Senin, 31 Mei 2021

Tiga Aturan Emas Fotografi! (Ini Bukan Ilmu Silat...Ini Ilmu Fotografi!) - Tulisan Bagian Kedua



Radio Dalam, Kebayoran Baru, Jakarta, Senin, 31 Mei 2021

Salam jumpa lagi Sobat. Seperti janji saya sebelumnya,  artikel ini adalah artikel lanjutan dari artikel pertama (Tiga Aturan Emas Fotografi! (Ini Bukan Ilmu Silat...Ini Ilmu Fotografi!) - Tulisan Bagian Pertama)), dan artikel ini adalah bagian akhir dari dua episode tersebut. Silahkan menikmati ya Sob!

1. SHUTTER SPEED (KECEPATAN RANA)


Jika Aperture adalah seberapa lebar "jendela" kamera dibuka, maka Shutter Speed adalah seberapa lama jendela itu dibiarkan terbuka untuk menyerap cahaya. Semakin lama durasinya, semakin banyak cahaya yang masuk ke sensor, dan hasil foto pun akan bertambah terang.

Satuan shutter speed dihitung dalam hitungan detik atau pecahan detik—mulai dari yang sangat cepat seperti 1/4000 detik, standar 1/125 detik, hingga hitungan detik panjang seperti 30 detik (atau bahkan mode Bulb yang membiarkan rana terbuka sesuka hati kita).

Catatan Kecil: Berbeda dengan aperture yang posisinya ada di dalam lensa, setelan shutter speed ini dikendalikan sepenuhnya dari bodi kamera.

Selain mengatur kuantitas cahaya, shutter speed adalah senjata utama Sobat untuk mengendalikan efek gerakan (motion):

Shutter Speed Tinggi (Cepat): Berfungsi membekukan gerakan (freeze motion). Cocok untuk menjepret objek bergeraknya super cepat seperti aksi atlet di lapangan, tetesan air yang membal, atau kendaraan yang sedang melaju.

Shutter Speed Rendah (Lambat): Berfungsi merekam jejak gerakan secara berkesinambungan (motion blur). Sangat pas untuk menciptakan efek air terjun yang lembut seperti kapas, atau merekam jejak lampu kendaraan (light trail) di malam hari.


2. ISO (SENSITIVITAS SENSOR)


Jurus ketiga adalah ISO, yaitu ukuran seberapa sensitif sensor kamera Sobat terhadap cahaya. Rentang angkanya biasa dimulai dari angka kecil seperti 100 (atau 50/80), lalu melipat ganda ke 200, 400, 800, 1600, hingga 3200 dan seterusnya.

Aturan mainnya sederhana: Semakin kecil angkanya, semakin rendah sensitivitasnya. Begitu juga sebaliknya.

Namun, ISO tinggi bukan tanpa kompromi. Menggenjot angka ISO saat memotret di tempat gelap memang membuat gambar jadi terang, tapi ada "bayaran"-nya: munculnya bintik-bintik pengganggu yang kita sebut noise. Foto akan terlihat berbintik kasar seperti pasir dan detail-detail halus pada gambar bisa hilang.

Sedikit Nostalgia: Di era kamera analog dulu, ISO lebih dikenal dengan sebutan ASA. Bedanya, di zaman film analog, tingkat sensitivitas terkunci pada gulungan film yang kita pakai. Mau tak mau kita harus menghabiskan satu rol film dulu kalau mau ganti ASA. Beruntung di era digital sekarang, kita bisa mengubah nilai ISO hanya dengan memutar dial di kamera kapan saja kita mau!


Catatan Lapangan: Segitiga Eksposurnya Mana, Sob?


Nah, kalau Sobat gabungkan ketiga jurus ini:
  • Aperture (Ruang Tajam & Cahaya)
  • Shutter Speed (Gerakan & Cahaya)
  • ISO (Sensitivitas & Cahaya)

Sobat sudah memegang kendali penuh atas pencahayaan foto (Exposure Triangle). Sobat bebas menentukan apakah foto ingin dibuat agak gelap (underexposed), terang (overexposed), atau pas. Semua kembali ke selera artistik dan cerita apa yang ingin Sobat sampaikan lewat bingkai foto tersebut.

PENUTUP


Itulah Tiga Aturan Emas Fotografi yang wajib—atau mungkin tidak terlalu wajib—untuk kita ulik dan kuasai.

Intinya begini, Sob: "Feel" atau rasa memang jiwa dari sebuah foto. Tapi tanpa diimbangi alias "digosok" dengan penguasaan teknik dasar yang tepat, potensi keciamikan foto kita jelas akan berkurang.

Semoga ulasan dua episode ini ada manfaatnya dan bisa jadi teman ngopi yang menyenangkan buat Sobat semua.

Tetap sehat, tetap semangat!

Salam jepret selalu!

Artikel ini diadaptasi dan ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu

(Artikel ini, sudah tayang di infofotografi.com, dengan judul: Segitiga emas fotografi – Exposure, yang ditulis oleh sang maestro ENCHE TJIN.)

Sabtu, 29 Mei 2021

Tiga Aturan Emas Fotografi! (Ini Bukan Ilmu Silat...Ini Ilmu Fotografi!) - Tulisan Bagian Pertama



Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Sabtu, 29 Mei 2021

Tulisan ini sekedar coretan dari [bukan] fotografer, yang ditulis di masa pandemi. Semoga coretan ini bisa menghibur)

Seperti Sobat ketahui, kunci utama untuk mendapatkan foto yang ciamik adalah feel alias “rasa” dari si fotografer. Tapi, feel saja tanpa didukung trik dan penguasaan dasar-dasar fotografi, tentu hasil foto ciamik yang diharapkan bakal tinggal mimpi—alias hil yang mustahal!

Terus, apa saja sih dasar-dasar fotografi yang perlu dikuasai untuk bisa menghasilkan foto yang enak dilihat?

Kita sebut saja dasar-dasar itu sebagai Tiga Aturan Emas Fotografi! (Sebenarnya itu hanya penamaan dari saya saja, Sob. Sobat bebas memberi nama lain, yang penting adalah penerapan dan penguasaannya, bukan namanya... Bener kan, Sob?)

Ya! Hasil foto yang ciamik sangat tergantung dari Tiga Aturan Emas Fotografi ini, yaitu: Bukaan (Aperture), Kecepatan Rana (Shutter Speed), dan ISO. Kombinasi ketiganya menentukan gelap terangnya sebuah foto.
Nah, di bawah ini kita bahas satu per satu secara singkat. Cekidot ya, Sob!


BUKAAN / APERTURE / DIAFRAGMA


Aperture adalah bukaan pada lensa kamera tempat masuknya cahaya. Kalau bukannya besar, intensitas cahaya yang masuk akan lebih banyak dibandingkan bukaan kecil. Selain mengendalikan cahaya, bukaan juga digunakan untuk mengatur kedalaman ruang (Depth of Field alias DoF).

1. Mengatur Cahaya

Dalam praktiknya di TKP, jika kondisi sekitar sangat terang, Sobat bisa mengecilkan bukaan agar cahaya yang masuk ke sensor lebih sedikit. Sebaliknya, kalau kondisi lingkungan gelap, Sobat bisa membuka bukaan lensa lebar-lebar agar hasilnya tetap optimal.

(Baca juga artikel tentang komposisi fotografi, dalam artikel; "Tips Komposisi Foto, Supaya Lebih Enak Dilihat (Alias Enak di Mata!) - Tulisan Bagian Pertama")

2. Mengatur Kedalaman Ruang (DoF)

Bukaan besar membuat kedalaman ruang menjadi tipis, sehingga latar belakang subjek menjadi buram (bokeh). Sementara bukaan kecil membuat kedalaman bidang menjadi luas, sehingga seluruh objek dalam foto terlihat tajam dan masuk dalam fokus.

Keunikan Angka Setting (F-Stop)


Hal yang sering membingungkan fotografer pemula (termasuk saya dulu) adalah angka setting-nya. Ternyata, nilai angka pada setting bukaan berbanding terbalik dengan besarnya bukaan itu sendiri:
  • Angka Kecil = Bukaan Besar (misal: f/1.4, f/2, f/2.8)
  • Angka Besar = Bukaan Kecil (misal: f/8, f/16, f/22)

Setiap lensa memiliki batas bukaan maksimum dan minimum. Kode yang tertera pada lensa seperti f/3.5-5.6 berarti bukaan maksimumnya bervariasi antara f/3.5 hingga f/5.6 tergantung panjang fokusnya.

Catatan Lapangan: Jurus Cepat Mengingat Aperture


Biar tidak tertukar saat di lapangan, ingat saja rumus sederhana ini, Sob:
  • Ingin foto potret dengan latar buram (bokeh)? Gunakan angka f kecil (seperti f/1.8 atau f/2.8). Bukaan lensa melebar, cahaya masuk melimpah, dan fokus hanya terkunci pada objek utama.
  • Ingin foto pemandangan (landscape) tajam dari depan sampai belakang? Gunakan angka f besar (seperti f/8 atau f/11). Bukaan menyempit, membuat seluruh detail pemandangan masuk dalam fokus.

Eksperimen adalah kunci! Jangan ragu memutar tombol aperture di kameramu untuk melihat langsung perbedaannya secara visual. Selamat mencoba, Sob!

Demikianlah artikel Tiga Aturan Emas Fotografi! (Ini Bukan Ilmu Silat...Ini Ilmu Fotografi!) - Tulisan Bagian Pertama. Baca juga kelanjutan dari artikel ini di: Tiga Aturan Emas Fotografi! (Ini Bukan Ilmu Silat...Ini Ilmu Fotografi!) - Tulisan Bagian Kedua.

Tetap Sehat, Tetap Semangat !

Salam Jepret Selalu !

Artikel ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu 

Selasa, 25 Mei 2021

Ayo Sobat, Kita Belajar Fotografi (Dari Awal!)



Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Selasa, 25 Mei 2021

Panduan Belajar Fotografi untuk Pemula: Dari Bingung Menjadi "Jagoan" (Tanpa Perlu Pusing)


Belajar fotografi bagi sebagian orang—termasuk saya—memang terasa seperti belajar bahasa asing yang tata bahasanya berantakan. Rumit, bikin kening berkerut, tapi jujur saja, sangat menyenangkan! Alhasil, banyak "calon fotografer" seperti Sobat dan saya sendiri mungkin sering kebingungan: sebenarnya harus mulai dari mana? Apakah harus beli kamera seharga motor, atau cukup dengan kamera HP saja?

Nah, artikel ini saya sengaja tulis sebagai sumbang saran mengenai langkah-langkah praktis untuk memulai petualangan fotografi Sobat. Tarik napas dalam-dalam, letakkan rasa minder Sobat di meja, siapkan kopi hitam dan sebatang rokok, dan mari kita mulai.


1. Kamera Itu Wajib (Tentu Saja!)


Ya iya lah! Namanya juga belajar fotografi, masak mau memotret pakai imajinasi? Memotret tidak mungkin terjadi tanpa alat rekam cahaya. Kamera tidak harus mahal. Bisa kamera saku, kamera mirrorless, kamera DSLR, atau bahkan kamera di HP canggih Sobat.

Sedikit koreksi dari zaman dulu: sekarang, kamera tidak cuma dibagi jadi "saku" atau "DSLR". Kita sekarang hidup di era mirrorless yang ringkas tapi canggih. Apa pun yang Sobat pegang, itu adalah "senjata" Sobat. Jangan pernah merasa kurang percaya diri karena kamera Sobat belum punya lensa sebesar termos air. Fokuslah pada objeknya, bukan pada mereknya.



2. Pahami "Nafas" Fotografi: Eksposur


Eksposur adalah total cahaya yang masuk ke sensor. Ini adalah nyawa dari sebuah foto. Jika cahayanya kurang, foto gelap dan noise bertebaran. Jika kebanyakan, foto jadi putih polos (overexposed). Tugas Sobat adalah menyeimbangkan tiga elemen yang saya sebut "Segitiga Emas": Aperture (bukaan lensa), Shutter Speed (kecepatan rana), dan ISO (sensitivitas sensor). Menguasai ketiganya adalah kunci agar Sobat tidak lagi bergantung pada mode "Auto" yang membosankan.


3. Kenali "Jeroan" Kamera Sobat


Banyak pemula yang malas membaca buku manual. Jangan jadi salah satunya, Sobat! Pelajari mode-mode kamera (M, A, S, P), bagaimana sistem metering bekerja (supaya eksposur akurat), dan bagaimana auto fokus mencari subjek. Kamera itu seperti teman kencan; semakin sering diajak komunikasi, semakin Sobat tahu kapan dia akan "menurut" pada kemauan Sobat.


4. Bermain dengan Depth of Field (DoF)


Pernah lihat foto dengan objek utama tajam sementara latar belakangnya blur cantik? Itulah yang disebut Depth of Field. Sobat perlu paham bahwa bukaan lensa (angka f/) sangat menentukan seberapa lebar atau sempit ruang tajam yang dihasilkan. Ini adalah alat bantu utama untuk memisahkan subjek dari keramaian latar belakang.


5. Anti-Blur: Teknik Mengambil Gambar Tajam


Tidak ada yang lebih menyebalkan daripada momen sempurna yang terlewat karena hasil foto buram. Blur bisa disebabkan oleh tangan yang gemetar (camera shake) atau subjek yang bergerak cepat. Belajarlah teknik memegang kamera yang stabil, gunakan tripod jika perlu, dan pahami kapan harus menaikkan shutter speed agar aksi yang cepat bisa "dibekukan".


6. Komposisi: Seni Menata Objek


Kamera bisa memotret apa saja, tapi mata Sobat yang menentukan apakah foto itu enak dilihat atau tidak. Pelajari Rule of Thirds, garis utama (leading lines), dan simetri. Komposisi adalah cara Sobat menuntun mata orang yang melihat foto Sobat agar mereka tahu ke mana harus menatap.


7. Memahami Karakter Cahaya


Fotografer adalah pemburu cahaya. Pelajari arah cahaya—apakah dari samping (menonjolkan tekstur), dari depan (datar), atau dari belakang (backlight untuk siluet). Cahaya pagi yang lembut jelas berbeda dengan cahaya matahari terik jam 12 siang. Semakin peka Sobat terhadap arah dan intensitas cahaya, semakin "mahal" foto yang Sobat hasilkan.

8. Antisipasi: Membaca Momen


Foto terbaik seringkali bukan hasil rencana matang, melainkan hasil dari antisipasi. Belajarlah mengamati situasi. Jangan hanya memotret saat kejadian sudah berlangsung, tapi kejarlah saat momen itu "akan" terjadi. Jadi fotografer itu butuh insting setajam elang.

9. Bercerita dengan Foto


Satu foto yang baik harus bisa "berbicara". Jangan sekadar memotret kucing yang sedang tidur. Cobalah memotret kucing tersebut dengan cara yang menceritakan sesuatu—misalnya, bagaimana ia menjadi penghuni tetap di sudut rumah Sobat. Jika Sobat bisa menyampaikan pesan atau emosi dalam satu frame, selamat! Sobat sudah naik kelas.

10. Sentuhan Digital (Editing)


Di era digital, editing bukanlah sesuatu yang "haram", melainkan bagian dari proses kreatif. "Mengoprek" foto—seperti mengatur kontras, warna, atau cropping—adalah bab baru yang seru. Ini seperti memberikan sentuhan terakhir pada lukisan agar terlihat lebih dramatis dan sesuai dengan visi artistik Sobat.


Penutup


Demikian langkah-langkah belajar fotografi untuk pemula seperti kita. Memang terlihat banyak, tapi percayalah, prosesnya jauh lebih menyenangkan daripada membayangkannya. Fotografi adalah ilmu yang berkembang sangat pesat dan tidak ada habisnya dan kalau boleh jujur, adalah satu ilmu yang sifatnya... "menyenangkan". Kalau di tengah jalan Sobat menemui kesulitan atau hasil foto masih terlihat "acak-adul", janganlah putus asa. Tetap pelajari, terus praktikkan, dan nikmati setiap klik-nya.

Tetap sehat, tetap semangat, dan teruslah berkarya. Dunia ini terlalu indah untuk tidak diabadikan. Salam jepret selalu, Sobat!

Minggu, 16 Mei 2021

Tips Komposisi Foto, Supaya Lebih Enak Dilihat (Alias Enak di Mata!) - Tulisan Bagian Ketiga


Bunga, dalam Perspektif Rule of Third
trisoenoe.com

Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Minggu, 16 Mei 2021

Salam jumpa lagi Sobat. Seperti janji saya sebelumnya,  artikel ini adalah artikel lanjutan dari artikel kedua (Tips Komposisi Foto, Supaya Lebih Enak Dilihat (Alias Enak di Mata!) - Tulisan Bagian Kedua), dan artikel ini adalah bagian akhir dari ketiga episode tersebut. Silahkan menikmati.

8. Rule of odds (jumlah ganjil)

Contoh foto di bawah menggunakan rule of odds, dengan 3 kelopak bunga putih yang dipilih sebagai objek. Komposisi yang dihasilkan akan lemah jika objek yang dipilih adalah 2 kelopak atau 4 kelopak.

Bunga disajikan dengan "Rule of Odds"
trisoenoe.com

Dengan menitikberatkan pada 3 kelopak bunga putih tersebut, maka image yang ditampilkan pada foto tersebut akan lebih "hidup" dan tidak monoton ketimbang menitikberatkan pada unsur kelopak bunga yang berjumlah 2 atau 4.

9. Pola segitiga

Pola-pola berbentuk segitiga pada fotografi secara estetika terlihat lebih menarik jika dibandingkan dengan pola berbentuk datar ataupun persegi empat. 

Tiga Pemancing
trisoenoe.com

Pada gambar di atas, terlihat pola segitiga yang tampil secara "tersamar" (yang diwakilkan oleh tiga pemancing), namun masih dapat dikenali "eksistensi" nya dalam mempengaruhi aura dalam frame.

10. Repetisi

Perulangan dalam kehidupan sehari-hari bisa menimbulkan kebosanan. Akan tetapi dalam fotografi, perulangan yang dipotret dengan komposisi yang tepat akan menarik perhatian pemirsa dan memberikan kesan keteraturan, ukuran, dan atau jumlah yang masif.

Pola Garis
trisoenoe.com

Teknik penting saat memotret dengan kompsisi berulang adalah pengaturan zoom atau focal length lensa. Focal length yang berbeda memberikan efek distorsi.

11. Memecah pola

Melanjutkan bagian sebelumnya mengenai perulangan, ada teknik lanjutan yang sering diterpakan untuk menghasilkan komposisi yang lebih menarik. Yang perlu Sobat lakukan adalah ‘merusak’ pola dengan menampilkan unsur yang berbeda.

Gunakan unsur yang mengikuti perulangan pola, tetapi memiliki karakter yang membuatnya terlihat mencolok lain dari yang lain. Sebagai contoh, bisa dengan memanfaatkan warna yang berbeda sebagai pemecah pattern. Atur komposisi sebaik mungkin, seperti dengan meletakkan elemen pemecah tersebut pada salah titik rule of third.

Tercampak! Bunga di Koral
trisoenoe.com

Pada contoh gambar di atas, terlihat adanya obyek bunga berwarna merah pada pola batu kerikil yang berulang. Obyek tersebut terlihat seperti "merusak", namun malah menambah nilai estetis dari keseluruhan foto

Nah Sobat, demikianlah 11 tips komposisi foto, yang menurut saya, elok untuk diterapkan ke dalam kegiatan jepret menjepret yang Sobat jalani. 

Akhir kata, semoga Sobat terhibur dengan artikel tiga episode ini.

Tetap sehat, tetap semangat, dan patuhi protokol kesehatan ya Sob!

Covid pasti berlalu!

Salam Jepret Selalu

Artikel ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

Jumat, 14 Mei 2021

Tips Komposisi Foto, Supaya Lebih Enak Dilihat (Alias Enak di Mata!) - Tulisan Bagian Kedua


Pondok di Tepi Danau
trisoenoe.com

Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Jum'at, 14 Mei 2021

Sobat, artikel ini adalah artikel lanjutan dari artikel pertama (Tips Komposisi Foto, Supaya Lebih Enak Dilihat (Alias Enak di Mata!) - Tulisan Bagian Pertama). Silahkan menikmati.

4. Simetris

Penggunaan komposisi secara simetri dapat memberi kesan stabil, kokoh, seimbang, sehingga sesuai untuk foto arsitektur. Walaupun demikian, sebaiknya tetap usahakan agar tetap ada arah yang diatur asimetris.

Foto dengan Komposisi Simetris
trisoenoe.com

(baca juga artikel artikel yang sangat menarik, tentang fotografi gedung atau fotografi arsitektur, dalam tulisan dengan judul: "Fotografi Komersial - Foto Gedung (Nasehat untuk fotografer?)...Bagian Pertama")

5. Menjaga keseimbangan

Penggunaan komposisi asimetris terkadang menjadikan gambar seperti kurang lengkap, atau kurang, yaitu kurang adanya elemen pendukung yang memberikan keseimbangan pada foto. Kondisi serupa bahkan terjadi pada komposisi simetris.

Foto Bunga dalam Komposisi Keseimbangan
trisoenoe.com

Untuk semakin memaksimalkan komposisi, Sobat bisa meletakkan objek atau elemen pelengkap pada sisi yang berlawanan untuk memberikan kesan keseimbangan pada foto. Pilihlah objek yang tidak terlalu mencolok sehingga tidak akan mengambil alih perhatian pemirsa dari POI (Point of Interest alias titik fokus dalam frame).

6. Ruang kosong dan arah hadap

Sebuah foto tidak harus penuh berisi POI dan elemen pelangkap, seringkali dibutuhkan adanya area yang tidak berisi objek. Ruang kosong (atau disebut juga negative space) pada foto bisa digunakan untuk menggambarkan arah gerakan, atau menyediakan ruang imajinasi bagi pengamat.

Memandang di Kejauhan
trisoenoe.com

Ruang kosong sangat erat dengan arah hadap. Pada umumnya peletakan ruang kosong berada di arah hadap subjek. Sebagai contoh, apabila seseorang yang Sobat foto menghadap ke kiri, maka sisakan ruang di sebelah kiri. Dengan demikian gambar akan memiliki cukup ruangan dan terhindar dari kesan ‘menabrak’ frame.

7. Alur, arah dan relasi antar objek

Pesan yang ditampilkan oleh foto dengan beberapa objek akan dipengaruhi juga oleh arah masing-masing elemen, yang kemudian menentukan bagaimana alur pandang pemirsa pada foto tersebut. Alur ini menentukan bagaimana foto bercerita, hubungan antar elemen, dan akhirnya membentuk persepsi pemirsa terhadap pesan dari foto.

Menikmati Banjir
trisoenoe.com

Demikianlah artikel Tips Komposisi Foto, Supaya Lebih Enak Dilihat (Alias Enak di Mata!) - Tulisan Bagian Kedua. Baca juga kelanjutan dari artikel ini di: Tips Komposisi Foto, Supaya Lebih Enak Dilihat (Alias Enak di Mata!) - Tulisan Bagian Ketiga.

Salam Jepret Selalu

Artikel ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

Rabu, 12 Mei 2021

Tips Komposisi Foto, Supaya Lebih Enak Dilihat (Alias Enak di Mata!) - Tulisan Bagian Pertama


Bunga Ubi - Komposisi Rule of Third
trisoenoe.com

Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Rabu, 12 Mei 2021

Hari ini adalah hari terakhir di bulan Ramadhan, esok adalah hari Idul Fitri, alias Lebaran. Dan sebelum saya menulis artikel tentang fotografi ini, ijinkan saya untuk mengucapkan, "Maaf mungkin tak mengubah masa lalu, tapi mampu mengubah masa depan. Taqobbalallaahu minnaa wa minkum shiyaamana washiyaamakum kullu aamiin wa antum fii khoir. Mohon untuk dibukakan pintu maaf atas segala khilaf. Semoga kita bisa kembali berjumpa dengan Ramadhan di tahun-tahun mendatang. Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1442 H."

Nah, sekarang kita balik lagi ke artikel tentang fotografi ya Sob! 

Kali ini, saya akan mencoba untuk memberikan beberapa tips dalam fotografi, supaya foto hasil jepretan kita, layak untuk dilihat. Sebuah foto umumnya terdiri dari objek utama dan juga elemen pelengkap yang tampil dalam bidang gambar. Penempatan yang ideal serta proporsional akan mempermudah dan memperkuat penyampaian pesan dari foto tersebut. 

Di sisi lain, tata letak yang tidak tepat akan menimbulkan keruwetan, menjadikan foto membosankan, membingungkan, janggal dan tidak menarik, bahkan mungkin juga memunculkan interpretasi yang tidak tepat. Dalam teknik komposisi fotografi dikenal ada beberapa acuan pengaturan tata letak objek dan elemen foto.

Berikut adalah tips komposisi bagaimana mengatur tata letak agar foto tidak membosankan:

1. Rule of thirds

Penempatan objek di tengah gambar seringkali menimbulkan ketegangan antar elemen foto, kesan yang muncul adalah saling tarik menarik dan berebut perhatian. Salah satu cara untuk mengatasi kesan yang kurang harmonis ini adalah dengan menerapkan rule of thirds.

Pemancing - Komposisi Rule Of Third
trisoenoe.com

Rule of thirds adalah kaidah umum yang sederhana namun efektif dalam komposisi visual, dengan memetakan gambar menjadi bagian per tigaan. Kaidah ini diterapkan dalam banyak hal, mulai dari lukisan, fotografi, desain, bahkan video. Secara psikologis, pembagian bidang visual dalam tiga bagian akan menjadikan sebagian area terlihat dominan, sebagian lagi sebagai pelengkap serta mencegah “efek” tarik menarik dan ketegangan antar elemen dalam foto.

2. Golden ratio

Rule of thirds yang dibahas sebelumnya sebenarnya merupakan penyederhaan dari golden ratio. Salah satu penerapan golden ratio adalah dengan menggunakan golden spiral atau disebut juga dengan golden rectangle. 

Teratai - Golden Ratio
trisoenoe.com

Pada contoh di atas ditampilkan objek dengan pengaturan komposisi mengikuti golden spiral dengan orientasi lanscape. Alur pusaran kelopak bunga teratai dimanfaatkan untuk memandu arah aliran perhatian pemirsa mengikuti keseluruhan gambar. (Selengkapnya akan dibahas pada artikel selanjutnya).

3. Golden triangle

Objek dengan arah tegak atau mendatar sering memberikan kesan kaku atau formal. Untuk kesan yang lebih dinamis, anda bisa menerapkan arah diagonal mengacu pada golden triangle. Tapi mohon diingat bahwa tidak semua skenario sesuai untuk pola ini, misalkan foto portrait close-up.

Foto Kumbang - Komposisi Golden Triangle
trisoenoe.com

Pada contoh di atas, batang bunga diletakkan mendekati arah diagonal bidang foto, dengan bagian bunga berada di sekitar titik perpotongan segitiga. Foto ini memberi kesan seperti tertiup angin, lebih dinamis jika dibandingkan bunga pada posisi tegak.

Demikianlah artikel Tips Komposisi Foto, Supaya Lebih Enak Dilihat (Alias Enak di Mata!) - Tulisan Bagian Pertama. Baca juga kelanjutan dari artikel ini di: Tips Komposisi Foto, Supaya Lebih Enak Dilihat (Alias Enak di Mata!) - Tulisan Bagian Kedua.

Salam Jepret Selalu

Artikel ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA