Sabtu, 30 Januari 2021

Fotografi Miksang (Bukan Aliran dalam Fotografi, melainkan Pemahaman dan Filosofi)


Bunga! Dalam perspektif kanvas langit
trisoenoe.com

Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Sabtu, 30 Januari 2021

Sudah beberapa minggu ini, saya tergoda untuk mempelajari satu “aliran” fotografi, yang jujur, saya baru aja “ngeh” sama jenis fotografi ini.

Fotografi Miksang!

Ya! Fotografi Miksang! Ini bukan jenis fotografi yang biasa saya pelajari dan geluti selama ini. Miksang ini punya jalur yang beda. Punya filosofis yang juga tak sama dengan aliran fotografi lain. 

Unik! Berbeda! Sekaligus bikin gregetan bin penasaran.

Lho, kok bisa?

Nah, disinilah letak dari ke”unik”an si Miksang ini. Miksang seakan-akan membuat saya untuk “melupakan” semua aturan dan metode fotografi yang selama ini saya pelajari. Saya sebelum-sebelumnya kalau mau jeprat dan jepret, pasti sibuk memikirkan berbagai cara, aspek, metode, dan tetek bengek lainnya (termasuk di dalamnya, menyiapkan Gear yang segubrag banyaknya). Dan setelahnya saya juga masih sibuk crop sana, crop sini, kilik sana, kilik sini, putar sana, putar sini, dan sebagainya demi mendapatkan hasil yang saya inginkan.


Karat (Visualisasi Abstrak)
trisoenoe.com

Tapi di Miksang ini ternyata beda.  Miksang ini seolah “menggiring” saya untuk memotret tanpa melihat langsung hasil fotonya, tanpa oprek sana sini, bahkan sekedar merubah kontras atau level, tanpa melakukan zooming maupun cropping, hanya memotret satu kali tanpa diulang, tidak berpindah posisi untuk mencari sudut “tembak” yang lebih baik, tidak men”drama”kan si obyek foto, bahkan tidak perlu memikirkan aliran apa yang harus diusung, tema, dan pesan apa yang disampaikan melalui foto tersebut? 

Dan diluar dugaan saya, ternyata hal-hal ini sangatlah sulit. Saya tak lagi bisa memaksakan persepsi saya pada jepretan dan memvisualisasikannya pada hitam dan putih. Saya harus mulai belajar untuk menjadi “kosong”, dan mulai membangun konsep berbeda dalam melihat segala sesuatu. 

Segala yang tercipta, memiliki keindahannya sendiri !    

Duh……Saya benar-benar kagum nih sama si “Miksang” ini.

Bunga! (Elemen Rule of Third)
trisoenoe.com

Ya!, Saya akan mempelajari Miksang, bukan untuk menguasainya, tapi untuk memahaminya. Saya mungkin tak akan pernah benar-benar mampu menghasilkan foto “Miksang” seumur hidup saya, tapi saya akan sangat menikmati prosesnya. Seperti yang selama ini saya lakukan, menikmati proses, dan bukan hasil!

Sendiri!
trisoenoe.com

Dan supaya seimbang pemaparannya, dibawah ini adalah tulisan yang saya alihbahasakan dari Miksang.com, yang memaparkan apa itu Miksang, silahkan menikmati!

Apa itu Miksang?

Miksang adalah salah satu bentuk fotografi kontemplatif yang mengajak kita untuk melihat dunia kita dengan cara yang baru. Dalam beberapa hal tampaknya miksang ini sangat sederhana, tetapi tidak selalu mudah.

Jika kita dapat menempatkan perhatian pikiran kita, kesadaran kita, dalam indera penglihatan kita, kita akan melihat persepsi yang jelas dan menghentikan pikiran sepenuhnya, tanpa gangguan. Dan ketika itu terjadi, kita dapat terhubung dengan apa yang kita lihat secara lebih mendalam dan intim.

Ini membutuhkan ketenangan pikiran, kesabaran, dan keinginan untuk benar-benar melihat apa yang ada di sana, sehingga kita bisa memahami bagaimana mengekspresikan apa yang kita lihat dengan kamera kita dengan cara yang sederhana dan tepat.

Miksang adalah fotografi di mana kita menggunakan kamera untuk mengekspresikan persepsi visual kita persis seperti yang kita alami. Karena kita tahu bagaimana mempersiapkan diri untuk menerima persepsi ketika kita melihatnya, dan kita tahu bagaimana memahami dengan tepat apa yang telah kita lihat, kita kemudian tahu persis bagaimana mengungkapkan apa yang telah kita lihat dengan kamera kita. Foto yang dihasilkan adalah ekspresi yang tepat dari mata, pikiran, dan hati kita karena terhubung dengan persepsi.

Miksang berarti 'Mata Baik' dalam bahasa Tibet. Kita semua memiliki "Mata yang Baik" sebagai bagian dari topeng manusia kita. Ini berarti kita memiliki kemampuan untuk melihat dunia dengan cara yang murni, tanpa terbelenggu oleh makna dan nilai, kesenangan, ketidaksukaan, atau ketidaktertarikan.

Saat kita bisa melihat dengan Mata Baik kita, dunia selalu segar, karena semua yang kita lihat seperti yang pertama kali. Tidak ada ingatan, tidak ada asosiasi, hanya dunia yang terwujud kepada kita, sebagaimana adanya, entah dari mana.

Persepsi ini hidup dan jelas, berdenyut dengan kehidupan. Dunia visual adalah pesta kita, taman bermain kita.

Melihat dengan cara ini memberi kita kegembiraan karena hidup.

Melalui gambar kita, kita dapat mengekspresikan pengalaman melihat kita. Foto-foto kita akan membawa di dalamnya hati kita, pikiran kita, darah pengalaman kita.

Demikianlah sob, apa yang bisa saya paparkan tentang Miksang. Semoga sobat-sobat bisa menikmatinya.

Catatan:

Saya sangat beruntung, karena saya mengenal seseorang yang memiliki pemahaman yang tinggi untuk miksang, dan beliau menuliskan ini (saya kutip tulisan beliau):

“Miksang sebetulnya adalah satu metode berkarya di fotografi yang nantinya tidak bertujuan untuk mencari pujian atau sanjungan apapun, baik lisan maupun tulisan. Karena apresiasi adalah satu variable yang tidak bisa dikontrol. Itu bermula dari masalah tinggi rendahnya tingkat apresiasi dan atau wawasan penikmat.”

“Berkarya itu idealnya karena hati nurani. Bukan karena mengejar pujian atau sanjungan.”

Dody S. Mawardi

Saya banyak membaca catatan-catatan dari beliau, dan ini menambah pemahaman saya tentang Fotografi Miksang.

Penghargaan tertinggi untuk beliau, karena sudi berbagi ilmu dan sudut pandang pemahaman kepada banyak orang, terutama saya.

Terima kasih.

Artikel ditulis oleh: Tuntas Trisunu

Sumber:


 

Minggu, 24 Januari 2021

Tips Fotografi; Pilih Foto Beneran, Atau Foto Yang Di"oprek" (Direkayasa)



Ciledug, Tangerang Kota, Banten, 24 Januari 2021

Zaman sekarang, jadi fotografer itu gampang banget. Modalnya cuma satu: HP pintar. Bangun tidur, jepret. Sarapan, jepret. Kucing lewat, jepret. Bahkan nasi goreng yang belum sempat dimakan pun harus difoto dulu, karena "makan itu nomor dua, dokumentasi nomor satu".
Tak perlu lagi kamera SLR atau DSLR yang beratnya bikin bahu pegal dan harganya bikin dompet menangis. Kamera bawaan HP sudah cukup untuk memotret sepuasnya. Bahkan yang sudah punya DSLR pun, kalau hasilnya kalah bagus dari foto HP tetangga, rasanya gimana gitu, ya kan?


Lahirnya "Prinsip Asal Jepret"


Dari situ lahirlah satu aliran baru dalam dunia fotografi: prinsip asal jepret.

Rumusnya sederhana. Jepret dulu, mikir belakangan. Kalau hasilnya jelek, delete. Jepret lagi, delete lagi, jepret lagi. Begitu terus sampai memori penuh dan muncul notifikasi galak: "Penyimpanan hampir penuh." Notifikasi itu seperti mertua yang datang tanpa kabar: tidak diundang, tapi kita tak berani menolak.

Kalau masih kurang puas, ada jurus pamungkas: olah digital. Foto yang gelap diterangkan, yang miring diluruskan, yang jerawatan dimulus-mulus-kan. Dengan "sotoshop" (nama populer untuk program yang kita semua sudah tahu), langit mendung bisa berubah jadi senja romantis. Bahkan objek yang aslinya tidak ada di lokasi bisa muncul begitu saja, seperti mantan di acara reuni.


Foto Beneran vs Foto Oprekan


Supaya kita sepaham, saya bagi dulu dua kubu ini:

Foto Beneran adalah foto yang hasilnya langsung dari kamera, baik analog, digital, maupun kamera HP, tanpa diedit secara manual. Apa adanya. Hasil keputusan teknis kita saat menekan tombol rana, bukan hasil kerja keras di depan komputer pukul dua pagi.

Foto Oprekan, atau sebut saja Foto DI (Digital Imaging), adalah foto yang sudah diolah dengan Photoshop, Lightroom, ACDSee, dan sejenisnya. Di tangan ahlinya, foto jenis ini bisa menghadirkan spot dan momen yang sebenarnya tidak pernah ada. Hebat, sekaligus sedikit menyeramkan.

Satu catatan jujur: kamera HP dan kamera digital modern sebenarnya sudah "mengoprek" foto secara otomatis (penajaman, pengolahan warna, HDR). Jadi "murni" di sini maksudnya tanpa editing manual dari kita, bukan murni seperti air mineral. Jangan sampai ada pembaca yang protes sambil membawa spanduk.


Tidak Ada Kubu yang Salah


Biar tidak salah paham: saya bukan fotografer anti oprekan. Tidak ada jenis foto yang buruk. Foto murni dan foto olahan sama-sama dibutuhkan. Iklan produk, poster film, dan seni digital butuh keahlian olah gambar. Foto jurnalistik, dokumentasi, dan fotografi jalanan menuntut keaslian.

Yang ingin saya tekankan hanya soal urutan belajar. Menurut saya (dan ini pendapat pribadi, silakan beda pendapat), langkah pertama bagi yang serius menekuni fotografi adalah menghasilkan foto sebaik dan semurni mungkin dari kamera sendiri. Ingat, kamera terbaik adalah kamera yang ada di tangan kita sekarang. Bukan yang masih di keranjang belanja online dengan status "checkout nanti kalau gajian".


Kuasai Dulu Kameramu


Kenali kamera kita sampai ke akar-akarnya. Pahami:


  • Pencahayaan (lighting): cahaya adalah nyawa foto. Tanpa cahaya yang tepat, hasilnya seperti sinetron jam tiga pagi, gelap dan membingungkan.
  • Komposisi (composition): letak objek menentukan segalanya. Foto pemandangan indah tapi ada tiang listrik tumbuh dari kepala teman? Itu bukan seni, itu kecelakaan.
  • Sudut pengambilan (angle): kadang bedanya hanya jongkok sedikit, tapi hasilnya beda jauh. Ini juga olahraga gratis.
  • Saturasi, diafragma, dan white balance: tiga serangkai yang terdengar menakutkan, tapi kalau sudah paham, rasanya seperti punya kekuatan super.

Yakinkan diri bahwa kita sudah bisa menghasilkan foto terbaik sesuai keinginan, baru lanjut ke tahap berikutnya.


Tiga Pertanyaan Sebelum Mengedit


Sebelum membuka software pengolah gambar, jawab dulu pertanyaan ini dengan jujur:


  • Foto ini untuk apa?
  • Mau dipakai di mana?
  • Setelah dijepret, mau diapakan?

Kalau jawabannya "buat dilihat sendiri sambil senyum-senyum", ya sudah, itu valid. Tapi kalau untuk portofolio, lomba, atau jualan, kita perlu standar yang jelas. Setelah itu terjawab dan hasil jepretan sudah sesuai kebutuhan, barulah kita bermain di depan komputer.


Kenapa Foto Bagus Sejak Awal Itu Hemat Waktu


Bayangkan dua fotografer.

Fotografer A memotret dengan matang. Cahaya pas, komposisi rapi. Saat diedit, ia hanya menaikkan sedikit kontras, lalu selesai dalam lima menit. Ia tersenyum, minum kopi, dan menikmati hidup.

Fotografer B memotret asal jepret. Hasilnya gelap, miring, dan ada orang melintas tepat di tengah frame. Ia habiskan tiga jam di depan komputer untuk menyelamatkan satu foto. Matanya merah, kopinya dingin, dan hatinya bertanya-tanya: "Kenapa tidak dari tadi saja kuatur dengan benar?"

Kalau kita sudah mahir sejak awal, editing jadi lebih ringan dan lebih sedikit. Itu pun hanya untuk perbaikan kecil, seperti wajah yang sedikit berjerawat, foto agak gelap, komposisi yang perlu dipotong, atau kontras yang perlu disetel. Sehebat apa pun keahlian oprek kita, kalau bahan dasarnya "di bawah standar", dijamin jengkel. Itu seperti mencoba menyulap mi instan jadi masakan restoran bintang lima: bisa, tapi capek, dan hasilnya tetap mi instan.


Penutup


Pada akhirnya, ini soal pilihan. Mau jadi fotografer yang mengandalkan ketajaman mata dan kemampuan kamera, atau seniman digital yang melukis dengan piksel, keduanya sah dan keren. Hanya saja, kalau ingin serius belajar fotografi, jangan terlalu bergantung pada prinsip asal jepret, karena bisa-bisa kita malah jadi "pengolah gambar" tanpa pernah benar-benar menjadi fotografer.

Ini hanya pendapat saya. Kalau sobat punya pandangan lain, mari kita diskusikan di kolom komentar, sambil ditemani kopi atau teh hangat.

Tetap semangat, sob, dan teruslah berkarya! Jepret dengan sadar, edit dengan secukupnya.

Selasa, 20 Oktober 2020

Genre Fotografi; Suatu Pilihan, Ataukah Ikut Aturan?



Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Selasa, 20 Oktober 2020

Cerita ini saya bagi jadi dua bagian, supaya Sobat tidak bosan. Ini bagian pertama.

Selamat pagi, siang, sore, dan malam, Sobat Jepret semua! Kali ini tidak ada tips atau trik. Saya mau membahas sesuatu yang diam-diam mengubah nasib kita semua: pilihan. Pilihan apa? Sabar, Sob. Jawabannya ada di bagian kedua. Di bagian pertama ini kita bernostalgia dulu, karena untuk memahami masalah hari ini, kita perlu menengok zaman ketika masalahnya masih berbentuk rol film.

Beberapa tahun terakhir, fotografi berkembang gila-gilaan. Dulu karya foto dinikmati kalangan terbatas. Sekarang siapa pun bisa memotret, memamerkan, bahkan merasa jadi maestro sebelum sempat mengenal tombol rana. Ada dua penyebab utama ledakan ini.


Penyebab Pertama: Rol Film Pensiun, Dompet Bernapas Lega


Teknologi kamera melaju kencang, dan penggunaannya ikut meluas. Rol film digeser kartu memori yang kapasitasnya makin besar.

Coba bayangkan zaman rol film. Orang berpikir seribu kali sebelum menekan shutter, karena setiap jepretan ada harganya: film harus dicuci, dicetak, dan semuanya berujung pada fulus. Satu rol hanya berisi 36 frame, dan tiap frame terasa seperti taruhan di meja judi. Menekan shutter saat itu seperti menandatangani cek, sementara tangan gemetar karena tidak tahu isi saldonya.

Lebih seram lagi kalau hasilnya jelek. Sobat sudah memotret, mencuci film, mencetak, lalu mendapati tidak ada satu pun foto yang layak dipajang. Waduh, kiamat kecil! Beli rol lagi, jepret lagi, cuci lagi. Astaga, bisa bangkrut.

Itu baru soal uang. Bagaimana kalau momennya tidak bisa diulang, seperti pernikahan atau wisuda? Masa iya fotonya jelek lalu pengantinnya disuruh menikah ulang demi sesi foto kedua? Hehehe, mustahil, kan, Sob? Apalagi kalau amplop sumbangannya sudah habis untuk katering.

Akibatnya, foto zaman itu sering kali seragam. Semua orang menghadap kamera, memasang senyum kaku, berdiri sebisa mungkin tidak bergerak, dan lampu blitz menyala apa pun kondisi cahayanya, termasuk di bawah matahari siang bolong. Yang paling khas adalah saat fotografer berteriak kepada rombongan: "Siap, ya! Satu... dua... tiga... bilang trasi!" Lalu klik. Berkat sejenis bumbu dapur, terciptalah senyum terpaksa yang tersimpan di album keluarga puluhan tahun dan siap dipamerkan kepada calon menantu.

Foto keluarga zaman itu punya formula pasti: tiga kali jepret, satu orang matanya terpejam, dan fotonya tetap dicetak karena sayang filmnya. Mata terpejam itu akhirnya resmi jadi anggota keluarga abadi, lengkap dengan jatah tempat di album.

Gaya nyeleneh, pose spontan, atau eksperimen cahaya umumnya hanya dilakukan fotografer bermodal, seperti fotografer majalah. Sisanya setia pada aturan dasar, kadang secara membabi buta. Foto backlight dianggap kesalahan fatal, nyaris masuk daftar haram. Aturan sepertiga (rule of thirds) sering dikesampingkan kalau yang dipotret adalah orang. Aturan emasnya cuma satu: semua orang harus muat di dalam frame. Kepala terpotong? Siap-siap diomeli satu keluarga besar, termasuk om yang tidak ikut difoto.


Penyebab Kedua: Kartu Memori Segede Upil


Zaman berubah. Hampir setiap ponsel pintar punya kamera, dari yang resolusinya sekadar ada sampai yang megapikselnya bikin mata terbelalak. Itu baru kameranya. Soal penyimpanan, lebih ngeri lagi.

Dulu penyimpanan terbentur dimensi fisik: rol, album, kotak negatif yang beratnya bisa dipakai menimpuk maling. Sekarang semuanya digital. Kartu memori sebesar upil bisa menyimpan ribuan foto. Ribuan! Dulu satu rol dijatah seperti beras di akhir bulan, kini satu kartu sanggup memuat seluruh hidup Sobat, termasuk lima puluh jepretan nasi goreng dari sudut yang nyaris sama, yang akhirnya dihapus semua karena "kok kurang estetik".


Mendadak Fotografer, Mendadak Model


Alhasil, banyak orang mendadak jadi fotografer, semudah memasak mi instan. Banyak pula yang mendadak jadi model dengan beragam gaya, dari bibir manyun sampai jari membentuk huruf V. Dan yang paling canggih adalah mereka yang jadi model sekaligus fotografer dalam satu waktu. Ya, selfie. Satu tangan memegang kamera, satu tangan mengatur pose, dan seluruh jiwa memohon pencahayaan yang tepat.

Efeknya jelas: dunia jeprat-jepret makin liar dan meroket ke angkasa. Jutaan foto lahir setiap hari dalam beragam genre dan jenis, sampai pencinta fotografi sempoyongan. Sebagian karena kagum, sebagian lagi karena gumoh, seperti orang yang diajak prasmanan seribu menu tapi baru sadar perutnya cuma satu.

Tapi Tunggu Dulu...

Sekarang coba hitung, Sob. Rol film sudah pensiun. Biaya cuci cetak sudah lenyap. Kartu memori sebesar upil menampung seribu foto. Semua hambatan runtuh. Seharusnya semua fotografer hidup bahagia dan memotret sambil bersiul.

Kenyataannya? Banyak fotografer justru pusing tujuh keliling. Bukan karena rol film, bukan karena dompet. Pusing mereka datang dari arah yang tak terbayangkan di zaman "bilang trasi": dari laci-laci bernama genre, dan dari para penjaga gerbangnya yang galaknya melebihi om yang kepalanya terpotong di foto keluarga.

Bagaimana ceritanya hobi yang sudah dimudahkan teknologi justru berubah jadi medan perang? Siapkan kopi, Sob. Kita lanjutkan di bagian kedua. Sementara itu, coba hitung berapa foto nasi goreng yang masih bersemayam di galeri ponsel Sobat.

Salam jepret selalu!

Selasa, 13 Oktober 2020

5 Aliran Fotografi yang bisa Sobat lakukan di rumah (Semoga Pendemi ini cepat berlalu !)



Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Selasa, 13 Oktober 2020

Catatan arsip: tulisan ini dibuat saat PSBB dan pandemi Covid-19 masih membatasi gerak kita. Kamera menganggur, tapi hasrat memotret menolak ikut libur. Tips di bawah tetap berlaku kapan saja, terutama saat hujan deras atau saat rasa malas keluar rumah sedang menang telak.

Bagi sebagian orang, memotret adalah cara paling murah untuk bahagia. Biasanya sasarannya pemandangan alam, favorit sejuta umat. Masalahnya, saat ini gunung dan pantai sedang tidak bisa dikunjungi, dan Covid-19 siap mengintai siapa pun yang nekat keluar rumah demi sunset.

Lalu bagaimana nasib hasrat memotret yang masih bergelora? Tenang, Sob. Fotografi tidak ikut dikarantina. Ada banyak aliran yang bisa Sobat jalani dari ruang tamu, dapur, bahkan kamar mandi (kalau pencahayaannya mendukung). Ini lima di antaranya.


1. Foto Still Life


Still life adalah aliran yang memotret benda-benda mati dan menampilkan detailnya hingga tampak menarik. Benda mati, ya, Sob. Bukan kucing mati, apalagi orang mati. Tolong jangan salah tafsir lalu berkreasi yang aneh-aneh.

Modalnya cuma tiga: meja, lampu belajar, dan kamera. Lampu belajar yang biasanya jadi saksi bisu tugas yang ditunda sekarang naik pangkat jadi lampu studio. Untuk objeknya, ambil apa saja yang ada di rumah: kunci motor, kacamata, sendok, pot tanaman, atau gelas kopi yang tinggal ampasnya. Atur posisinya, mainkan arah cahaya, dan lihat bagaimana benda yang tiap hari Sobat abaikan mendadak tampil seperti bintang katalog.


2. Foto Makanan


Semua orang sudah sering memotret makanan. Artinya, secara teknis semua orang sudah berpengalaman dalam makan... eh, maksudnya memotret makanan. Bedanya, fotografer yang baik tahu bahwa nasi goreng yang sudah dingin itu pengorbanan, bukan kerugian.

Aliran ini sering dipakai untuk foto komersial yang mempromosikan hidangan, dan peralatannya sama dengan still life. Tambahan tipsnya: letakkan piring dekat jendela supaya mendapat cahaya alami, pakai piring yang bersih (noda saus lama tidak ikut menambah cita rasa), dan beri satu hiasan kecil seperti daun atau taburan bumbu. Tidak perlu sampai mencuri peran koki, yang penting jangan ada sendok bekas gigitan di pojok bingkai.

3. Foto Makro


Fotografi makro adalah memotret objek sedekat mungkin untuk menampilkan detail kecil yang selama ini lolos dari mata. Biasanya objeknya tumbuhan dan bunga, jadi Sobat tidak perlu pergi jauh dari teras.

Memang aliran ini idealnya memakai lensa makro khusus. Tapi kantong tipis bukan alasan menyerah. Banyak ponsel sekarang punya mode makro, ada lensa klip murah yang tinggal dijepitkan, dan pengguna kamera bisa memakai filter makro atau memasang lensa secara terbalik (reverse lens, dengan adaptor khusus). Hasilnya? Setetes embun atau sehelai bulu kucing bisa tampil seperti lanskap planet lain.


4. Foto Abstrak


Aliran abstrak mengutamakan warna dan bentuk, bukan objek yang dikenali. Intinya: foto yang membuat orang bertanya, "Ini apa, ya?" lalu menjawab sendiri, "Ah, bagus juga."

Bahannya ada di mana-mana. Susunan gelas dan piring di rak, bercak di tembok yang selama ini disangka noda, atau daun-daun tak beraturan yang ternyata berpola. Dekatkan, miringkan, dan abaikan bentuk aslinya. Tidak perlu peralatan khusus, cukup mata yang berani melihat sesuatu secara berbeda. Remah roti di meja pun, kalau difoto dari sudut yang tepat, bisa tampak seperti pegunungan di planet yang belum ditemukan.


5. Foto Selfie


Untuk yang satu ini, saya tidak akan menerangkan panjang lebar. Menurut penelitian fiktif yang baru saya karang barusan oleh "ahlinya ahli" fotografi, sebagian besar selfie TKP-nya ada di rumah. Klop, kan? Selama Sobat mendekam di rumah karena PSBB, inilah kesempatan mengasah keterampilan berfoto ria sambil menambah koleksi Instagram dan FB.

Tapi, supaya tidak sekadar pamer wajah, ada beberapa tips nyata:


  • Cari cahaya jendela. Menghadaplah ke arahnya, jangan membelakanginya, kecuali Sobat ingin tampil sebagai siluet misterius.
  • Main dengan bayangan atau pantulan, misalnya cermin, kaca jendela, atau permukaan sendok.
  • Potret diri tidak harus wajah. Tangan yang sedang memegang cangkir, bayangan di dinding, atau sepasang sandal jepit juga bisa jadi autobiografi.

Tantangan Seminggu


Supaya tidak berhenti di membaca, ini tantangan sederhana: satu foto per hari selama tujuh hari, masing-masing dari satu aliran di atas, lalu pilih yang terbaik. Dijamin, saat pandemi berlalu dan Sobat kembali bebas keluar, mata Sobat sudah lebih terlatih daripada sebelumnya.

Itulah lima aliran fotografi yang bisa Sobat coba tanpa melangkah ke luar pagar. Semoga ini sedikit menghibur kepenatan akibat terkurung, entah sampai kapan. Semoga pandemi ini cepat berlalu, ya, Sob. Aamiin.
Salam jepret selalu!

Artikel oleh: Tuntas Trisunu

Baca juga: artikel saya tentang aliran-aliran fotografi, untuk penjabaran yang lebih seimbang.

Kamis, 17 September 2020

Mendekatlah! Dan Foto Sobat Akan Jauh Lebih Baik!



Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Kamis, 17 September 2020

Mendekatlah!


Banyak fotografer betah memotret dari "jarak nyaman". Alasannya macam-macam, tapi yang paling sering cuma satu: enggan berinteraksi dengan objeknya. Ngaku saja, Sob. Lensa tele panjang itu kadang bukan alat, melainkan benteng pertahanan bagi yang pemalu.

Padahal ada kalimat tua yang sering dikaitkan dengan Robert Capa: "Jika foto Sobat tidak cukup bagus, berarti Sobat tidak cukup dekat." Pedas, tapi sering kali benar.


Capa dan Pantai yang Tidak Ramah


Capa lahir di Budapest, Hungaria, tahun 1913, dan menjadi salah satu fotografer perang paling terkenal. Ia bekerja di zaman ketika kamera belum punya autofokus, apalagi lensa zoom yang bisa "memperpendek" jarak. Satu-satunya cara mendekat adalah benar-benar mendekat.

Contoh paling terkenal adalah pendaratan Normandia, 6 Juni 1944. Capa ikut gelombang pertama pasukan di pantai Omaha, sementara peluru berdesingan di sekitarnya. Foto-foto yang selamat dari hari itu agak buram dan bergetar, tapi justru terasa hidup. Konon, sebagian besar negatifnya rusak di kamar gelap, dan hanya segelintir frame yang tersisa. Sedikit, tapi cukup untuk dikenang puluhan tahun. Bandingkan dengan foto kita yang tajam, rapi, dan tidak menggetarkan siapa pun, kecuali kalau yang dipotret adalah diskon di toko kamera.


Zoom Itu Memotong, Bukan Mendekat


Di era sekarang, banyak orang merasa lensa zoom sudah cukup. Tunggu dulu. Ada perbedaan mendasar yang jarang dibahas: zoom hanya memotong tampilan, sedangkan melangkah mendekat mengubah perspektif. Hubungan antara latar depan dan latar belakang ikut berubah, ukuran relatif benda bergeser, dan subjek terasa "masuk" ke dalam foto. Zoom dari jauh menghasilkan foto seorang pengintai. Melangkah mendekat menghasilkan foto seorang saksi.

Dan percayalah, saksi selalu punya cerita yang lebih seru daripada pengintai.


Obat untuk yang Malu


Lalu bagaimana kalau Sobat enggan mendekati orang asing? Tenang, ada obatnya, dan tidak perlu resep dokter:

  • Mulailah dengan senyum dan anggukan. Gratis, ampuh, dan tidak perlu baterai.

  • Tanyakan, "Boleh saya foto, Pak?" Kebanyakan orang akan mengangguk. Sebagian bahkan langsung bergaya, dan justru itu sering jadi foto terbaik hari itu.

  • Kalau ditolak, ucapkan terima kasih dan pergi. Tidak ada foto yang sebanding dengan hilangnya rasa hormat.

  • Latihan dulu pada objek yang tidak bisa menolak: bunga, kucing yang pura-pura tidak peduli, atau warung kopi langganan.


Mendekat yang Waras


Satu catatan penting: contoh Capa melibatkan bahaya nyata, dan nyawa Sobat jauh lebih berharga daripada satu frame. Mendekat bukan berarti menerobos ruang pribadi orang, menyodorkan kamera tepat ke wajahnya, atau berdiri di tengah jalan demi sudut yang unik.

Dekat itu soal keberanian untuk melangkah, bukan kebodohan untuk nekat. Fotografer yang menyodorkan kamera ke wajah orang asing tanpa permisi bisa berakhir diomeli satu RT, lalu digiring ke pos satpam atau diserahkan ke Satpol PP karena dianggap mengganggu ketenteraman. Kalau mau dekat, dekatlah dengan sopan.


Keluar dan Berguling


Jadi, keluarlah bersama kamera terbaik yang Sobat miliki. Sering kali foto Sobat akan langsung membaik hanya karena Sobat melangkah lebih dekat, entah objeknya benda, hewan, tumbuhan, atau manusia. Membungkuk, merangkak, berbaring, berguling, salto, koprol, silakan, selama aman. Sobat memang mungkin dikira pingsan oleh pejalan kaki, atau dipandangi kucing yang jelas tidak setuju, tapi foto yang berbeda dan sepadan dengan jerih payah itu layak dibayar dengan sedikit rasa malu.

Dan sisi positifnya: kalau setelah semua atraksi itu fotonya tetap tidak bagus, setidaknya Sobat meraih satu gelar yang kemungkinan bertahan lama: "Orang Gila!" Percayalah, di dunia fotografi jalanan, itu bukan hinaan. Itu tanda bahwa Sobat sudah cukup dekat.

Salam jepret selalu!

Artikel oleh: Tuntas Trisunu