BAGIAN 3: Era AI dan Kesimpulan: Jadi, Fotografi Itu Seni Nggak?
Kalau di Bagian Kedua kita sudah melihat bagaimana foto bisa naik derajat jadi “seni” berkat estetika, dampak, harga selangit, atau sekadar nama besar di baliknya, maka di Bagian Ketiga kita masuk ke wilayah yang jauh lebih mengganggu: bagaimana kalau semua itu tidak lagi butuh fotografer? Di era AI, gambar bisa lahir tanpa kamera, tanpa momen, tanpa tangan manusia—cukup dari prompt dan algoritma. Di titik ini, pertanyaannya bukan lagi “foto ini indah atau mahal?”, melainkan: kalau yang menciptakan bukan manusia, masih pantaskah kita menyebutnya fotografi—atau bahkan seni?
1. Manipulasi: Dari Kamar Gelap ke Photoshop
Dari dulu, fotografer itu sebenarnya tukang edit yang hakiki. Dari zaman cuci cetak pakai bahan kimia, sampai zaman ceklak-ceklinya Photoshop. Alfred Stieglitz, salah satu suhu besar bidang fotografi, sebenarnya nggak suka foto yang diedit terlalu banyak karena dianggap "palsu".
Tapi sekarang, dengan AI, kita bisa bikin gambar cuma pakai ketikan teks. Apakah ini masih fotografi? Gambarnya mungkin "seni", tapi apakah itu "foto"? Ini bisa dianalogikan seperti kita menyusun kolase atau digital art. Keren sih, tapi definisi "fotografi" jadi makin abu-abu kayak rambut kakek saya.
2. Si Paling "Gue Juga Bisa!"
Ada satu argumen yang sering muncul: "Ah, foto kayak gitu doang mah gue juga bisa!"
Jawabannya simpel tapi nyelekit: "Iya, lo bisa, tapi masalahnya lo nggak ngelakuin itu dan lo nggak terkenal!". Itulah kenapa nama besar fotografer sangat berpengaruh. Seni itu juga soal reputasi, bukan cuma soal teknis jepret.
3. Kesimpulan: Jangan Jadi Snob!
Seorang fotografer yang benar-benar fotografer pernah kasih nasehat yang bagus, kita harus jadi orang yang terbuka. Fotografi itu medium yang paling sosial dan paling bisa diakses siapa saja. Menolak fotografi sebagai seni itu sama saja menghina jutaan orang yang mengekspresikan diri lewat lensa HP setiap harinya.
Meskipun kadang kita bosan lihat pameran foto (karena setiap hari kita sudah "pameran" di feed medsos), fotografi tetap punya tempat istimewa. Tugas kita sebagai "fotografer dadakan" atau "fotografer beneran" adalah menciptakan karya yang bisa tetap layak untuk disebut sebagai karya di antara lautan 14 triliun foto tadi.
Jadi, buat Sobat yang suka motret makanan sebelum makan: Lanjutkan! Siapa tahu 100 tahun lagi foto nasi goreng yang Sobat jepret itu masuk galeri seni karena dianggap sebagai "Rekaman Budaya Kuliner Abad 21".
Oh ya, masih ada satu hal lagi. Kalau selama ini Sobat rajin menghapus foto hanya karena merasa hasilnya jelek, kebiasaan itu sebaiknya segera direvisi. Mulai sekarang, jangan pernah hapus foto yang Sobat anggap gagal. Simpan baik-baik, backup kalau perlu di tiga hard disk, lalu wariskan ke cucu atau cicit. Sebab, siapa tahu 100 tahun lagi foto itu dipajang di galeri dengan bingkai emas dan judul sok filsafati. Kurator akan berpidato panjang soal “kegagalan estetika sebagai kritik zaman”, sementara pengunjung pura-pura paham sambil mengangguk pelan. Foto yang dulu memalukan kini berubah jadi artefak sejarah. Nilainya bukan naik karena indah, tapi karena konsisten membuktikan satu hal: dulu jelek, sekarang jelek, dan di masa depan… tetap lebih jelek lagi.
Dan ingat, sejelek apa pun foto Sobat jika diukur dari parameter apa pun, ia tetaplah karya seni—lahir dari intuisi, rasa, dan jiwa kreatif manusia. Bukan hasil rekayasa mesin dingin tanpa emosi, tanpa ragu, dan tanpa cerita.
Gimana menurut Sobat-Sobat sekalian? Apakah kamera di tangan Sobat itu alat seni atau cuma alat pamer? Tulis di kolom komentar ya!
Demikianlah artikel tiga bagian ini saya tulis, semoga bisa sedikit menghibur hati Sobat dan kasih banyak senang di hati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar