mendetail mengenai kedua profesi tersebut. 

Dalam artikelnya, tuan Enche Tjin menulis:

“Pada dasarnya istilah tukang foto dan fotografer sama saja, yaitu orang yang ahli dalam membuat foto. Tapi istilah tukang foto lambat laun menjadi menurun nilainya, sedangkan titel fotografer semakin keren dewasa ini.

Dulu seseorang disebut tukang foto (kadang disebut juga kameramen), adalah orang yang menguasai teknik fotografi yang baik, tapi sekarang ini, tukang foto identik dengan orang-orang yang sekedar bisa mengunakan kamera dan tidak harus ahli di dalam bidangnya, apalagi di era digital yang serba otomatis, tinggal jepret pakai lampu kilat saja langsung, pasti terang gambarnya.

Tukang foto juga lebih identik dengan orang-orang yang menjajakan jasa foto dengan tarif relatif murah, seperti yang kita lihat di kawasan wisata ataupun tukang foto di acara-acara sosial seperti pernikahan.
Lalu apa beda tukang foto dengan fotografer?

Kalau tukang foto lebih bersifat reaktif terhadap suatu keadaan, fotografer pendekatannya lebih berbeda. Seorang fotografer menghabiskan banyak waktunya tidak di dalam sesi pemotretan saja, tetapi sebagian besar lebih ke pembuatan konsep & ide, perencanaan, persiapan, dan setelah selesai foto, masih harus melakukan post-processing (editing), layout dan percetakan.

Banyak yang harus dipikirkan untuk menjadi fotografer, apalagi fotografer profesional yang bertarif tinggi. Ide kreatif, eksekusi dan hasil foto lah yang membuat seorang fotografer dibayar jauh lebih tinggi nilainya daripada aksi motret itu sendiri.
Nah, itulah bedanya!

Sampai disini, saya bisa bilang agak setuju, tetapi, kalau sobat jepret punya pendapat lain, tak apalah, saya juga akan menyetujuinya juga. 

Dan lagi, kalau boleh jujur, berdasarkan definisi yang sudah diterangkan oleh fotografer kawakan tersebut di atas (tuan Enche Tjin), saya tidaklah masuk ke dalam golongan fotografer, ataupun golongan tukang foto. 

Kesimpulannya, saya hanya masuk ke dalam golongan orang yang hobby foto….itu saja!


Apa Sih Bedanya "Fotografer" dengan "Tukang Foto"....???? (Tulisan ini adalah tulisan bagian Pertama)



Ciledug, Tangerang, Banten, Senin, 23 Juli 2018

Apa sih bedanya "fotografer dengan tukang foto"???
Bagian Pertama

(Ceritera ini sengaja saya belah menjadi dua babak, ada ceritera bahagian satu dan ada ceritera bahagian kedua, tujuannya hanyalah agar tak bosan membacanya. Mohon dimaklumi.)

Kalau saja malam itu saya ada kerja lembur, dan harus terpaku di kantor, atau kalau saja saya punya kemampuan meramal yang cespleng dan jitu, tentu saja cerita di bawah ini tak akan pernah terjadi. Saya tak akan kehilangan jatah rokok saya, dan saya juga tak akan pernah melakukan dosa karena bolos kerja esok harinya dengan alasan sakit.

Itu semua berawal, ketika kawan saya bedul (bukan nama sebenarnya….sengaja saya sembunyikan nama aslinya, tapi saya suka panggil dia bedul, hanya isengnya saya saja) mengajak saya untuk ketemu. Kawan saya ini punya hobby yang sama dengan saya, jepret-jepret sambil nulis cerita di blog.

Sore itu, entah kenapa, si bedul ini ajak saya ketemu, kangen katanya, mau cerita-cerita sembari ngopi di warung kopi dekat kantor di Kemayoran. Tak biasanya ini kawan ajak saya ketemu selain di tempat foto, tentu ada hal penting yang mau dia obrolin, atau mungkin dia mau kasih jual lensanya ke saya….hehehehehe…semoga!


Jam 7 malam lewat sedikit, saya sudah duduk manis di TKP, di warung kopi yang sederhana, menunya sederhana, dan yang paling penting, harganya juga sederhana, cocok betul dengan isi dompet saya di tanggal segini. 

Waduh, rupanya si bedul belum datang, kawan saya yang satu ini masih juga belum sembuh penyakit ngaretnya, saya sudah tak kaget lagi, sudah sering ini kawan terlambat, saking terbiasanya saya sama ngaretnya dia, saya malah kaget kalau dia datang tepat waktu.

Ya sudah, sebaiknya saya ngopi saja dulu, sembari tunggu kawan saya muncul, segelas kopi tentu bisa jadi pembunuh waktu yang mujarab.

Satu gelas kopi datang, sruput sedikit, lalu teruskan kegiatan baca-baca artikel yang menarik di internet. Belum lagi sampai setengah gelas, kawan saya itu datang juga. “Hallo om”, saya menoleh, dan memang rupanya si bedul itu yang datang.

“Hallo dul, tumben lu ga telat banget?” 
“hehehehe….lowong om, ga terlalu macet, jadi bisa laju kemari,” sambungnya lagi. Sambil duduk, dia pesan kopi satu, kopi hitam, sama seperti yang lalu-lalu, selalunya kopi hitam saja, tak mau dia minum kopi yang lain selain kopi hitam.
Kopi hitam datang, dan pembicaraan dilanjut lagi.

“Ada apaan nih, tumbenan lu ajak gw ketemu di sini, kaga kaya biasanya,” Tanya saya sambil seruput kopi lagi, lalu hisap rokok dalam-dalam.
“Ga ada keperluan khusus om, Cuma ingin ngobrol aja, biasalah, ketemu sesama teman fotografer, silaturahim om,” sahutnya lagi. Lalu dia cabut rokok saya yang sengaja saya taruh di meja (kawan saya ini memang tak berubah gayanya, tak pernah mau membeli rokok sendiri, selalunya ambil rokok orang lain. Pernah saya tanyakan soalan itu kepadanya dulu, dan dengan enteng sambil cengar-cengir dia jawab, “rokok itu hukumnya haram…..tapi kalau beli sendiri! Kalau minta rokok orang lain, itu makruh hukumnya!”)

“Bener cuma silaturahim?” tanya saya lagi
“bener om, hanya silaturahim, kebetulan hari ini saya ada sesi poto dekat sini om, jadi saya sempatkan untuk ketemu om, lama ga ketemu, pengen ngobrol-ngobrol” ujarnya lagi sambil menyalakan rokok yang tadi dia ambil, ditariknya asap rokok itu dalam sekali, rupanya supaya asapnya bisa langsung masuk ke otak. “Cuma sesi poto yang hari ini ga asyik om, ga cihuy” katanya lagi.

Kelihatan betul kalau dia memang tak terlalu senang hari ini, roman mukanya kelihatan mangkel, kelihatan kucel, seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

Saya pilih diam dulu, tak langsung saya tanyakan apa perihalnya. Lebih baik saya biarkan saja dahulu mahluk yang satu ini menikmati asap rokok dan kopi, supaya enteng otaknya. Sambil lalu, iseng saya perhatikan kawan saya ini.

Rupanya kawan saya ini memang ditakdirkan untuk menjadi fotografer sejati. Potongan badannya, model tampangnya, cara berpakaiannya, dan segalanya betul-betul potongan fotografer tulen, luar dalam, seratus persen asli, bukan abal-abal alias KW. Belum lagi…..kawan saya si bedul ini punya kebiasaan yang super nyentrik, yang kira-kira kalau orang yang otaknya waras, tak akan mau punya kebiasaan macam ini. 

Kawan saya ini punya kebiasaan, selalu bawa kamera kemana saja. Mulai dari kondangan, sampai tahlilan sekalipun, dia akan selalu datang dengan kamera tergantung di leher. 

Sampai ada kawan yang berkelakar, kalaulah si bedul ini datang ke suatu kondangan tanpa pakai celana dalam sekalipun, dia tak akan ambil pusing, dan tetap akan datang….. tapi kalau dia terlupa sama kamera di lehernya, berani jamin, kontan dia akan balik arah dan langsung pulang!

Sudah lima menit rasanya saya perhatikan si bedul ini. Apa yang sebenarnya dia pikirkan? Tekun betul. Gatal hati saya kepengin tahu. Mungkin memang betul kalau teman saya bedul ini sedang punya soalan besar di pikiran.

“Ada apa nih mas bro, kelihatannya parah betul?” tanya saya, sambil saya ambil bungkus rokok saya, yang entah bagaimana, sudah bergeser ke depan dia.

“Biasa om, masalah poto” jawab Bedul. Ditariknya asap rokok dalam sekali.
“Masalah poto? Kenapa dengan sesi potonya bro?.......Gagal?” tanya saya lagi.

“Bukan om, bukan gagal…Cuma ga sesuai aja sama rencana awal. Melenceng jauh banget om. Belon pernah gw ngalamin foto prewed kaya gini, super ngeselin, kaga jelas, buang-buang waktu gw aja” sambungnya dengan nada separuh kesal dan separuh lagi..... muak.

Wah, pandai betul dia bikin saya penasaran. Ini pasti bukan kejadian sesi foto biasa, ini pasti sesi foto yang super ngeselin, sampe kawan saya mukanya jadi demek macam kain pel seperti ini.

“Lah, melenceng gimana mas bro?” tanya saya.
“Ya gitu om, susah kalo mau sesi foto, tapi orang yang mau difoto sok-sok an belaga kaya fotografer kawakan….pake ngatur-ngatur gw kudu gimana ngambilnya, harus pake gear apa, harus posenya gimana, dan seterusnya, dan sebagainya…….sialan pokoknya om.” Sambungnya dengan nada jengkel. 
“Padahal, di awal-awal udah disepakati, tentang konsepnya, tentang tema, tempat, pakaian, pokoknya tentang semuanya…..bahkan sampai waktu pengambilan fotonya udah kita sepakati semua, dan mereka juga sudah ok.”

“Lho, kalo udah OK, berarti tinggal eksekusi dong?” timpal saya, sambil mengacungkan dua jari ke arah si mas tukang kopi.....pesan kopi lagi, langsung dua gelas sekaligus, karena saya lihat, gelas dia juga sudah hampir kosong. Dosa besar rasanya, kalau pembicaraan yang menggebu-gebu macam ini, harus terpotong karena kopi habis.

“Eksekusi?...Eksekusi apanya om……” Jawabnya sembari ketawa dengan irama sebel, “Pas lagi kita udah di TKP, eh…….mereka dengan seenaknya ngerubah tema, ngerubah konsep, bahkan sampai ngerubah pose di frame. Kan kita-kita yang fotografernya jadi bingung om, semua yang udah disusun mateng, jadi angus dan sia-sia. Padahal udah sedari awal gw tegesin ke mereka, kalau mereka punya konsep atau tema tersendiri, sebaiknya diomongin di awal, jadi bisa klop, jangan pas di akhir-akhir atau pas eksekusi dirubah seenaknya….dan mereka juga sudah setuju…..Lah, ga taunya brekele. Coba pikir…..Buat apa kita babak belur mikirin dan ngerancang segala macam konsep dan tema, kalo ujung-ujungnya cuma asal foto doang, asal jepret doang!” si Bedul memukul meja, kesal betul tampaknya. Memang kelihatan kalau kawan saya ini geram luar biasa. 

Untungnya dia segera sadar, kalau ada satu gelas kopi penuh di sebelah gelas kopinya yang hampir kosong. Segera dia seruput gelas kopi yang penuh tadi, sambil matanya melirik ke arah saya. Saya paham betul artinya, rokoknya habis, saya sodorkan bungkus rokok yang tadinya saya pikir sudah saya selamatkan dan aman….Yah….Tak apalah, demi kawan. 

Pelan dia cabut sebatang rokok yang saya sodorkan tadi seraya mengucap terima kasih. Sundut, dan dengan tarikan panjang, dia hisap rokok itu.

“Emang susah om, gw berasa bloon banget, berasa kerja sia-sia. Kalau emang pengennya cuma asal foto aja untuk prewednya, ngapain juga mereka repot-repot nyewa fotografer buat ngaturin fotonya!...” suaranya jadi pelan.

“Kalau cuma asal foto aja, mending mereka sewa jasa tukang foto, lebih murah, lebih gampang juga dapetnya. Daripada kaya gini, nyewa jasa fotografer, tapi malah cuma disuruh jadi tukang foto……Bikin gw gondok aja. Gue jadi ga enak sama temen-temen yang gue ajak kerjasama, mereka jadi kesel sama gue, gara-gara mereka cuma dijadiin tukang foto doang……”
“Lho, kan yang penting dibayar bro”
“Ini bukan masalah bayaran om……Ini masalah image gue dan temen-temen gue, masalah prestige kami om, kalo foto-foto itu dipajang pas resepsi, kita jadi malu hati om. Foto-foto itu kan macam portofolio kita, sekali orang nilai foto-foto kita hasilnya jelek, bakalan abis kita om, bisa ga ada lagi orang yang mau panggil kita, ga akan ada lagi orang yang percaya kalo gue fotografer…….Orang bakal nilai gue cuma tukang foto, yang taunya cuman motret doang, ga pake teknik, angle, konsep, filosofis, dan segala macam. Gue alamat bakalan abis nih om, bakalan ga ada lagi orang yang mau pake gue untuk motret…..” Terputus ucapan Bedul karena melihat saya bengong. Dia menarik nafas panjang, matanya menerawang, kelihatan sekali kalau kawan saya ini benar-benar sedang ruwet otaknya.

Bersambung ke bahagian kedua......




Senin, 16 Juli 2018

Fotografer itu bukan seniman??? (Tulisan bagian kedua)



Kemayoran, Jakarta, Senin, 16 Juli 2018

Fotografer itu bukan seniman???

(Obrolan dengan 5 botol air putih,  3 gelas kecil kopi mix, 8 gelas besar kopi hitam dan asap rokok)

Artikel dua babak, dan ini adalah babak kedua, kalau ada yang merasa bingung membacanya, silahkan baca dahulu babak pertama. Terima kasih karena sudah sudi membaca!


Luar biasa! Semakin malam, semakin ramai saja Jakarta Fair ini, sepertinya, ribuan orang memadati arena ini, dari yang sekedar jalan-jalan, sampai yang memang berniat belanja. Perhatian saya kembali terfokus pada gadis SPG yang menjajakan kopi, tepat di depan kedai kopi ini. Berseragam merah, sambil membawa buku bon dan juga rencengan kopi, gadis-gadis SPG itu tetap bersemangat menjajakan kopinya dengan setengah berteriak…”Kopinya kakak! Tiga ribu kakak! Ayo kakak, kopinya, ada door prize nya kakak, ada gamenya juga kakak, ayo kakak, silahkan kakak!”……


Benar benar luar biasa, semangat mereka sangat luar biasa, entah sudah berapa ribu kali mereka berteriak-teriak seperti itu, menjajakan produk mereka kepada pengunjung yang lewat. Lebih banyak yang menolak dibandingkan yang tertarik membeli, tetapi mereka tetap bersemangat dan tak kenal menyerah. Kalau orang yang mereka tawarkan itu menolak, mereka akan melontarkan kalimat yang sangat khas…”Terima kasih kakak!” atau ”Terima kasih om, tante, bunda!” dan lain sebagainya. Dan tanpa buang waktu, mereka akan langsung menawarkan kepada orang yang lain lagi, tetap dengan semangat yang sama, tetap dengan ke “khas” an yang sama, dan dengan kalimat rayuan yang sama….”Ayo kakak! Kopinya kakak! Murah kakak! Tiga ribu saja kakak!”, dan seterusnya.


Asyik juga saya memperhatikan solah mereka, tanpa sadar, saya terlupa pada keasyikan saya sebelumnya, tentang pembicaraan “seniman vs fotografer” tadi. Saya juga tak sadar, kalau ternyata, sudah hampir dua jam saya duduk di sini, dan saya juga tidak sadar, kalau saya sudah membiarkan dua gelas kopi yang saya beli tadi, masuk ke perut saya, dus, saya sudah pesan lagi dua gelas kopi gelas besar, dan keduanya juga sudah berlabuh dengan damai di perut saya. 

Cukup sudah! 

Saya harus pulang! Sudah sembilan gelas kopi masuk ke perut saya, sudah belasan batang rokok yang saya hisap, dan itu sudah lebih dari cukup!

Saya rapikan lagi kamera saya, sambil merapikan pakaian dan juga menebah abu rokok yang rupanya banyak betul bertebaran di badan, berdiri, dan berjalan menuju tangga untuk turun dan kemudian meninggalkan kedai kopi ini, lalu pulang! Ketika saya melewati posisi pertama saya, tampaknya dua kekasih itu sudah lama pergi, bangku itu sudah kosong, sudah bersih. Tetapi…….Buset dah! Gerombolan “fotografer” yang tadi saya curi-curi dengar rupanya masih ada di tempat yang sama, dan masih dengan gelas kopi yang sama……Dan belum habis juga!!!!! 

Gila! 

Hebat banget mereka! Sanggup duduk berjam-jam hanya dengan bermodalkan satu gelas kopi dengan harga tak lebih dari tiga ribu perak! 

Gila! 

Saya salut luar biasa pada mereka, jarang sekali…….tak pernah malah, saya bertemu dengan orang yang isi bicaranya belasan bahkan puluhan juta, tetapi hanya sanggup jajan kopi yang harganya cuma tiga ribu perak!

Mampus dah!................

Ilmu saya tak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka, ilmu dalam hal “pelit”isme dan “medit” isme tentunya.

Semangat saya yang tadinya berisi semangat untuk pulang, beralih ke semangat curi-curi dengar lagi! 


Supaya ada alasan saya untuk tetap duduk di bangku tadi, bangku dimana saya duduk di saat pertama tadi, saya dengan sangat terpaksa harus pesan kopi lagi! Hadehhhhh…..




Dan kembali saya duduk di sini, di tempat awal saya duduk di kedai kopi, dengan ditemani oleh dua gelas kopi ukuran jumbo di depan saya. Seruput sedikit kopinya, ambil sebatang rokok, sundut, lalu dengarkan lagi pembicaraan “gerombolan fotografer” yang kelihatannya, sedang ramai-ramainya, dan herannya, masih dalam topik yang sama…yaitu ”seniman vs fotografer”….!

“Jadi, menurut lu, fotografer itu bukan seniman?” rupanya gadis yang kecanduan selfie tadi, masih belum merasa mendapat jawaban yang pas dari sang “fotografer” mengenai definisi seniman dan fotografer.


“Jelas bukan lah!” Sahut si fotografer. “Seniman itu yang kaya lu lihat di emperan glodok atau di blok M, yang kerjanya ngelukis ngelukis yang ga jelas gitu, ngelukis orang, ngelukis bunga, atau paling apes, ngelukis pantatnya truck pasir!……… itu baru namanya seniman,” sambung di fotografer lagi dengan intonasi suara yang sangat yakin!

“Kalo fotografer itu kaya gue gini, motret model, pake kamera ciamik, itu baru namanya fotografer sejati!” sambungnya lagi, lalu si fotografer itu ketawa ngakak, dan tak lama kemudian, rekan-rekannya juga ikut-ikutan tertawa, entah apa yang mereka tertawakan, karena menurut saya, sama sekali tak ada yang lucu dari pembicaraan itu!

“Mana ada seniman yang bawa-bawa kamera? Seniman itu kerjanya ya kaya di kesenian gitu, bikin lukisan, nari, bikin pahatan, dan lain-lain. Dan rata-rata mereka kaya gelandangan alias nyentrik and kumel dan ga punya duit. Beda ama bos kyu ini, kalo bos kyu ini real fotografer, punya kamera puluhan juta, dan juga punya gear yang harganya juga puluhan juta,  jadi dia itu fotografer, beda jauh ama seniman, ngerti ga lu non?” Timpal teman si fotografer yang punya model macam boyband korea itu. Dan setelah kalimat itu, kembali mereka tertawa lepas, tertawa yang untuk saya, seperti suara alarm atau suara lonceng jam weker yang membangunkan kesadaran saya, kesadaran untuk segera pergi meninggalkan tempat itu, meninggalkan sekawanan “fotografer” dengan sejuta ceritanya yang tak jelas, juga sejuta ketawanya, dan meneruskan tujuan saya semula, yaitu pulang!

Kedai kopi itu sebenarnya masih lama tutupnya, jam sepuluh malam. Sama dengan event Jakarta Fair yang baru tutup jam sepuluh malam. Tetapi, saya tak sanggup lagi kalau harus tetap duduk di sana sampai dengan jam sepuluh malam. Seharian itu, perut saya hanya terisi dengan lima botol air putih, kopi mix 3 gelas kecil, dan kopi hitam 8 gelas besar, serta asap rokok. Bokong  saya panas, perut saya kembung, dan badan saya keluar keringat dingin. Ditambah lagi dengan pulang naik motor, badan yang sudah dingin ini, jadi makin ditambah dingin lagi oleh keringat yang diterpa angin.

Kalau ada orang yang bilang: “Aku tidak takut pada siapapun selama orang itu makan nasi,” maka orang tersebut harus takut pada saya. Seharian itu saya hanya mengisi perut saya dengan 8 gelas besar kopi, 3 gelas kecil kopi, dan asap rokok. Keesokan harinya, saya masuk angin, dan langsung mencret. 

Ternyata, hanya untuk tahu bedanya seniman dan fotografer, itu berat sekali. Apalagi kalau cara mencari tahunya itu salah, bukannya jadi paham dan mengerti, malah jadi masuk angin dan mencret.

Benar sob, ternyata, apa yang saya lakukan hari itu, bukanlah hal yang berguna. Ternyata, curi-curi dengar itu benar-benar pekerjaan yang sangat sia-sia. Tidak ada untungnya, apalagi ilmunya! Yang ada hanya anginnya saja!

Kesimpulannya…..Jangan curi-curi dengar, nanti bisa masuk angin! 

kalau mau paham, pergi baca buku, atau tanya ke seniman yang benar-benar seniman tulen, dan tanya ke fotografer yang benar-benar fotografer tulen tentang apa bedanya fotografer dengan seniman. 

Sekian dulu ya sob cerita saya ini, lain waktu akan saya sambung lagi dengan cerita lain yang lebih tidak berguna dari saya.

Oh ya, kalau sobat-sobit jepret tetap ingin tahu tentang definisi fotografer dan seniman, tentang Jakarta fair dan kedai kopi, silahkan baca catatan dibawah ini.

Dan untuk melengkapi penderitaan sobat-sobat jepret semua, akan saya sertakan beberapa foto yang saya ambil di event ini.









Catatan:

1. Jakarta Fair adalah salah satu event besar di Jakarta, tepatnya di arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran. Biasanya berlangsung di medio Juni-Juli setiap tahunnya, berlangsung kurang lebih 40 hari. Didalamnya ada macam-macam stand dan juga event yang sangat menarik. Kedai kopi yang saya maksud, ada di dalam Jakarta Fair, dan harga 1 gelas kopi memang benar-benar tiga ribu perak.

2. Cerita ini memang benar-benar terjadi, namun tutur ceritanya terinspirasi pada kumpulan cerpen karya “Misbach Yusra Biran” dengan judul buku “Keajaiban di Pasar Senen”. Gaya bertutur cerita ini juga terpengaruh dan mengikut pada gaya bercerita buku itu, lebih spesifik, yaitu pada cerpen “Keajaiban di Pasar Senen” dan cerpen “13 Kopi Kecil dan Asap Rokok”.

3. Fotografer atau juru foto (bahasa Inggris: photographer) adalah orang-orang yang membuat gambar dengan cara menangkap cahaya dari subyek gambar dengan kamera maupun peralatan fotografi lainnya, dan umumnya memikirkan seni dan teknik untuk menghasilkan foto yang lebih bagus serta berusaha mengembangkan ilmunya. Banyak fotografer yang menggunakan kamera dan alatnya sebagai pekerjaan untuk mencari penghasilan, dan gambarnya akan dijual untuk cover majalah, cover calender, artikel, dll.

4. Seniman adalah istilah subyektif yang merujuk kepada seseorang yang kreatif, inovatif, atau mahir dalam bidang seni. Penggunaan yang paling kerap adalah untuk menyebut orang-orang yang menciptakan karya seni, seperti lukisan, patung, seni peran, seni tari, sastra, film dan musik. Seniman menggunakan imajinasi dan bakatnya untuk menciptakan karya dengan nilai estetik. Ahli sejarah seni dan kritikus seni mendefinisikan seniman sebagai seseorang yang menghasilkan seni dalam batas-batas yang diakui.

5. Secara singkat, Jakarta Fair adalah suatu event yang diselenggarakan di Jakarta, dengan tujuan untuk mempromosikan serta meramaikan ulang tahun Jakarta yang jatuh setiap tanggal 22 Juni. Dalam event ini, berbagai acara diadakan untuk memeriahkannya. Salah satunya adalah kembang api. Lebih lengkapnya tentang Jakarta fair, dapat disimak di link ini.


6. Kedai Kopi itu sebenarnya stand tempat menjual kopi dari merk tertentu. tetapi, karena ada tempat duduk dan mejanya, juga lengkap dengan kasir dan pelayannya, maka saya lebih suka menyebut tempat itu dengan "kedai kopi".