Kalau di bagian pertama kita bicara tentang waktu dan esensi fotografi, sekarang saatnya masuk ke pertanyaan yang sedikit menggelitik ego: apa bedanya Sobat dengan orang yang cuma motret buat kenang-kenangan?
Tenang, ini bukan ajang merendahkan foto dokumentasi keluarga. Foto bapak-bapak motret anaknya lagi mengunyak cilok tetap punya nilai emosional yang besar. Tapi secara kesadaran visual, ada perbedaan mendasar.
Dan perbedaannya ada pada satu kata: eksistensi.
4. Kesadaran: Faktor Pembeda yang Sering Terlupakan
Seorang fotografer tidak hanya harus melihat. Fotografer juga harus bisa memperhatikan dan memaknai calon korban jepretannya.
Saya kasih contoh kasus di stasiun kereta. Kebanyakan orang akan melihat stasiun kereta yang membosankan dan yang itu-itu saja. Fotografer melihat cahaya yang jatuh miring di bangku kosong, bayangan yang membelah lantai, dan ekspresi seseorang yang terlihat seperti sedang memikirkan hidupnya dan jutaan obyek estetis lain yang layak untuk dabadikan dalam frame.
Fotografer memutuskan bahwa momen itu penting.
Ada sedikit arogansi di situ—dan itu bukan hal buruk.
Arogansi yang berkata:
“Momen ini tidak boleh hilang begitu saja. Aku akan menyimpannya.”
Itulah kesadaran.
Tanpa kesadaran, foto hanya dokumentasi. Dengan kesadaran, foto menjadi interpretasi.
5. Jangan Salah Paham Soal “Esensi”
Nah, ini penting.
Jangan karena merasa sudah memahami esensi waktu, Sobat jadi malas belajar teknis.
Foto blur bukan otomatis artistik. Underexposed bukan otomatis misterius. Framing berantakan bukan otomatis avant-garde.
Mengatasnamakan “esensi” untuk menutupi kemalasan teknis itu seperti bilang, “Ini bukan tempe goreng yang gosong, ini adalah tempe goreng dengan konsep smoky minimalism.”
Teo tetap menekankan tiga pilar penting:
- Skill teknis
- Mata estetika
- Kepekaan terhadap momen
Kalau cuma punya teknis, foto terasa steril. Kalau cuma punya momen tanpa teknis, hasilnya sayang. Kalau cuma punya estetika tanpa makna, fotonya kosong.
Fotografi yang kuat lahir dari keseimbangan.
6. Di Era AI, Apa Peran Sobat?
Sekarang AI bisa bikin foto yang sempurna. Komposisi yang super ideal (alias dua tingkat di bawah sempurna). Cahaya dramatis (lebih dramatis ketimbang apapun di muka bumi). Warna presisi (saking presisinya, bahkan si obyek sendiri sampai minder saat melihat obyek tersebut).
Tapi AI tidak punya nostalgia. AI tidak punya kenangan yang mendasari dan menjadi latar cerita dari foto yang dia hasilkan. AI tidak punya keintiman personal dengan obyek yang Sobat potret.
Dan di situlah keunggulan manusia yang tak akan pernah bisa disaingi oleh teknologi AI.
Sobat memotret bukan cuma untuk menunjukkan apa yang terlihat, tapi untuk menunjukkan apa yang terasa dan cerita apa yang terjalin di dalamnya.
AI memang bisa bikin gambar yang bagus bahkan nyaris sempurna. Tapi hanya Sobat yang bisa memotret dengan pengalaman hidup Sobat sendiri.
AI menciptakan gambaran fana, sedangkan pada saat Sobat memotret, hasil foto itu bukan hanya gambar, tetapi ada cerita, kenangan, ada sejumput waktu yang Sobat bekukan dalam frame.....ada jiwa yang terjebak di situ. Dan itulah yang membedakan Sobat dengan AI. Foto yang Sobat hasilkan mampu bertutur-kata, sedangkan AI, hanya mampu menghadirkan gambar yang sangat bagus dari tampilan visual, tetapi bisu.
Penutup: Sobat Adalah Pencuri Waktu
Menjadi fotografer di era sekarang memang tidak mudah. Kita bersaing dengan algoritma. Dengan teknologi. Dengan standar visual yang makin tinggi.
Tapi setiap kali Sobat mengangkat kamera, ada satu kekuatan yang tetap tidak berubah: Sobat adalah pencuri waktu.
Sobat mengambil sesuatu dari hari ini dan mengirimkannya ke masa depan.
Jadi besok, kalau Sobat merasa tidak ada yang menarik untuk difoto, ingatlah bahwa yang terlihat biasa hari ini bisa menjadi luar biasa di masa depan.
Persetan dengan jumlah like. Persetan dengan gear terbaru.
Esensi fotografi adalah tentang Sobat, kesadaran Sobat, dan potongan waktu yang Sobat pilih untuk dijaga.
Sekarang, cas baterai. Bersihkan lensa yang mungkin sudah berdebu. Dan keluarlah.
Waktu terus berjalan.
Dan Sobat punya pilihan: membiarkannya lewat begitu saja, atau mencurinya dengan elegan.
(Coretan ini ditulis di Bali, penghujung Januari, 2026. Bali sedang sering hujan sekarang, matahari jarang sekali tampak. Pantai sedikit berkurang keindahannya saat senja tiba.)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar