Rabu, 04 Desember 2019

12 Tips Memotret Dengan Kamera Smartphone



Kemayoran, Jakarta, Rabu, 4 Desember 2019

Kamera smartphone tanpa kita sadari adalah kamera yang selalu kita bawa kemana saja. Dan memang saat ini, itu adalah sesuatu yang lumrah dan umum. Mungkin Sobat sekalian punya kamera DSLR atau mirrorless atau bahkan analog, tapi tetap saja smartphone-lah yang menemani Sobat hampir di segala tempat. Mulai dari di kantor, di kursi kendaraan umum, meja warteg, nunggu lampu merah, bahkan pas ngeden di jamban. Memang, smartphone saat ini menjadi salah satu benda yang boleh dibilang praktis dan multifungsi dan menjadi keharusan untuk dipegang kemana-mana.

Itulah sebabnya, kemampuan memaksimalkan kamera yang ada di smartphone Sobat menjadi salah satu kemampuan yang semi wajib yang harus dimiliki manusia modern, (nah lho, itu artinya, Sobat yang tak punya skill tadi bukan manusia modern alias homo sapiens?) Nah artikel ini akan mencoba untuk menghadirkan 12 tips, supaya kemampuan Sobat dalam menggunakan kamera smartphone bisa lebih mantab lagi, apapun merk smartphone-nya. Cekidot ya Sob:

1. Mandi atau cuci muka

Lah? Kenapa cuci muka?
Jawabannya sederhana Sob, kalau Sobat ga mandi cuci muka pada saat mau memotret dengan smartphone, bisa dijamin tak akan berhasil. Karena, ketika Sobat memegang smarphone itu dengan tampang kucel dan kumel, bisa-bisa, Sobat disangka bukan si empunya itu smartphone, alias copet. Jadi, tak ada salahnya kok kalau sebelum motret Sobat mandi dulu, atau minimal, cuci muka! 


2. Jangan menggunakan zoom, mendekatlah ke obyek foto

Lensa di kamera smartphone biasanya memiliki panjang focal 25 sampai 28mm yang kalau dalam istilah fotografi lebih dikenal sebagai lensa sudut lebar, itulah sebabnya obyek jadi terlihat lebih kecil dibandingkan sebenarnya. Dan biasanya, untuk memperbesar si obyek, Sobat biasanya akan menggunakan zoom dalam smartphone. Coba hindari hal ini, karena zooming dalam smartphone adalah zooming digital. Dan lumrahnya zooming digital, zooming ini seperti Sobat melakukan cropping foto di komputer, resolusi foto jadi menurun dan terpotong. Makin gila-gilaan Sobat melakukan zoom, maka makin besar degradasi resolusi fotonya.


Untuk menghindari hal ini, maka Sobat harus menggunakan metode yang lain, yaitu kaki! Dekatilah obyek foto dan fotolah dari dekat. Contohnya, Sobat ingin memotret kawan sobat yang lagi perform alias nyanyi di panggung. Kalau biasanya Sobat menggunakan zoom, maka cobalah untuk mendekat ke panggung, kalau perlu, naik ke panggung, dan ikut joget sekalian, dan siap-siap untuk digeret sama security.

Nah, kalau cara itu terkesan menyakitkan, maka Sobat harus mulai menggunakan cara lain yang tidak terlalu menyakitkan dari segi fisik (tetapi menyakitkan dari sisi kantong), yaitu dengan membeli tambahan lensa add-on yang sekarang banyak dijual. Atau, beli smartphone yang punya lensa berderet, dengan begitu, Sobat bias mengurangi penggunaan zooming barbar seperti di atas.


3. Pastikan cahaya pada obyek intensitasnya cukup

Kamera handphone tidaklah sesensitif mata Sobat yang tetap bisa melihat di keremangan. Usahakan  agar cahaya yang menerangi obyek foto mencukupi, contoh gampangnya, hasil foto outdoor cenderung lebih bagus dibanding indoor. Nah, kalau Sobat terpaksa harus memotret dalam kondisi cahaya yang remang-remang mesra, jika ada, gunakan flash saat memotret indoor. Namun harus diingat bahwa jarak efektif flash adalah sekitar 2-3 meter, jadi jangan berharap Sobat bisa menerangi seisi ruangan dengan flash, apalagi seisi ruang hati.


4. Pegang handphone se-stabil mungkin

Semakin stabil kamera, maka akan semakin bagus foto yang dihasilkan. Jadi usahakan agar tangan Sobat tidak goyang atau bergerak pada saat mengambil foto. Jika perlu, manfaatkan benda yang lebih stabil sebagai sandaran, misalnya bangku atau tembok atau pohon, atau tiang listrik, dst. Tidak disarankan untuk bersandar pada mobil, motor, apalagi bajaj.


Nah, sekarang ini, mulai bermunculan fotografer makanan yang hobby menjepret makanan atau minuman dengan smartphone. Kalau Sobat termasuk salah satunya, maka sebaiknya Sobat mulai berfikir untuk membeli tripod untuk sarana penunjang (paling tidak dipikirkan dulu, masalah diwujudkan sih, tergantung isi kantong).


5. Baca dan pelajari tips tentang komposisi

Pengetahuan tentang komposisi yang ciamik akan membantu Sobat memotret dengan lebih baik. Cobalah baca tips komposisi singkat ini. Beberapa aturan komposisi (contohnya aturan segi tiga dan segi empat) akan sangat membantu menghasilkan foto yang lebih “hidup” dan terlihat lebih berbicara. Tapi jangan terlalu kaku bahwa semua foto harus mengikuti aturan komposisi, karena selera dan intuisi fotografer juga layak diikuti.


6. Cobalah memotret dari posisi dan sudut yang tidak biasa

Foto yang dibuat dari sudut yang biasa-biasa saja maka hasilnya sudah pasti biasa-biasa juga. Untuk itu cobalah memotret dari sudut yang tidak biasa, pakai posisi yang berbeda, misalnya jongkok, duduk, tengkurap, terlentang, koprol, salto, dst. Dan ambillah foto dari posisi yang lebih rendah dari objek fotonya. Dengan begitu foto Sobat memberi kesan khusus yang tidak biasa dilihat mata manusia normal (itu artinya, foto Sobat akan menjadi terlihat tak normal…hehehehe).

7. Pilih smartphone terbaik yang bisa sobat beli (atau cicil!)

Mau tidak mau harus diakui, smartphone dengan spesifikasi kamera yang lebih baik akan memudahkan fotografer menghasilkan foto yang lebih baik dibandingkan smartphone yang biasa-biasa saja. Kamera di iPhone X atau Pixel 2 atau Galaxy S9 memiliki dynamic range, reproduksi warna dan kemampuan memotret di kondisi kurang cahaya dengan lebih baik. Mereka juga memiliki fitur yang lebih canggih seperti mode portrait.

Kalau smartphone premium seperti itu ada diluar jangkauan (kantong), beberapa smartphone kategori low budget bisa jadi pilihan. Smartphone alternatif dengan harga lebih "masuk akal" seperti Huawei Honor, Moto G atau Xiaomi Mi6 dikenal memiliki kamera yang sangat baik dengan harga jauh dibawah 3 nama premium tadi.

8. Pastikan lensa selalu dalam keadaan bersih

Sebaik apapun kita memotret dan sebagus apapun obyek fotonya, tapi jika lensa smartphonenya kotor, maka hasilnya pastilah tak bagus. Apalagi kalau handphone Sobat lama disimpan di kantong maka kotoran lama kelamaan akan menempel di lensa kamera, oleh karena itu secara teratur dan berkala bersihkan lensa dari kotoran. Gunakan kain lembut untuk membersihkan, tak perlu cairan apapun. Jika terkena minyak, gunakan cairan pembersih LCD atau kacamata.

9. Kenali waktu jeda shutter

Kamera handphone memiliki apa yang disebut shutter lag, yakni waktu jeda antara saat Sobat menekan/menyentuh icon shutter di layar HP dan saat kamera mulai mengambil foto. Tidak seperti kamera DSLR yang secepat kilat mengambil foto setelah Sobat menekan shutter, handphone terbilang cukup lambreta. Kenali waktu jeda ini dengan baik supaya tangan Sobat tetap tenang sesaat setelah Sobat menekan shutter, jangan bergoyang, jangan colak-colek teman di sebelah, apalagi lempar-lempar.


10. Pilih aplikasi edit foto yang bagus

Handphone memiliki beberapa fitur pengolahan foto bawaan yang cukup menarik (dan lucu-lucu), cobalah pilih aplikasi edit foto yang berkualitas bagus sehingga memudahkan Sobat melakukan editing penting. Silakan cari sendiri.

11. Memotret sesering mungkin

Kita harus bersyukur hidup di jaman digital sehingga berapapun kita memotret, kita tidak perlu mengeluarkan ongkos ekstra. Bayangkan jika anda memotret menggunakan film, berapa roll yang harus dibeli? Karena itu, jangan sungkan dan ragu, potretlah sebanyak dan sesering mungkin sampai memory di handphone anda penuh, semakin banyak kita memotret semakin banyak pula hasil yang bagus


12. Beri efek filter yang pas, jangan lebay

Untuk urusan polesan atau permakan foto dengan filter, memang sifatnya subyektif. Akan tetapi, menurut kebanyakan orang kalau foto sudah terlalu banyak dipoles, hasilnya malah jadi tak keruan. 

Editlah dengan tujuan utama untuk memperkuat kesan foto, bukan untuk menghiasnya. Jika anda menggunakan aplikasi edit foto yang bagus seperti poin di atas, cukup sesuaikan kontras, vignette, crop dan tambahkan mood yang membantu foto tampak lebih keren tanpa berkesan diberi filter berlebihan. 

Demikianlah Sobat sekalian, 12 tips memotret ciamik dengan kamera smartphone. Memang tidak baku, dan juga tidak selalu harus diturut. Tetapi, tak ada salahnya kalau tips ini bisa dipertimbangkan untuk sekedar menambah ilmu dan wawasan.

Salam Jepret.

Selasa, 03 Desember 2019

10 Langkah Awal Belajar Fotografi Praktis



Kemayoran, Jakarta, Selasa, 3 Desember 2019

Fotografi pada saat ini memang sesuatu yang bisa dibilang “gampang-gampang susah”. Fotografi diibilang gampang, karena “gear” nya fotografi memang sudah semakin “murah”, praktis dan simple, tak serumit dan semahal dulu. Bahkan, kamera yang jadi perlengkapan utama fotografi, saat ini seakan-akan sudah menjadi perlengkapan yang makin “merakyat”. Bukan kamera dalam arti hanya kameranya saja, melainkan kamera yang disisipkan pada HP pintar. Alhasil, makin banyak “fotografer” yang muncul. Dari yang skalanya memang fotografer, ataupun yang skalanya hanya “asal jepret”.

Untuk yang fotografer kelas asal jepret, kita tidak bisa menyudutkan atau mem”bully” mereka secara membabi-buta dan sadis. Mungkin mereka memilih untuk menjadi fotografer "asal jepret" karena mereka bingung bagaimana untuk mulai mempelajari fotografi, dan entah tak tahu harus mulai darimana untuk bisa memotret dengan pantas.

Nah, daripada kita men”judge” mereka dengan sadis, ada baiknya kita bagi-bagi ilmu disini. Supaya gampang, ini ada 10 langkah praktis dalam belajar fotografi.


1. Yang paling utama kita memerlukan kamera (tentu saja kita butuh kamera, apa iya kita bisa memotret dengan termos?). Berdasarkan ukuran sensor, kamera itu banyak macamnya, yang paling banyak dimiliki orang saat ini adalah kamera saku, kamera HP dan kamera DSLR. Lalu apa bedanya kamera saku, kamera HP, dan kamera DSLR? Saya cuma mampu membeli kamera saku, atau bahkan, saya hanya bisa punya kamera HP saja, apakah saya tidak bisa belajar fotografi dengan kamera saku atau HP? Jangan takut, meskipun murah, kamera saku atau kamera HP memiliki kelebihan tersendiri dan jangan jadikan halangan untuk belajar fotografi. Dan kalau boleh jujur, sebenarnya, kamera terbaik adalah kamera yang Sobat miliki!

2. Kita perlu belajar tentang eksposur cahaya. Inti dari fotografi adalah eksposure, atau total cahaya yang masuk ke dalam sensor penangkap cahaya. Karena cahaya tersebutlah, citra dari obyek foto itu terbentuk. Fungsi dan perannya fotografer adalah mengatur jumlah cahaya yang masuk dengan mengubah besarnya bukaan lensa, kecepatan rana dan ISO. Tiga elemen inilah yang sering disebut sebagai segitiga emas fotografi. Pelajari aturan-aturan itu dengan baik.


3. Kita tentu harus mempelajari kamera yang kita miliki, terutama mode-modenya, pengukuran cahaya (metering) dan auto fokus. Kenali kamera tersebut. Pelajari dan biasakan untuk menggunakannya. Ingat, kamera bukan barang antik atau kucing yang harus dielus-elus dan disimpan dalam peti yang rapat atau ditaruh kandang. Kamera itu harus digunakan sesering mungkin, dan biarkan kamera itu menjadi bagian dari diri Sobat.

4. Kita perlu tahu apa itu kedalaman fokus (depth of field) dan apa saja yang menjadi perimeternya.


5. Kita harus mengetahui dan menguasai bagaimana teknik mengambil gambar yang tajam dan tidak blur.

6. Kita harus mempelajari komposisi foto yang baik dan juga menarik. Terkadang, ada suatu obyek foto yang sebenarnya bagus, tetapi, ketika obyek tersebut sudah difoto, fotonya jadi berkesan “asal jepret”, hanya karena komposisinya yang kurang ciamik dan kurang pas. Dan komposisi ini menjadi nafas dari setiap foto yang kita hasilkan. Pelajari dengan baik masalah komposisi, mulailah memotret dengan berbagai sudut dan berbagai sisi, lalu kenali, dan pelajari setiap hasil fotonya.


7. Kita harus mempelajari karakter dan bahasa dari cahaya, terutama datangnya cahaya dan intensitas cahaya. Cobalah memotret satu obyek dalam waktu yang berbeda dan sudut yang berbeda. Lalu kenali perbedaannya. Ketika kita mampu mengenali dan memahami efek dari cahaya terhadap suatu obyek, maka disitulah kita mampu mengenali keindahan suatu obyek foto.

8. Kita harus belajar membaca situasi, membaca moment dan mengambil foto pada moment yang tepat. Banyak sekali moment yang menarik di sekitar kita, dan itu adalah suatu yang berharga, jika kita mampu mengabadikannya dengan kamera.

9. Kita harus mampu membuat foto itu bercerita. Mampu membuat foto itu menjadi hidup, paling tidak untuk diri kita sendiri dahulu, baru setelah itu dipermak perlahan agar orang lain juga mampu membaca tutur kata dari foto yang kita buat.

10. Kita harus belajar mengolah foto dengan efek digital. Olah foto di era digital mudah dipelajari dan membuka bab baru dalam fotografi digital.


Demikian kira-kira 10 Langkah Awal Belajar Fotografi Praktis. Seperti yang Sobat lihat, sebanarnya setiap langkah tersebut dapat kita jabarkan lagi secara lebih detil, namun itu nanti, bukan sekarang. Fotografi merupakan ilmu yang berkembang begitu pesat dan tidak ada habisnya, tapi, apabila sobat menemui kesulitan, jangan pernah menyerah dan pelajari dan terus praktekkan.

Teruslah memotret dan salam jepret.

Senin, 02 Desember 2019

Fotografi Komersial - Foto Gedung (Nasehat untuk fotografer?)...Bagian Pertama



Kemayoran, Jakarta, Senin, 2 Desember 2019

(Ini kisah dua babak. Babak pertamanya adalah yang saya posting hari ini. Sebenarnya, cerita ini bisa saja jika saya tuliskan hanya dalam satu bagian saja. Tetapi, tak ada salahnya juga kan kalau saya unggah menjadi dua bagian, iya kan?)

Beberapa bulan belakangan, bolehlah saya bilang sebagai bulan cobaan. Banyak betul cobaan yang datang, dan herannya, kok ya betah banget itu cobaan sampai menginap berbulan-bulan pada diri saya. Mulai dari cobaan di sawah tempat saya nyari sesuap nasi, cobaan macet di jalan gara-gara banyaknya galian, cobaan tagihan, sampai dengan cobaan yang datangnya dari diri sendiri. “Weleh…weleh…weleh!” 


Ujung-ujungnya, semua cobaan itu bermuaranya di duit juga. Ternyata, benar juga peribahasa yang sering saya baca di tempelan pantat motor yang kerap saya lihat kalau lagi kena macet di jalan, dan peribahasa yang satu itu juga banyak diomongin orang-orang yang lagi ga punya duit macem saya sekarang ini: “Uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang!”


Peribahasa itu memang ngeselin, tapi ada benarnya juga, paling tidak, untuk saat ini peribahasa itu terasa benar menurut saya.

Yah….Daripada bingung dan pusing, ada baiknya minum kopi sambil merokok lagi, moga-moga saya bisa dapat inspirasi atau bisa ketiban rejeki. Kemudian, pergilah saya ke warung kopi malam itu. 

Dan benar saja, walaupun hanya sebagian yang benar. 

Memang, tak lama kemudian, ada yang datang. Tetapi, bukan inspirasi apalagi rejeki, melainkan kawan lama saya si Bedul yang datang menyambangi saya. Buat saya, Bedul ini lebih mirip ke arah “cobaan” ketimbang “inspirasi”! Kok bisa cobaan? 

Nah, sebentar lagi sobat-sobit akan paham, kenapa kawan saya ini lebih cocok disebut “cobaan” ketimbang “inspirasi” (untuk sobat yang belum mengenal kawan saya si Bedul ini, silahkan baca artikelnya di sini dan sini).

“Hallo om, lagi asik ngopi nih?” Tanya Bedul dengan ekspresi yang ceria-ceria ngeselin.

“Bukan brohhh….lagi berenang. Udah tau lagi ngopi, masih ditanya!”

“Wah, cocok lah, saya juga belum ngopi nih Om sedari pagi!”. Dan duduklah dia di sebelah saya, sambil mengacungkan jarinya ke arah penjual kopi, “Kopi hitam bang, satu, cepetan! sama dia ya bayarnya!” Tak ketinggalan jarinya menunjuk ke arah saya, sambil tersenyum manis.

Tuh kan! Apa saya bilang, cobaan!

Tapi, bedanya si Bedul kali ini, dia hari ini lebih banyak berceloteh ketimbang diam. Kali ini dia banyak bicara tentang “menjual foto”. Rupanya, kawan saya ini tengah terbuai dengan janji manisnya uang boleh dia jual foto-fotonya.

Bukannya tanpa alasan si Bedul ini ramai berkicau tentang dapat komisi dari menjual foto. Selang dua hari lalu, si Bedul ini dapat order untuk foto, dan bukan sembarang foto, tetapi foto bangunan alias gedung. Rupanya, orang yang menyuruh kawan saya ini tergolong orang yang berduit, dan kebetulan sekali orang ini punya hasrat untuk memamerkan gedung miliknya lewat brosur, supaya laku dan banyak peminat kalau mau dia sewakan. 


Alhasil, dia minta si Bedul untuk mulai ambil foto gedung itu. Dan datanglah si Bedul ke TKP sesuai dengan kesepakatan. Tak main-main memang, si Bedul ini datang lengkap dengan senjata pusakanya tergantung di leher, dan masih ditambah dengan berbagai printilan ajimat pelengkap; kamera, tripod, berbagai macam lensa lengkap dengan filternya, payung, blitz, termos air, air mineral dalam gallon, aneka cemilan, rokok, dan ratusan barang lain yang sulit diungkap dengan kata-kata. Setelah semuanya dirasa sudah mulai pas, mulailah dia menjeprat-jepret si gedung itu. 

Berbagai sudut dicoba, berbagai pencahayaan juga diterapkan, dan berbagai teknik fotografi, mulai dari yang paling sederhana, sampai yang paling serem dan paling njelimet dia gunakan. Bukan hanya “all out”, tetapi sudah sampai “everything out”.


Belum lagi gayanya, wah, pokoknya bikin ngeri deh. Gaya jongkok, berdiri, miring, sampai tiarap, dia pakai semua. Cuma gaya salto yang dia tak pakai. Mungkin dia lagi encok saat itu, jadi dia tak pakai salto saat memotret! 

Setelah urusan jepret menjepret itu beres, lalu pulanglah dia untuk permak foto yang dia bikin tadi. Bukannya tak bagus hasil fotonya, tapi, akan jauh lebih cantik lagi kalau foto-foto itu di”make-up”, kasih edit sana-sini, supaya hasilnya bikin puas hati si pemberi order. Si bedul bilang, foto-foto itu jadi kelihatan sesuai dengan maunya si Juragan setelah dia kasih poles dengan editan.

Dan sehari setelahnya, si Bedul ini kasih foto-foto itu ke Juragan yang pesan fotonya. Dan masih menurut ceritanya si Bedul, bukan main senangnya Juragan itu ketika melihat hasil jepretannya, sembari kasih janji akan kontak dia lagi masalah komisi fotonya itu, dan janji itu adalah hari ini.

Alhasil, hari ini, adalah hari yang dinanti-nanti oleh si Bedul. Hari ini adalah hari dimana si Juragan janji akan kontak dia mengenai komisi. 

“Begitu om ceritanya”, sambung si Bedul dengan nada suara bahagia. Rokoknya habis, dia cabut rokok saya sebatang, dan kali ini dia kasih omongan yang bikin jantung saya ini hampir copot karena kaget.

“Hari ini saya bakal dapet duit om, Juragan itu janji mau kasih ongkosnya hari ini. Jadi saya bisa bayar utang, dan saya janji, si om bakal saya traktir makan sepuasnya.”

“Serius? Janji adalah hutang broh! Bisa masuk neraka kalo ga ditebus itu janji”, sambung saya setengah berseloroh. Memang, saya agak sulit percaya dengan janjinya si Bedul ini. Lebih banyak mangkirnya ketimbang ditepati. Dan kalaupun ditepati, masih ada iming-imingnya, dan biasanya, iming-imingnya itu malah bikin orang yang dijanjikan jadi tambah rugi, tambah stress.

“Tenang om, kali ini beda!” Katanya sambil menyeruput kopinya dengan enteng. Rupanya dia paham kalau saya agak kurang percaya dengan omongannya itu.

“Paling sebentar lagi si Juragan bakal telpon, dan pastinya, hari ini kita akan makan enak om, sampe kenyang. Kita ke restaurant om, bukan makan di warung pinggir jalan, tapi restaurant yang beneran, yang makanannya enak-enak dan mahal-mahal. Si om tenang aja, semuanya saya yang traktir! Pokoknya, hari ini kita habiskan honor foto saya, jangan ada sisa. Kalau perlu, kita makan di beberapa tempat om, supaya lebih mantab!”. Omongannya terpaksa dia stop. HP nya berbunyi. Rupanya si juragan yang dia tunggu-tunggu kabarnya itu menelpon dia. Langsung dia angkat telpon dan kasih isyarat ke saya supaya saya jangan bersuara.

“Gimana Pak? Oh, saya kebetulan lagi di kantor pak, yah, maklum pak, banyak pekerjaan yang harus diselesaikan…”. "Masih saja hobby bohong mahluk yang satu ini", celetuk saya dalam hati.

“Oh, OK Pak, Saya meluncur ke sana”, sambungnya lagi. Sejurus kemudian, dia masukan HP ke saku, berdiri, lalu dia ajak saya temani dia untuk menemui Juragan itu.

“Ayo Om, temenin saya, mau ambil duit nih. Habis itu kita jalan cari makan, sesuai janji saya Om”. Ucap si Bedul sambil pakai jaket. Serius benar rupanya Bedul kali ini. Saya lihat, wajahnya cerah ceria, dan solahnya penuh semangat. Benar rupanya hari ini dia bakal terima uang untuk ongkos fotonya.

“Siap!” Sahut saya jadi ikut bersemangat. Saya bayar kopi, yang untungnya hanya habis dua gelas saja, lalu saya ikuti langkah Bedul menuju motor yang saya parkir di depan warung. Wah, tentunya dia bakal traktir saya isi bensin juga. Jadi makin semangat saya jadinya. 


Tak sampai satu jam, sampailah kami ke rumah si Juragan itu. Rumahnya mentereng, mewah, dan di dalam garasi serta halaman, berderet mobil mewah yang bikin saya jadi tambah sumringah. Kalau dilihat dari semua kemewahan ini, tak salah tentunya kalau saya jadi punya pikiran yang muluk-muluk. Bedul pasti dapat ongkos lumayan banyak untuk fotonya. 

Terbayang sudah berbagai macam makanan enak yang bakal saya santap malam ini. Zonder bayar, alias gratis. Wah! Kalau setiap malam bisa begini, saya tak akan keberatan kalau harus membonceng si Bedul kemanapun. Kalau perlu saya gendong dia ke atas gunung! Serius!

Rabu, 27 November 2019

5 Cara Memotret Bunga Supaya Hasilnya Ciamik ! (Semoga......!)



Kemayoran, Jakarta, Rabu, 27 November 2019

Selamat berjumpa lagi ya sob. Apa kabarnya sobat-sobat semuanya? Moga-moga baik dan sehat selalu ya sob. 

Oh ya sob, artikel kali ini, saya mau coba untuk menulis, secara singkat aja sih, tentang cara memotret bunga supaya hasilnya bisa kelihatan ciamik alias layak disebut sebagai hasil foto bikinan fotografer.

“Bunga?, Lho, Kenapa harus bunga?”

“Lah, Memangnya kenapa dengan memotret bunga?” 

“Apakah salah dan hina jika memotret bunga?” 

“Apakah haram hukumnya, memotret bunga?”

Ya, tentu ga salah dong memotret bunga! Malah bunga itu adalah salah satu obyek foto yang boleh dibilang abadi. Juga termasuk obyek foto yang super kalem, super beraneka rupa, dan yang paling menarik dari bunga itu adalah…..mudah dapatnya!


Tapi, layaknya obyek foto yang lain, bunga termasuk obyek yang gampang-gampang susah untuk dipotret. Bukan karena bunga itu sok jual mahal, atau susah diatur, atau gampang ngambek, atau centil, atau banyak gaya, atau banyak maunya!

Bukan itu Sob!

Sama halnya kalau kita motret obyek lain, yang namanya memotret bunga, itu juga harus diperhatikan, supaya foto yang kita hasilkan, bukan foto asal jepret saja Sob. Nah, dibawah ini, akan saya coba paparkan dengan sepenuh jiwa raga, tentang gimana sih caranya memotret bunga yang (tidak) sesuai dengan kaidah perfotografian dunia?

Ada beberapa unsur dan elemen yang perlu Sobat perhatikan pada saat memotret obyek bunga tersebut. Nah, monggo disimak beberapa trik berikut ini ya Sob:


1. Cahaya

Apik tidaknya hasil foto bunga yang Sobat jepret, salah satunya bergantung pada elemen cahaya. Konon katanya, waktu yang paling indah dan paling cocok untuk memotret bunga adalah pada saat siang hari. Namun sebenarnya itu adalah waktu yang paling tidak direkomendasikan oleh para ahli dari BMKG (“nah lho, kok BMKG?”) karena cahaya matahari pada siang hari itu intesitasnya maksimal, sehingga bisa mengaburkan hasil foto dan membentuk bayangan. Belum lagi, sobat bisa over exposure dalam hal pencahayaan, alhasil, fotonya jadi ga bagus. 

Dus, secara siklusnya si bunga itu sendiri. Untuk sebagian besar bunga, siang hari adalah periode dimana si bunga lebih memilih untuk sedikit “melayukan” kelopaknya, sehingga tampilannya akan terkesan tidak fresh alias kucel. Tapi ini tidak berlaku untuk semua bunga ya Sob, tergantung jenisnya.

Jadi, supaya hasil fotonya bisa aman dan terkendali, sebaiknya Sobat memotret bunga pada saat pagi hari atau sore hari ketika cahaya matahari tidak terlalu cerah, agar hasil foto bunga yang Sobat ambil warnanya bias lebih ciamik.

Dan yang tak kalah pentingnya, kalau memotret pada saat pagi atau sore hari, Sobat bisa terbebas dari warna kulit yang kusam dan gelap akibat terpapar sinar matahari, untuk itu lotion ini akan sangat…….”Lah….kok malah ngelantur sih?”


2. Titik Fokus

Tentukan titik fokus obyek yang Sobat akan jepret, entah itu sekumpulan bunga berwarna-warni atau hanya setangkai bunga. Perhatikan bagian apa saja yang akan dimasukkan ke dalam frame Sobat. 

Perhatikan juga background atau foreground obyek, jangan sampai ada hal-hal yang mengganggu. Jika background ataupun foreground obyek dirasa tidak menarik, lebih baik mencari titik fokus yang lain.

Contohnya, pada saat Sobat akan memotret bunga, eh, tiba-tiba ada tukang es cendol, atau tukang bubur ayam yang menghalangi! 

Itu kan mengganggu banget, iya kan Sob? 

Kalau ketemu kasus seperti itu, gampang kok Sob. Sobat tinggal samperin itu tukang cendol atau bubur, pasang tampang melas dan sedih, sambil ngomong begini: “Bang, utang dulu, boleh ga Bang?”
Saya berani jamin, itu tukang cendol atawe bubur, langsung minggat deh!


3. Jangan sampai goyang

Kadangkala, secara tak sadar tangan sering goyang saat Anda tengah memotret. Atau malah seluruh badan kita yang goyang. Contohnya, pas lagi mau motret, tiba-tiba ada angin, atau malah ada Orkes Dangdut Keliling yang numpang pentas. Walhasil, foto yang kita jepret ada yang kabur. Ini wajar-wajar saja. Untuk itulah, disarankan Sobat minum tolak angin dan memakai tripod untuk mengurangi sindrom tangan bergoyang akibat angin, sehingga foto yang dihasilkan bisa terlihat lebih baik.

Tapi Sob, metode tolak angin dan tripod ini ternyata tidak mampu menyelesaikan masalah, kalau ternyata gangguan yang lewat itu Orkes Dangdut keliling alias Dorling! Percuma Sob!

Cara yang paling ampuh untuk mengatasi gangguan dari godaan Orkes Dangdut Keliling adalah; siapkan duit lima ribu perak, terus sobat bolehlah ikutlah joget dulu bangsa dua atau tiga lagu untuk memuaskan dahaga hati akan panggilan berjoget. 

Begitu Orkes Dangdut keliling alias Dorlingnya kelar, baru deh terusin motret lagi! (Ingat ya Sob, cukup joget dua atau tiga lagu saja! Jangan sampai jogetnya full satu album….itu mah kebangetan namanya! Mau motret apa mau joget? Jangan gitu lah, kalau mau motret itu harus konsekuen dan fokus dan….#*$###**?!@#@!#%$)


4. Sudut dan Jarak

Jangan memotret bunga hanya dari satu sisi saja. Disarankan untuk berputar mengelilingi bunga tersebut dan tidak hanya diam di satu tempat. Coba juga mengambil foto obyek tersebut dengan berbagai sudut ketinggian, baik dari atas, sama, atau lebih rendah dari obyek. Perhatikan pula jarak Sobat berdiri saat akan mengambil foto dengan obyek yang difoto. Jangan terlalu jauh, apalagi sampai beda kelurahan atau propinsi……Bisa gagal deh motretnya!


5. Libatkan Obyek Lain Dalam Frame

Sebuah foto akan terlihat lebih hidup jika kita bisa mengambil obyek tersebut dengan frame-frame yang unik. Jadi jangan hanya memotret bunganya saja, tapi cari cara yang unik untuk memotret bunga tersebut. Misalnya dengan melibatkan obyek lain yang ada di sekitarnya seperti ranting, serangga yang ada di bunga, harimau, atau ular, atau sekalian saja badak jawa bercula satu, dijamin bubar deh, ga jadi motret lagi!

Nah, itulah sob, lima trik, yang rasa-rasanya, tak perlu sobat terapkan, karena memang ngaco. Tapi, kalau sobat mau terapkan juga….Yah….Resiko tanggung sendiri ya sob!

Oh ya, kalau ada sobat yang masih belum mengetahui apa itu bunga, orkes dangdut keliling, dan lain sebagainya, Sobat bisa membaca deskripsinya di catatan di bawah ini. 

Akhir kata…..salam jepret untuk semua.


Catatan:

Orkes Dangdut Keliling adalah satu grup pengamen music dangdut atau Orkes dangdut yang pada saat keliling mengamennya menggunakan sarana gerobak dorong, atau yang lebih dikenal dengan sebutan dorling. Dalam gerobak dorong itu ada pengeras suara dan sebagainya. Biasanya mereka mengamen pada malam hari.

Bunga atau kembang (bahasa Latin: flos) adalah alat reproduksi seksual pada tumbuhan berbunga (divisio Magnoliophyta atau Angiospermae, "tumbuhan berbiji tertutup"). Pada bunga terdapat organ reproduksi, yaitu benang sari dan putik.

Tukang es cendol adalah penjaja atau penjual jajanan es cendol, biasanya berkeliling dengan gerobak, atau bisa juga mangkal di satu tempat (lha iya dong, terserah tukangnya juga kelez...ngapain situ ngatur-ngatur tukangnya buat keliling atau mangkal....).

Es Cendol adalah minuman khas Sunda yang dahulunya terbuat dari tepung hunkwe, namun kini cendol terbuat dari tepung beras, disajikan dengan es parut serta gula merah cair dan santan. Rasa minuman ini manis dan gurih.

Tukang bubur ayam adalah penjual atau penjaja sejenis jajanan atau penganan yang terdiri dari bubur nasi lengkap dengan lauk-pauknya. Biasanya keliling dengan gerobak, tapi banyak juga yang mangkal.

Bubur ayam adalah salah satu jenis makanan bubur dari Indonesia. Bubur nasi adalah beras yang dimasak dengan air yang banyak sehingga memiliki tekstur yang lembut dan berair. Bubur biasanya disajikan dalam suhu panas atau hangat. ... Selain sarapan, bubur ayam kerap menjadi pilihan hidangan hangat di tengah malam.

(Artikel ini terinspirasi dari artikel yang tayang di inet.detik.com dengan judul "5 Kunci Sukses Memotret Bunga Layaknya Fotografer". Artikel arisinilnya bisa dibaca di sini)



Selasa, 26 November 2019

Bagaimana cara memulai fotografi hitam putih? (Pertanyaan...ataukah mengingatkan?)



Kemayoran, Jakarta, Selasa, 26 November 2019

Malam hari disini, sudah menjelang Isya. 

Sebenarnya, pertanyaan ini sudah lama diajukan kepada saya…..Lama sekali! Tapi baru sempat saya tulis sekarang.

“Om, gimana sih caranya ambil foto hitam putih yang baek dan bener?” 

Duh….Tepok jidat nih saya kalau dapat pertanyaan seperti ini. Dia pikir si “fotografi” itu lagi sakit parah, atawe sakit gigi, atau si “fotografi” sedang terjerumus dalam perbuatan yang sesat?....kok dia pake tanya, fotografi yang “baek dan bener” itu gimana?....

Apa ini orang tak paham, sudah dua tahun ini saya tak lagi pegang kamera. Sudah dua tahun ini, saya punya kamera sudah saya bungkus dalam tas, masuk ke dalam rak, dan hanya jadi salah satu benda penghuni tempat terkutuk itu? Dan terlalu lama saya tak pegang kamera, sampai saya lupa, seperti apa bentuknya kamera, dan apa itu shutter dan lensa!

Gimana caranya saya jawab pertanyaan seperti itu? 

Bakalan beda cerita kalau pertanyaan sobat saya itu diajukan dua tahun kemarin. Waktu saya masih rajin jepret sana dan jepret sini. Dan kalau sohib saya itu tanya saya saat itu, pasti akan saya jawab pertanyaan sohib saya itu dengan penuh semangat yang berkobar, ditimpali dengan intonasi suara yang naik turunnya macam ombak lautan saat badai besar, dus dengan petir menggelegar dan sambar menyambar….Saya jawab pertanyaan dia sampai khatam….Zonder sisa!!

Tapi, sayangnya, itu dulu…dan….Ya.....Seandainya!



Sekarang saya sama sekali tak mampu menjawab pertanyaan itu….Tak ada intonasi seperti ombak apalagi petir….Yang ada cuma jawaban lirih!

“Tanya mbah google aja sob!”…..Lirih, bahkan nyaris tak terdengar.

Dengar jawaban saya yang “tanpa nyawa” seperti itu, sohib saya kelihatan kaget. Dia pasang roman muka aneh sambil melihat muka saya dalam-dalam, dia pikir, dia salah orang, dan pasti dia berpikir, yang berdiri didepan dia saat itu bukanlah saya!

Saya Cuma senyum….”Bener sob, saya bingung gimana jawabnya” timpal saya, sambil masih pakai intonasi macam manusia yang sudah berhari-hari tak ketemu nasi.

“Coba aja dijawab!”…cecarnya agak ga sabar. 

Agak merasa berdosa juga kalau saya tak jawab pertanyaan sobat saya itu. Lama kami berkawan, tak enak juga kalau saya kecewakan dia kali ini.

Yah......okelah, saya akan coba jawab saja pertanyaan dia itu, semampu saya, sebisa saya.

Dan saya ajak sohib saya itu pergi ke warung. Seperti biasa, lagi-lagi ditemani kopi hitam, dan lagi-lagi dihiasi asap rokok!

Alhasil…..mulailah saya bercerita, tentang foto hitam putih, dan inilah ceritanya:


Apakah Sobat pernah menyadari bagaimana beberapa foto hitam-putih terlihat begitu menakjubkan, begitu hidup, dan begitu mampu bertutur kata? dan kemudian sobat ingin mencoba menciptakan foto yang serupa dan hasilnya bikin miris? Hal pertama yang mutlak diperlukan dalam menciptakan foto hitam-putih adalah jiwa, dan hati, dan sama sekali bukan tentang kamera.


Untuk bisa membuat sebuah foto hitam-putih yang bagus kita harus mampu memahami obyek itu secara utuh dalam hitam putih. Tekstur, garis, guratan, atau apa saja yang tampak seperti itu dan bisa ditonjolkan melalui warna hitam dan putih.


Tekstur-tekstur tertentu, semisal tekstur alami akan tampak lebih hidup dan lebih terlihat “bernafas” jika disajikan dengan warna hitam dan putih. Esensi foto hitam dan putih itu adalah tentang menangkap aura dan suasana dramatis, jadi jika obyek foto yang kita incar itu memiliki unsur yang dramatis secara alami, maka sobat sudah melalui langkah pertama dalam menciptakan foto hitam-putih. Contoh tekstur yang tampak bagus dalam nuansa hitam dan putih adalah serat kayu, pecahan logam, pola yang berulang di alam bebas seperti air atau spiral, gurat wajah, dan keseharian akan terlihat kuat, memiliki kharakter, dan bagus untuk foto hitam-putih.


Melalui warna hitam dan putih, cobalah untuk tetap menyertakan unsur simetris dalam frame yang kita ambil. Hal ini lebih mudah untuk membuat foto hitam-putih ketika kita memiliki simetris karena foto tersebut tentunya akan kehilangan unsur warna. Tekstur yang simetris dalam warna hitam dan putih akan terasa lebih hidup dan lebih berbicara, dan selalu menawarkan aura yang tidak dapat ditangkap oleh mata secara awam.


Greyscale bukannya tidak memiliki warna, atau semua yang diambil dalam nuansa abu-abu. Sobat harus memahami konsep greyscale terlebih dahulu sebelum memahami dan menguasai fotografi hitam-putih. Greyscale merupakan spektrum warna hitam, banyak abu-abu dan putih, seperti warna pelangi tetapi bedanya ini dalam serangkaian warna hitam dan putih serta tone abu-abu. Cobalah sobat melihat beberapa hasil karya foto hitam-putih, tentunya tidak hanya melulu warna hitam dan putih kan? 


Sebenarnya banyak nuansa serta kedalaman warna abu-abu yang berbeda. Jadi ketika Kita berbicara tentang greyscale, ini berarti adalah cara kita mengukur kedalaman tone abu-abu. Hitam dan putih tentunya termasuk dalam greyscale (skala abu-abu).

Ini akan terdengar sedikit aneh, tetapi ketika kita menemukan apa yang terlihat bagus dalam hitam-putih, sobat bisa memulainya dengan warna kontras yang tinggi pada setiap subyek yang ada di dekat kita. 


Warna mencolok seperti merah, ungu, kuning bisa menjadi bahan uji coba awal yang bagus. Dengan menggunakan warna-warna tajam seperti itu, kamera kita akan menafsirkannya secara berbeda. Silahkan Sobat mencoba dan bereksperimen terhadap warna-warna tersebut. Jika sobat tidak bisa menemukan warna-warna kontras itu di sekitar rumah, maka cobalah ke taman terdekat dan potretlah beberapa bunga yang memiliki warna tersebut.

Jadi yang perlu di pahami dan dimengerti adalah foto hitam-putih sebenarnya bukanlah zonder warna sama sekali. Dalam foto hitam putih itu ada warna, bahkan lebih banyak warna ketimbang foto yang benar-benar berwarna. Tujuan dari foto hitam-putih saat ini (bukan pada era kamera dan film dimana tidak ada pilihan selain hitam-putih) adalah menciptakan nuansa abadi dan tidak lekang oleh waktu, dan dengan prespektif yang tepat tentunya akan bisa menyampaikan pesan serta cerita tentang apa yang ada dalam frame itu, secara utuh, alami, dan juga sangat hidup.


Tapi yang paling utama adalah: Jangan pernah berhenti untuk mencoba memotret, dan jangan pernah memotret dengan mata, tapi cobalah memotret dengan hati. Nafas dari setiap foto, adalah cerminan dari hati si fotografer. Foto itu bukan hanya karya, tetapi foto itu adalah sidik jiwa dari sang fotografer yang terekam dalam frame.

Sampai disini, saya perlu diam sekejap. Saya menunggu reaksi sohib saya itu, menunggu supaya otaknya bisa mengunyah dan menelan omongan saya barusan. Jangan-jangan, jawaban saya tidak bikin sreg dia punya hati.

Tapi, untungnya dia menerima jawaban saya, sambil cengar-cengir, dia buka bicara:

“Ah, untunglah……Gue kira lu udah bener-bener pension dan ga mau motret lagi!”

“Jawaban lu barusan, ngebuktiin kalo lu cuma ga sempet motret, atawe lagi jenuh motret,….bukan ga mau motret, apalagi ga akan motret lagi!”

Kaget saya denger jawaban dia. Agak malu juga dengar komentarnya. 

Saya akui, beberapa tempo belakangan ini, saya memang benar-benar tak punya kesempatan lagi pegang kamera. Terlalu banyak yang mengganggu, terlalu banyak yang menghalangi. Tapi, sebenarnya, terlalu banyak alas an yang saya bikin, untuk membenarkan kealpaan saya dan kemalasan saya memotret!

Rupanya, sobat saya itu bukan bertanya, tetapi mengingatkan saya.

Sambil saya hisap asap rokok dalam-dalam, saya mulai merasa lucu dan juga malu.

Lucu, karena saya pikir, tadinya sobat saya itu hanya ingin bertanya saja.

Dan malu, karena sobat saya itu rupanya bisa memahami dan mengingatkan saya akan kealpaan dan juga alasan yang selalu saya buat selama ini...alasan untuk tidak motret!


Catatan:
Cerita ini terinspirasi oleh artikel yang ditulis oleh ariespiskha, dan dalam artikel aslinya yang berjudul "Bagaimana Memulai Fotografi Hitam Putih" yang sudah tayang di www.infotografi.com.
Artikel aslinya dapat dilihat di sini.