Kamis, 26 Februari 2026

Mengapa Foto Sobat Takut Dicetak? Uji Nyali Fotografi Era Scroll



Beraban, Tabanan, Bali, Kamis, 26 Februari 2026

Ada satu pertanyaan yang jarang dibahas di tongkrongan fotografer modern—biasanya karena bikin suasana mendadak sunyi sesunyi kuburan: apa yang terjadi pada sebuah foto ketika ia memang sedari orok diciptakan hanya untuk satu kali scroll?

Ini bukan soal foto itu bagus atau jelek. Bukan pula soal preset mana yang paling “senja” atau apakah algoritma Instagram sedang berbaik hati memberikan reach. Pertanyaannya jauh lebih sederhana dan, sayangnya, jauh lebih jujur: apakah foto itu masih punya harga diri ketika orang berhenti mengusap layar ponselnya?

Seorang fotografer kondang bernama Alfred Stieglitz, jauh sebelum dunia mengenal swipe kanan-kiri yang melelahkan itu, pernah bilang kalau fotografi punya denyut nadi—punya kehadiran fisik, bobot, dan hubungan mesra dengan ruang. Kedengarannya puitis, memang. Tapi sebenarnya ini bukan puisi; ini semacam surat peringatan dini dari masa lalu. Intinya begini: sebuah foto hanya hidup selama ia masih punya jiwa. Setelah itu? Ia mungkin masih ada, tapi statusnya cuma seperti notifikasi aplikasi ojol—ada, tapi tidak benar-benar diperhatikan.

Masalahnya, hari ini kita justru rajin memproduksi foto yang sedari awal “niatnya” tidak ingin awet. Foto-foto itu dibuat untuk muncul sebentar, menyapa lewat feed, lalu menghilang dengan sopan ke tempat sampah digital. Kalau perlu, besok digantikan foto lain yang nyaris kembar, cuma beda cuaca dan posisi jempol yang geser setengah langkah.

Dalam sistem seperti ini, mencetak foto sering dianggap kerja yang kurang berfaedah, hampir sama jadulnya dengan mendengarkan kaset lagu kenangan atau menulis catatan harian di buku tebal dengan pena. Padahal, mencetak foto bukan soal rindu atau gagal move on. Cetak foto itu lebih mirip tes uji nyali.

Sebab, selembar kertas foto akan mengajukan pertanyaan yang paling kita hindari: “Kalau kamu tidak bisa di-scroll, kamu masih punya sesuatu untuk ditawarkan, tidak?” Ketika sebuah foto dipaksa untuk diam, punya berat fisik, dan harus bertahan di depan mata tanpa bantuan caption bijak sepanjang kereta api, emoji api, atau musik sendu mendayu-dayu (namun menipu), di situlah kualitas asli dari si foto hadir dengan polos alias telanjang bulat. Dan, yah… cukup banyak foto yang langsung “pingsan” atau bahkan “koma permanen” di tahap ini. Bukan karena foto-foto itu buruk rupa, tapi karena mereka memang hanya dirancang untuk sekadar lewat, bukan untuk diajak mengobrol berlama-lama.


Sebagai (bukan) fotografer, saya melihat tragedi ini tiap hari. Ada foto-foto yang tampak sangat sakti di layar: tajam, rapi, dan siap menuai jutaan likes. Tapi begitu foto itu dipindahkan ke dunia nyata—disusun dalam urutan, ditatap lebih dari lima detik—foto-foto ini mulai kehilangan nyawa. Tidak ada tutur kata, tidak ada kehangatan, tidak ada jeda, tidak ada keheningan. Seolah foto-foto itu berteriak, “Maaf, saya cuma figuran yang dirancang untuk dilihat sekelebatan sambil nunggu kopi, jangan pelototi saya!”

Mencetak foto tidak otomatis membuat Sobat jadi seniman. Justru, mencetak foto akan menghapus semua alasan dan menghadirkan karya apa adanya. Saat kita mencetak, kita melepas perlindungan yang selama ini menyelimuti foto itu: kecepatan scrolling, konteks instan, dan algoritma yang terlalu murah hati. Kita memaksa foto itu untuk jujur: apakah ia punya nyawa, atau hanya tampilan piksel yang kebetulan lewat?

Dan di sinilah letak kegelisahan terbesar kita hari ini: kita tidak terbiasa hidup bersama gambar. Kita terbiasa menelan foto bulat-bulat tanpa perlu mengunyahnya. Kita melihat, memberi love, lalu lanjut cari mangsa baru.

Ketika kita nekat mencetak sebuah foto, memberinya bingkai, dan memakunya di dinding, itu bisa jadi sangat mengganggu. Mungkin akan membosankan, atau mungkin foto itu akan pelan-pelan mulai bicara—dan mendengarkannya butuh kesabaran yang sudah lama kita buang demi kuota internet.

Jadi, mungkin persoalannya bukan apakah mencetak foto masih relevan atau tidak.

Persoalannya adalah:

Apakah selama ini kita benar-benar sedang membuat foto, atau hanya sedang memproduksi gambar yang berharap tidak dinikmati terlalu lama?

Catatan: Ini adalah satu pertanyaan yang sudah lama sekali pernah ditanyakan kepada saya oleh salah seorang Sobat saya (yang kebetulan dia adalah seorang yang hobby foto seperti saya. Dan hingga detik ini, pertanyaan Sobat saya itu tak pernah bisa saya jawab (atau saya terlalu malu untuk menjawab pertanyaan Sobat saya itu, bisa jadi)

(Artikel ini saya tulis, di Tabanan, Bali, di penghujung bulan Februari tahun 2026. Bali masih terus hujan, dan pantai jadi sedikit berkurang keindahannya.) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar