Di era "kekinian" seperti sekarang, di mana setiap smartphone sudah punya mata (lensa) yang lebih banyak dari mata manusia, batasan antara fotografer profesional dan orang yang cuma "asal jepret" jadi makin absurd. Sobat pasti sering lihat, kan? Di kafe, di konser, sampai di pinggir jalan, semua orang mendadak jadi atlet squat demi dapat angle yang katanya "estetik".
Pertanyaannya: Apakah cuma dengan modal jempol dan filter gratisan, seseorang sudah layak dijuluki fotografer? Atau itu cuma delusi massal di tengah banjir kuota internet?
Mendefinisikan Fotografer (Versi Kamus vs Versi Realita)
Kalau Sobat buka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), definisi fotografer itu ternyata simpel banget: "tukang foto" atau "juru foto". Secara sederhana, kalau Sobat mencet tombol shutter buat moto sendal jepit sobat yang putus, Sobat memang sudah jadi "tukang foto". Selamat, gelar akademik dari KBBI sudah Sobat kantongi!
Tapi tunggu dulu. Kalau Sobat melipir ke Wikipedia atau dengerin ocehan para "ahlinya ahli" di forum fotografi, definisi dari fotografer jadi ribet. Fotografer dianggap sebagai sosok yang mengerti cara menjinakkan cahaya, paham komposisi, dan punya rasa seni yang nggak bisa didapat cuma dari download aplikasi. Di sinilah drama dimulai. Ada kubu yang merasa "suci" karena pakai kamera yang harganya selangit, dan ada kubu "fotografer hape" yang merasa hasil jepretannya sudah setingkat National Geographic.
Estetika: Seni yang Sering Bikin Darah Tinggi
Masalah klasik muncul saat kita bicara soal hasil. Apa sih tolok ukur foto yang ciamik? Apakah harus pakai teknik Rule of Thirds sampai biji mata juling? Ataukah harus pakai teknik Long Exposure sampai kaki Sobat kering karena digigit nyamuk?
Jujur saja, penilaian seni itu subjektifnya minta ampun. Sebuah foto yang menurut Sobat adalah "mahakarya penuh makna", bisa jadi di mata orang lain cuma terlihat seperti "foto blur yang lupa difokusin". Apalagi sekarang ada tren editing yang saking sadisnya, bisa mengubah muka yang tadinya "abstrak" jadi sehalus porselen.
Karena persepsi seni itu liar, debat soal siapa fotografer yang "asli" nggak akan pernah kelar sampai kiamat kurang dua minggu. Yang satu bilang "ini seni!", yang satu lagi bilang "ini mah sampah digital!". Ya sudahlah, namanya juga hidup di negara demokrasi digital.
Antara "Menangkap Momen" dan "Pamer Gadget"
Kita harus jujur, Sobat. Banyak orang sekarang lebih sibuk pamer merk kamera daripada pamer hasil jepretan. Ada yang kameranya canggih banget sampai bisa moto dimensi lain, tapi nggak tahu cara ngatur ISO. Sebaliknya, ada yang pakai ponsel jadul tapi bisa bikin kita merinding pas lihat hasil jepretannya.
Fotografi itu soal rasa, bukan soal berapa banyak cicilan kartu kredit buat beli lensa. Tapi ya jangan baper juga kalau dikritik. Di dunia ini memang banyak "pakar dadakan" yang hobinya cuma nyinyir tanpa pernah bikin karya. Mereka ini ibarat komentator bola yang nggak bisa nendang bola, tapi jago nyalahin pelatih. Nggak usah didengerin, Sobat!
Pesan Pedas Buat Sobat Pemula: Jangan Berhenti!
Lantas, apa bedanya fotografer yang "beneran" sama yang "iseng"? Jawabannya: Nggak ada yang peduli, kecuali ego Sobat sendiri.
Buat Sobat yang baru mulai, dengerin ini baik-baik: Jangan biarkan komentar sarkastik dari orang-orang yang merasa "paling pro" bikin Sobat minder. Mereka yang sekarang pamer karya di galeri mewah juga dulunya pernah moto jari sendiri karena lupa posisi lensa.
Satu hal yang pasti: Begitu Sobat berhenti memotret karena takut dibilang "amatir", saat itulah kreativitas Sobat resmi meninggal dunia. Jadi, masa bodoh sama label! Mau pakai DSLR, mirrorless, atau kamera ponsel yang lensanya sudah baret-baret pun, tetaplah motret. Teruslah mengasah cara Sobat melihat dunia. Karena pada akhirnya, yang bicara adalah karya, bukan merk kamera atau jumlah like di Instagram.
Dunia ini sudah cukup penuh dengan orang yang jago kritik. Kita nggak butuh satu lagi kritikus; kita butuh lebih banyak orang yang berani berkarya, meskipun hasilnya masih "berantakan". Teruslah berkarya, Sobat! Karena setiap jepretan adalah bukti bahwa Sobat pernah melihat keindahan di dunia yang kadang terasa semrawut ini.
Kalau menurut Sobat sendiri, apa syarat utama buat seseorang bisa disebut fotografer? Yuk, tulis pendapat Sobat di kolom komentar!



Postingan yang bagus! dan Keren!
BalasHapusHasil karya yang sangat menarik serta menambah wawasan! Dan juga foto-foto yang luar biasa....Great Job!
BalasHapusLumayan bagus....mantab lah mas ! Ditunggu karya lainnya...4 Jempol!
BalasHapus