Senin, 28 Februari 2022

URBAN PHOTOGRAPHY (Eksplorasi Objek Perkotaan) Bagian yang Penghabisan


Pantulan Gedung
Urban Photography
trisoenoe.com

Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Senin, 28 Februari 2022

Apa kabar Sobat Jepret semuanya. Seperti yang sudah saya janjikan tempo hari, saya akan sambung artikel yang tempo hari sudah saya upload, dan artikel ini adalah artikel lanjutan dari artikel bagian kelima (URBAN PHOTOGRAPHY (Eksplorasi Objek Perkotaan) Bagian Kelima), dan inilah artikelnya:

Pada artikel sebelumnya, yang dikupas adalah pada penggunungan lensa kamera yang pas serta memotret pada jam-jam yang pas, maka pada artikel kali ini, yang akan kita bahas adalah:

Perkotaan
Urban Photography
trisoenoe.com

5. Jangan terpaku pada satu sudut pandang saja, ubahlah sudut pandang Sobat 


Menaikkan sudut pandang Sobat di atas ketinggian mata dapat menawarkan perspektif baru pada suatu pemandangan. Untuk sudut pandang yang lebih tinggi, carilah perbukitan, balkon, garasi parkir, dek observasi wisata, dan atap gedung tinggi. Sobat bakalan terkaget-kaget mengetahui bagaimana jalan-jalan kota dan arsitektur membentuk tampilan yang baru saat Sobat melihatnya dari atas. Sudut pandang yang rendah bisa menjadi cara yang bagus untuk bermain dengan skala dan menampilkan fitur perkotaan yang diabaikan.

Dua Sahabat
Urban Photography
trisoenoe.com

6. Bersikap ramah, hangat dan bersahabat   


Saat Sobat tidak memotret candid, memulai percakapan yang menyenangkan dan dengan sopan meminta izin serta doa restu untuk mengambil potret jalanan, akan sangat membantu. Subjek yang merasa tidak nyaman ketika mereka melihat orang asing mengambil foto mereka mungkin akan terbuka ketika pertama kali disambut dengan senyum hangat dan perkenalan singkat. Jika orang tersebut sepertinya tidak ingin berpartisipasi, hindari mendorongnya lebih jauh dan sebaliknya berterima kasih padanya dan pergi. Jika Sobat melihat rumah yang menarik sebagai obyek foto, mengobrol dengan pemiliknya bahkan dapat memberi Sobat wawasan tambahan tentang fitur struktur, membantu Sobat mengambil foto yang lebih baik.

Nah, Sobat, sudah enam artikel sambung menyambung saya upload dengan topik bahasan, tentang Urban Photography. Walaupun demikian, sebenarnya masih banyak yang harusnya bisa tertulis untuk melengkapi 6 episode tersebut. Mungkin lain kali akan saya teruskan.

Sekian dulu ya Sob, dan terima kasih banyak karena sudah membacanya.

Tetap sehat, tetap semangat, dan yakinlah, Covid pasti berlalu! 

Salam Jepret selalu!

Artikel ini diadaptasi dan ditulis oleh: Tuntas Trisunu

Secara sederhana, urban photography adalah seni memotret segala hal yang berhubungan dengan kehidupan kota dan lingkungan buatan manusia. Ini bukan cuma soal memotret gedung tinggi nan megah (arsitektur), tetapi juga mencakup riuk-pikuk jalannya (street photography), coretan di tembok gang (grafiti/subkultur), hingga lanskap perkotaan yang mati angin di tengah malam (cityscape). Pendeknya: kalau ada jemuran warga berkibar dengan latar belakang pencakar langit, atau tukang kopi keliling yang tangkas menerobos kemacetan sore, itu adalah santapan empuk buat urban photography!

Lebih Dalam: Bukan Sekadar Memotret Beton

Secara lebih mendalam, urban photography adalah dokumentasi tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan ruang yang mereka ciptakan sendiri. Kota adalah organisme hidup—dia tumbuh, berdebu, terkadang semrawut, tapi punya ritme dan "jiwa"-nya sendiri.

Di dalam genre ini, ada beberapa elemen penting yang bikin fotonya terasa bernyawa:

  • Geometri dan Garis (Pola Perkotaan): Permainan garis dari trotoar, bayangan tiang listrik, hingga struktur beton yang menciptakan komposisi visual yang estetik dan tegas.

  • Kontras Sosial dan Visual: Pertemuan antara hal yang modern dan yang kumuh, yang cepat dan yang lambat. Misalnya, deretan mobil mewah yang tertahan lampu merah di samping gerobak dorong tua.

  • Cerita Tersembunyi (Ruang & Manusia): Kota bukan cuma tempat tinggal, tapi panggung teater raksasa. Urban photography menangkap momen-momen kecil yang sering terlewatkan orang-orang yang terlalu sibuk mengejar jam kantor.

Bedanya Sama Street Photography?

Banyak orang suka bingung membedakannya. Gampangnya begini: kalau street photography itu fokus utamanya adalah manusia dan ekspresinya (gedung cuma latar belakang), maka urban photography punya cakupan lebih luas. Di urban photography, gedungnya sendiri, gang sempitnya, kabel listrik yang ruwet bagaikan mi goreng, bahkan lorong stasiun yang sepi tanpa manusia pun bisa jadi subjek utama yang bercerita.

Jadi, buat menikmati genre ini, Sobat tidak wajib terbang ke New York atau Tokyo. Cukup keluar rumah, seduh kopi, bawa kamera (atau ponsel), dan mulailah melihat sudut-sudut kota dari perspektif yang beda. Siapa tahu, kabel telepon yang tumpang-tindih di ujung gang tempat tinggalmu justru kelihatan bagaikan karya seni abstrak yang sangat dramatis!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar