Beraban, Tabanan, Bali, Kamis, 29 Oktober 2026
Halo, Sobat! Selamat datang kembali di www.trisoenoe.com.
Kemarin sore saya sedang khusyuk ngopi di warkop langganan, menyortir hasil street photography hitam-putih dari Bali. Tiba-tiba si Bedul, sahabat sekaligus sumber trauma saya, menyeletuk sambil mengunyah mendoan panas:
"Enak ya jadi lu. Kameranya bagus, makanya fotonya keren-keren. Gue kalau punya kamera gitu juga pasti jago."
Saat itu juga saya ingin menelan tutup lensa, lalu tersedak dengan penuh martabat.
Tapi celetukan Bedul (polos, atau kurang ajar, tipis bedanya) ternyata bukan insiden tunggal. Ia gejala dari penyakit massal: fotografi, hobi yang dulu terkesan eksklusif dan misterius, kini disepelekan, digratiskan, dan kadang dibenci. Kenapa bisa begitu? Mari kita bedah bareng-bareng, sambil menahan emosi dan menyeruput kopi yang sudah dingin.
1. Era Analog: Saat Memotret Butuh "Sertifikat Dukun"
Buat Sobat yang sempat mencicipi zaman film, pasti paham betapa sengsaranya hidup kala itu. Dulu, untuk menghasilkan satu foto layak pandang, Anda tidak cukup memencet tombol. Anda harus membaca cahaya layaknya cenayang, mengatur exposure triangle dengan tangan sendiri, mencuci roll film di ruang gelap yang baunya bikin nostalgia sekaligus pusing, lalu mencetak fotonya sambil berdoa agar tidak salah takaran kimia.
Setiap tahap adalah ujian kesabaran tingkat dewa. Fotografer zaman itu harus merangkap seniman, ahli kimia, dan pertapa. Maka ketika satu foto jadi bagus, orang menunduk hormat. Tidak ada yang berani bilang, "Ah, itu mah kebetulan." Salah-salah, Anda dilempar botol cairan developer.
Sayangnya, kemewahan apresiasi itu kini sudah punah, setara dengan telepon umum koin.
2. Invasi Jari Gatal dan Dunning-Kruger Berjamaah
Lalu datanglah era digital, disusul kiamat kecil bernama smartphone berkamera monster. Memotret jadi sekadar urusan kurang dari satu detik: keluarkan ponsel, jepret kucing tetangga, unggah, tunggu pujian.
Di sinilah bencana estetika dimulai. Mendadak semua orang merasa fotografer profesional. Efek Dunning-Kruger meledak di mana-mana. Orang yang baru tahu cara memasang filter sepia merasa setara dengan Henri Cartier-Bresson, hanya saja versi yang lebih hemat kuota. Jutaan foto diproduksi setiap detik, dan sebagian besar kualitasnya membuat piksel pun ingin resign.
Di tengah banjir itu, banyak penggemar fotografi lama (termasuk saya, di hari-hari galau) kehilangan semangat. Bagaimana tidak? Kita belajar bertahun-tahun, lalu dikalahkan pamannya teman yang baru beli ponsel flagship dan "cuma iseng".
3. Tragedi Turis Kepeleset dan Merpati yang Kecewa
Coba bayangkan. Saya, fotografer street yang sudah khatam golden ratio, negative space, dan filosofi wabi-sabi, jongkok berjam-jam di alun-alun menunggu momen decisive: seekor merpati terbang dengan latar matahari yang dramatis. Betis kesemutan, nyamuk berpesta, harga diri semakin menipis.
Sementara itu, seorang turis (sebut saja Mas Bejo) sedang makan es krim, kepeleset kulit pisang, dan tanpa sengaja menekan tombol kamera ponselnya. JLEPRET! Hasilnya: komposisi sempurna, cahaya syahdu, merpati terbang persis di titik emas. Karya agung tak disengaja ini lalu viral, dan foto merpati saya yang digarap dengan keringat dan doa cuma dapat tujuh like, tiga di antaranya dari ibu saya.
Secara statistik, ini masuk akal. Ada teori terkenal bahwa seekor monyet yang mengetik acak cukup lama akhirnya bisa menghasilkan karya Shakespeare. Sekarang bayangkan miliaran jepretan acak per hari dari seluruh dunia: pasti ada saja satu-dua yang secara ajaib bagus. Tentu saja, fotografer yang konsisten menghasilkan karya bagus berkali-kali membuktikan bahwa skill itu nyata. Tapi di linimasa, keberuntungan Mas Bejo dan kerja keras saya tampil sama besar, sama kotak, dan sama-sama diskroll dalam dua detik.
Pasar foto merpati sudah terlalu jenuh. Maaf, Merpati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar