Rabu, 13 Juni 2018

SPOT FOTOGRAFI-MUSEUM SATRIA MANDALA (WISMA YASOO) SATU SEJARAH KELAM TENTANG SAAT-SAAT TERAKHIR PROKLAMATOR & PRESIDEN PERTAMA REPUBLIK INDONESIA - IR. SOEKARNO



Kemayoran, Jakarta, Rabu, 13 Juni 2018

Pk. 01.30 Waktu Indonesia Barat, dan saya masih belum bisa tidur!

Selamat pagi, siang, sore dan malam untuk kalian, para sahabatku. Apa kabar sobat jepret  hari ini? Semoga semburat cahaya sang mentari  tersenyum kepada kalian, seperti halnya ia mensaputkan kelembutan cintanya pada langit sore hari, menghembuskan dengan lembut, selarik kebahagiaan ke dalam relung kalbu, mengusap lembut jiwa kita, mendekap kita dalam kehangatan cintanya, dan membisikkan sejuta “bahagia”, kedalam setiap mili dari ceruk hati kita.

Agak puitiskan? Hahahaha….bukan sobat, ini bukan berarti blog ini berbelok menjadi blog yang sifatnya “mendayu-dayu”, hahahaha…sama sekali bukan! Hanya saja, efek dari kopi yang  luar biasa, telah membuat mata ini jadi seperti pintu angkot usang, terus terbuka dan tak mau menutup! Efeknya? Ya efeknya seperti tulisan saya di atas, saya jadi berlagak puitis, macam anak SMU yang terpesona dengan guratan pena  Khalil Gibran! 

Duh, ngeri sekali bukan? Ya sudahlah, daripada blog yang sudah susah payah saya buat ini jadi bubar (hanya karena saya jadi “pujangga dadakan”), lebih baik saya menulis tentang hal yang “ber-atmosfer” fotografi saja ya sob!

Nah, kali ini saya akan membahas tentang satu spot fotografi, yang sebenarnya sangat unik, tetapi ternyata, kurang begitu menarik perhatian penggemar dan juga komunitas fotografi di Jakarta. Spot tersebut adalah  “Museum Satria Mandala". 


Padahal, kalau boleh jujur, museum Satria Mandala ini menawarkan banyak sekali kelebihan yang berbeda dibanding dengan spot lain. Salah satu contoh adalah suasananya. Museum ini tidak terlalu ramai, sehingga dijamin, konsentrasi saat sobat-sobat jepret memotret atau "beraksi", tak akan terganggu oleh lalu lalang pengunjung. 


Kemudian ada obyek-obyek yang sangat menarik (dengan nuansa militer tentunya!) yang sangat cocok dijadikan obyek utama (still life fotografi, ataupun fotografi obyek), ataupun dijadikan latar belakang (background) foto. Belum lagi, kalau sobat memang tertarik dengan dunia militer dan fotografi, waduh, bisa di mix tuh sob, dan spot ini, adalah tempat yang sangat tepat untuk itu!


Iya sob, spot itu memang museum dalam arti kata yang sebenarnya. Tetapi, berbeda dengan museum lainnya, dalam museum Satria Mandala ini, yang dipamerkan adalah segala hal yang berbau militer, seperti senjata, pesawat, seragam, kapal perang, juga berbagai kejadian sejarah yang berkaitan dengan kegiatan militer.
   

Tetapi, tak banyak yang mengetahui, bahwasanya, museum ini menyimpan satu kisah yang sangat tragis dan kelam. Kisah dimana Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Sukarno, menghabiskan masa-masa terakhir dalam hidupnya dalam kesepian, kesendirian, dipenjara dan diasingkan sampai ajal menjemput, justru oleh orang-orang dari bangsanya sendiri.


Memang Ironis, Presiden yang sekaligus Proklamator Republik Indonesia, diperlakukan sedemikian menyedihkan, bahkan hingga saat ajalnya, tak ada keistimewaan dan penghargaan yang diberikan kepada beliau.

Saya tidak akan bertutur panjang lebar, karena kapasitas saya yang memang sangat lemah dalam mewartakan tentang artikel ini. Untuk itu, saya akan menyadur dari salah satu sumber yang dapat dipercaya. So, tanpa panjang lebar, berikut kisahnya:


Museum Satria Mandala adalah museum sejarah perjuangan Tentara Nasional Indonesia yang terletak di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Museum yang diresmikan pada tahun 1972 oleh mantan Presiden Indonesia, Soeharto ini awalnya adalah rumah dari salah satu istri mantan Presiden Indonesia, Soekarno, yaitu istrinya yang bernama Ratna Sari Dewi Soekarno. Dalam museum ini dapat ditemui berbagai koleksi peralatan perang di Indonesia, dari masa lampau sampai modern seperti koleksi ranjau, rudal, torpedo, tank, meriambahkan helikopter dan pesawat terbang (satu di antaranya adalah pesawat Cureng yang pernah diterbangkan oleh Marsekal Udara Agustinus Adisucipto).

Selain itu museum ini juga menyimpan berbagai berbagai benda bersejarah yang berkaitan dengan TNI seperti aneka senjata berat maupun ringan, atribut ketentaraan, panji-panji dan lambang-lambang di lingkungan TNI. Selain itu di museum ini dipamerkan juga tandu yang dipergunakan untuk mengusung Panglima Besar Jenderal Soedirman saat dia bergerilya dalam keadaan sakit melawan pendudukan kembali Belanda pada era 1940-an.

Masih dalam kompleks Museum TNI Satriamandala ini terdapat juga Museum Waspada Purbawisesa yang menampilkan diorama ketika TNI bersama-sama dengan rakyat menumpas gerombolan separatis DI/TII di Jawa Barat, Jawa Tengah, Aceh, Kalimantan Selatan danSulawesi Selatan pada ear tahun 1960-an. Fasilitas lainnya yang ada di Museum TNI Satriamandala ini antara lain adalah Taman Bacaan Anak, Kios Cenderamata, Kantin serta Gedung Serbaguna yang berkapasitas 600 kursi.

Dan berikut ini adalah satu versi yang memuat tentang kisah tragis, saat-saat terakhir dari Presiden Republik Indonesia yang pertama, Ir. Sukarno. Satu kisah menyedihkan yang seharusnya diketahui oleh generasi muda penerus bangsa, betapa elit bangsa ini, sama sekali tak menghargai pahlawan-pahlawannya.


Bangunan yang terletak di Jalan Gatot Subroto Nomor 14 Jakarta, itu masih kokoh berdiri. Bangunan ini kini digunakan sebagai Museum Satria Mandala milik TNI. Mulai dari halaman depan hingga bagian belakang dan dalam gedung penuh berisi benda-benda berbau militer.

Masuk ke dalam ruang utama, dua bilah pintu dengan tinggi mencapai 2 meter dan lebar masing-masing sekitar 1,25 meter menyambut setiap orang. Tak sembarangan, pintu itu terbuat dari kayu jadi yang dipenuhi ukiran baik di bagian luar maupun dalam.

Usai melewati pintu utama, sebuah replika teks proklamasi yang memenuhi hampir dua pertiga dinding dengan tinggi sekitar 3 meter langsung menyambut mata. Namun demikian, tak banyak benda yang identik dengan Soekarno maupun Dewi terpampang di situ. 

Jika dapat disebut komplek rumah, maka Wisma Yasoo terbagi menjadi beberapa gedung yang tersambung menjadi satu kesatuan. Komplek itu dapat disusuri searah jarum jam, mulai dari pintu utama, kita harus menghadap ke kiri, kemudian lanjut berjalan hingga ujung.

Sesampai di ujung gedung utama, orang diharuskan berbelok ke kanan dan menemukan ruangan yang luas dengan berbagai pajangan bintang jasa. Mungkin akan sedikit bingung jika berada di ruang itu, karena tidak ada akses sama sekali untuk berpindah ke ruangan lain. 

Tetapi, jika teliti, di sana terdapat sebuah tangga yang menghubungkan ruang di bawah yang kini berfungsi sebagai ruang penyimpanan senjata. Saat di dalam pun, hanya ada satu akses, yakni sebuah pintu yang akan menghubungkan dengan halaman belakang gedung utama.

Pada halaman belakang itu, suasana nyaman sangat terasa. Di sana terdapat sebuah kolam ikan berukuran besar, yang dinaungi pohon-pohon rimbun. Tempat yang nyaman untuk menghabiskan waktu luang dengan bersantai. 

Di luar gedung utama, terdapat sebuah gedung dua lantai yang kini berfungsi sebagai ruang diorama. Tetapi, kondisi lantai 1 gedung itu tidak dapat dijamah lantaran rusak akibat banjir besar sekitar tahun 2007 yang melanda Jakarta.

Hampir tak ada jejak Soekarno di sana. Padahal dulu, bangunan ini bernama Wisma Yasoo. Soekarno membangun wisma ini untuk sang istri kelima Naoko Nemoto, yang kemudian diberi nama Ratna Sari Dewi.

"Ini dulu rumahnya Soekarno waktu masih jadi presiden," ujar salah satu karyawan Museum, Dedi Kurniadi (35) saat berbincang dengan merdeka.com di sela aktivitasnya merawat rumput di Wisma Yasoo, Rabu (19/6).

Wisma Yasoo memang dibangun oleh Soekarno untuk beristirahat melepas lelas usai menjalankan tugas sebagai kepala negara. Di rumah itu, Soekarno memadu kasih dengan Dewi, hingga istrinya itu mengandung seorang anak yang dikenal dengan nama Kartika Sari Dewi.

Namun, bayangan kesenangan yang dulu diidamkan Soekarno akhirnya hilang seketika, saat rezim pemerintahan dipegang oleh Soeharto.Situasi semakin buruk sehingga Soekarno akhirnya meminta Dewi melahirkan ke luar negeri. Dia takut terjadi apa-apa pada keluarganya.

Wisma itu pun akhirnya kosong. Soeharto memanfaatkannya untuk menahan Soekarno di tempat itu. Mengasingkannya dari dunia luar. Alat sadap dipasang hampir di setiap sudut Wisma. Penjaga menempel Soekarno dengan ketat. 

Soekarno juga tidak ditempatkan di gedung utama. Dia harus mendekam di sebuah ruangan pengap di berukuran 10x15 meter. Gedung itu diberi nama Makita Loka, yang kini berfungsi sebagai ruang Kepala Museum.

"Ditahannya di ruang Kepala Museum. Di sana ada kamar mandinya," kata Dedi.

Ruang itu hanya bisa diakses melalui halaman belakang komplek rumah. Tidak ada jendela maupun saluran udara di ruangan itu. Hanya terdapat satu pintu sebagai jalur akses keluar masuk ruangan. 

Di ruang inilah Soekarno menjalani hidup sebagai tahanan politik tanpa proses peradilan. Rezim Soeharto pun tidak memberikan celah bagi Soekarno untuk sekedar mendapat informasi perkembangan ibu kota bahkan Indonesia. 

Kondisi itu membuat Soekarno tertekan dan semakin melemahkan kesehatannya yang mengidap komplikasi penyakit salah satunya ginjal. Penyakit itu kian parah sehingga harus dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto. Tetapi, langkah itu tidak memberikan hasil hingga akhirnya Soekarno menghembuskan nafas terakhir pada Minggu, 21 Juni 1970.

Jenazah Soekarno sempat disemayamkan di Wisma Yasoo sebelum dimakamkan. Saat tiba di rumah itu, setelah jenazah dimuliasara, banyak orang datang untuk melepas kepergian Soekarno untuk terakhir kalinya.

Hanya ada satu kata yang mampu mewakili kisah Soekarno , 'ironis'. Ir. Soekarno harus menjalani saat-saat terakhir hidupnya, dalam siksaan....oleh bangsanya sendiri!

Demikian sob, sekelumit kisah tentang Museum Satria Mandala.
Oh ya, untuk melengkapi artikel ini, ada baiknya saya sertakan beberapa foto yang saya ambil di museum tersebut. 

















Senin, 04 Juni 2018

TIPS FOTOGRAFI - MENJALIN KEAKRABAN KETIKA MEMOTRET MANUSIA



Kemayoran, Jakarta, Senin, Mei - Juni  2018

(sengaja saya tidak menulis tanggal, karena ini adalah artikel yang terlambat saya upload, mohon dimaafkan-pen)

Bulan Mei-Juni  tahun 2018 ini, mungkin jadi bulan berkah tersendiri bagi sebagian orang (seperti saya, heheheheh). 

Berkah?....Kok bisa? Kenapa?

Ya berkah lah! Coba sobat jepret lihat kalender, bulan Mei-Juni 2018 tidak mulus hitam atau biru semua, tapi celemongan, alias banyak tanggal merahnya.....Horeeee!!!!!

Ya....Horeeee! Soalnya, banyak hari libur, berarti banyak waktu luang untuk menjalani hobby sobat masing-masing. Yang hobby mancing, bisa langsung nyiapin joran dan umpan, yang hobby tidur, bisa langsung disiapin selimut plus bantal, dan yang hobby bengong.....ya udah...bengong aja!

Nah, khusus untuk saya, banyak libur, berarti banyak waktu untuk menjalani kegiatan yang untuk saya, sangatlah menyenangkan! Motret dan juga menulis, wah.....sudah terbayang kenikmatan di depan mata, menjalani kegiatan tersebut, ditemani oleh dua rekan karib saya, "mbak" kopi dan "mas" rokok!

Pemusik Tradisional Korea
Stand Makanan Korea-Jakarta Fair 2018

Memang sob, akhir-akhir ini, saya semakin menikmati kedua kegiatan tersebut, ditengah hingar-bingar keramaian akibat dari iklim atau suhu politik saat ini, yang masih diperparah dengan nilai tukar Rupiah yang terus menerus "mengalah" terhadap Dollar, yang efeknya juga ngawur...sampe harga cabai juga ikut naik! Hingar bingarnya kondisi,  yang disadari atau tidak, mulai mempengaruhi perilaku setiap orang dan ikut-ikutan menjadi "heboh" dan panik dadakan plus extra latah.

Benar sob, saya jadi semakin menikmati dua kegiatan ini, menulis dan memotret.

Tiga anak bermain di dekat alat berat
Bintaro-Jakarta 2016

Dan artikel kali ini, sengaja saya tulis untuk menanggapi pertanyaan dari kawan, tentang aliran fotografi yang akhir-akhir ini saya "gila-gilai". Pertanyaannya begini:

"Bro, kok sekarang lu hobby nyetreet sih? (maksudnya hobby motret dengan tema street Photography-pen), udah ga mau lagi moto model?"

Dan sayangnya, saya tak sempat menjawab pertanyaan sobat saya itu, entah karena apa...Mungkin sibuk, mungkin lupa, atau mungkin juga karena tak ada kuota (nah, kayanya yang ini bener nih, tak ada kuota!).

Dua Sahabat di warung kopi
Kebayoran lama-Jakarta 2017

Dan karena itu pula, artikel kali ini akan saya "persembahkan" sebagai jawaban dari pertanyaan sobat saya itu, (sekaligus menebus perasaan bersalah karena tak jua menjawab pertanyaan dia!)

Iya, memang akhir-akhir ini, saya cenderung untuk menyukai "Street Photography". Bukan tanpa sebab, saya menyukai Street, bagi saya pribadi, Street Photography memberikan saya kebebasan penuh dalam  hal waktu, tempat, background, dan lain-lain. Juga memberikan keleluasaan untuk memilih tema dari foto yang saya ambil. Saya tak harus memikirkan dan mempersiapkan tema  foto jauh-jauh hari, semuanya sifatnya spontan, tidak kaku, tidak "monoton". Itu kalau saya beralasan dari perspektif dari sisi waktu dan keistimewaan, dan sangat cocok untuk saya, yang jelas-jelas "bukan fotografer".

Lalu, dimana letak "kenikmatan gaya lain" dari Street fotografi itu sebenarnya?

Ternyata, jawabannya sangat sederhana: "Keakraban dengan sang obyek foto!"

Bener sob, ternyata selama ini, saya terlanjur mematok standar tertentu untuk fotografi jalanan, haruslah candid 100%, alias foto sembunyi, sembunyi, tanpa diketahui oleh si obyek foto. Tetapi, ternyata, aturan tersebut tidak dapat diterapkan "plek" untuk seluruh kasus. 

Adakalanya, ketika saya berhasil menjalin komunikasi dengan si obyek foto, dan meminta supaya si obyek foto mau untuk saya foto  (dengan sopan, halus, dan sedikit meng-iba2 tentunya!), foto yang saya hasilkan, ternyata memiliki keunikan lain. Ada suasana keakraban dalam foto itu, ada aura dimana saya merasa, saya berada dalam frame tersebut, dan ada kesan, seakan-akan, frame tersebut bukanlah satu frame dalam artian sebenarnya, melainkan lebih kepada “mata kepala” saya sendiri.


Dengan kata lain, ketika kita melihat foto yang dihasilkan dengan teknik ini, maka kita seakan-akan melihat kejadian dalam frame itu secara langsung, terlibat dan berinteraksi dengan si obyek foto secara nyata, secara “in person”.

Tentu saja, tidak selamanya, si obyek foto tersebut, mau untuk saya foto, bahkan beberapa kali, saya mengalami penolakan. Tetapi jumlah yang menolak ternyata sangat sedikit, lebih banyak yang bersedia untuk difoto dibanding dengan yang tidak. Dan satu hal lagi, mereka tersenyum! Sungguh sangat berlainan “nafasnya” dengan foto candid yang saya telah hasilkan selama ini.

Benar rupanya apa yang dikatakan oleh fotografer kondang “Deniek G. Sukarya” dalam bukunya “kumpulan tulisan fotografi”. 

Beliau menulis, (saya kutip): 

“Bagi saya, cara terbaik membuat foto-foto manusia, adalah dengan pendekatan pribadi yang tulus, melalui senyum, percakapan, dan interaksi lain untuk menciptakan keakraban dan rasa nyaman. Ketika merasa sudah diterima, barulah saya mengutarakan keinginan saya untuk membuat foto mereka.”

Begitulah sob, salah satu tips untuk memotret manusia.....” keakraban dengan sang obyek”! 

Tak ada salahnya untuk diterapkan, walaupun, tidak melulu harus selalu seperti itu! Terkadang, candid juga diperlukan untuk moment-moment tertentu yang memang tidak memungkinkan untuk memotret secara langsung. Tetapi, ketika ada moment yang memungkinkan, maka trik pendekatan keakraban, patut dan wajib untuk dicoba.

Dan berikut ini, adalah beberapa foto yang saya ambil, dengan cara pendekatan keakraban seperti yang sudah saya tulis. Sengaja saya meminta mereka untuk berpose sesuai dengan keinginan mereka sendiri, dan mereka telah memberikan pose yang menurut saya, sangat nyaman untuk mereka.

Catatan: Untuk rekan saya yang telah melontarkan pertanyaan: "Bro, kok sekarang lu hobby nyetreet sih? (maksudnya hobby motret dengan tema street fotografi-pen), udah ga mau lagi moto model?"...Semoga tulisan saya dalam artikel ini bisa sedikit banyak menjawab pertanyaan sobat!

Sukses selalu sobat, dan salam jepret!






Rabu, 23 Mei 2018

ALIRAN FOTOGRAFI YANG POPULER DIKALANGAN ANAK MUDA



Kemayoran, Jakarta, Rabu, 23 Mei 2018

Selamat pagi, siang, sore, dan malam untuk sobat jepret semuanya. Apa kabar? Apa udah pada tau semua, kalau di hari ini, harga dollar selembarnya sudah mencapai 14 ribu dua ratus perak?....Hahahahaha, silahkan pada semaput deh Sob. Yang udah pada punya target beli lensa atau kamera, kayanya harus pada "menahan diri" nih...hahahaha.

Ya sudahlah, ditangisi juga percuma, disesali juga tiada guna. Sabar aja, biar Tuhan yang bales.

Nah, daripada bermuram durja dan bergundah gaulana, lebih baik, saya menulis artikel saja deh. 

Artikel saya kali ini akan mengulas satu topic  yang sebenarnya, diluar pengetahuan saya  (kalau mau ikut bahasanya kids jaman now…topic ini tuh…”nggak gue bangetzzzzz”).

Lah, kok bisa? 

Iya, karena artikel kali ini, akan membahas tentang aliran fotografi yang populer dikalangan “kids jaman now”, alias, aliran fotografi  yang popular untuk anak muda jaman sekarang, sedangkan saya? Sudah jelas, kids jaman prehistoric, atau anak muda jaman….”doeloe”. Hehehehe….jadi, artikel ini akan saya dahului dengan permintaan maaf yang sebesar-besarnya untuk anak muda jaman now, atas kelancangan saya menulis artikel tentang "kelakuan" anak muda dalam berkamera.

So, biar ga terlalu bertele-tele, ada baiknya kita mulai saja artikelnya ya sob.

Alkisah, pada jaman dahulu…..eh…salah…waduh, salah contekan nih…maaf!

Untuk artikel kali ini (nah, ini baru contekan yang bener!), saya akan mengulas tentang beberapa aliran dalam fotografi yang saat ini menjadi “Hits” di kalangan anak muda. Aliran-aliran fotografi ini menjadi satu identitas atau ciri khas “tak resmi” yang melabeli semangat anak muda dalam fotografi. Sebenarnya, aliran-aliran fotografi ini tidak melulu menjadi dominasi anak muda, namun, karena pelakunya mayoritas adalah anak muda, maka tak salah kiranya kalau aliran-aliran fotografi ini didapuk menjadi alirannya kids jaman now, so, berikut aliran-aliran fotografi tersebut:



1. Selfie

Nah, kalau aliran yang satu ini, saya rasa saya tak perlu menerangkannya secara panjang lebar,karena memang, semua orang (atau hampir semua orang) melakukan hal ini.

Tapi, tak ada salahnya deh kalau saya ulas lagi. 

Aliran selfie adalah aliran fotografi, dimana sang obyek foto dan si fotografer, adalah orang yang sama, dan dipotret pada saat yang bersamaan, di tempat yang sama juga! Singkatnya, selfie ini adalah seni memotret diri sendiri. 

Foto selfie ini mulai merebak dan meledak, ketika sosial media dan juga kamera mulai bersifat sangat umum dan mudah diakses oleh banyak orang. Ketika kamera mulai di “simplifikasi” dan diserap kedalam HP pintar, dan HP pintar juga ber”kolaborasi” dengan sosmed, efeknya sudah bisa ditebak, setiap orang “mendadak fotografer” dan setiap orang “mendadak model”.



Menurut sumber lain, foto selfie adalah : “Swafoto atau foto narsisis (bahasa Inggris: selfie) adalah jenis foto potret diri yang diambil sendiri dengan menggunakan kamera digital atau telepon kamera. Foto narsisis sering dikaitkan dengan narsisisme, terutama dalam jejaring sosial. Pose yang digunakan umumnya bersifat kasual, dan diambil dengan menggunakan kamera yang diarahkan ke diri sendiri, atau bisa juga melalui cermin. Objek foto ini biasanya hanya si fotografer atau beberapa orang yang bisa dijangkau oleh fokus kamera. Foto narsisis yang melibatkan beberapa orang disebut dengan "foto narsisis kelompok".

Dan saat ini, perlengkapan untuk menunjang kegiatan foto selfie ini juga semakin berkembang, mulai dari tongsis, sampai drone.



2. Toys Fotografi

Toys fotografi adalah seni memotret mainan, dimana obyek sentral dari foto aliran ini adalah... mainan (hadehhhh....ya iya lah!), Di dalam toy fotografi kita bisa menempatkan objek atau mainan tersebut dimanapun, atau dipasangkan dengan beberapa benda, atau diorama, sehingga objek tersebut terlihat hidup. Biasanya, disertai dengan sentuhan-sentuhan edit, untuk menimbulkan kesan “hidup” pada foto aliran ini.




3. Wedding Photography

Fotografi pernikahan adalah campuran dari berbagai jenis fotografi. Meskipun fotografi pernikahan adalah sebuah film dokumenter dari hari pernikahan, foto pernikahan dapat retouched dan diedit untuk menghasilkan berbagai efek. Sebagai contoh, seorang fotografer bisa mengobati beberapa gambar dengan toning sepia untuk memberi efek lebih klasik.



Selain itu, seorang fotografer pernikahan harus memiliki kemampuan fotografi potret, dia juga mungkin harus menggunakan teknik fotografi glamour untuk menangkap gambar pengantin agar terlihat lebih baik.  Fotografi pernikahan telah berkembang dan tumbuh sejak penemuan bentuk seni fotografi pada tahun 1826 oleh Joseph Nicéphore Niépce



4. Underwater Photography

Nah, kalau aliran fotografi yang satu ini, saat ini lagi naik daun. Alias hits luar biasa. Sebenarnya, apa sih Underwater Photography itu? Secara sederhana sih, Underwater Photography itu adalah memotret di bawah air. Pokoknya, kalau memotret bawah air, dapat digolongkan kedalam aliran ini. 



Underwater photography yang dalam bahasa Indonesia berarti fotografi bawah air bertujuan untuk mendapatkan kehidupan bawah laut ke permukaan. Tapi sekarang tidak jarang ada yang memadukan antara Undeewater+wedding, hasinlya sangat luar biasa keren. Tidak heran aliran yang satu ini menjadi sangat populer dikalangan anak muda.



Ada 2 aliran fotografi underwater secara umum, yaitu Macro Photographer dan Wide Angle photographer. Macro photographer adalah mereka para peminat objek – objek kecil dari jenis ikan, kuda laut, nudibranch (siput), udang, kepiting, dll. Sedangkan Wide angle photography lebih memfocuskan diri untuk mengambil gambar sudut lebar terutama pemandangan bawah air. Kedua aliran tersebut membutuhkan spesifikasi peralatan yang berbeda.



5. Macro Photography

Secara konseptual, fotografi makro adalah proses pengambilan gambar dimana hasilnya berkisar antara 1:10 hingga 1:1 dari ukuran asli obyek tersebut. Misalnya, obyek yang Sahabat Fotografi ambil adalah semut, maka semut akan terlihat sangat besar bila dibandingkan dengan bentuk aslinya. Perbesaran ini dapat dilakukan dengan mendekatkan obyek dengan kamera, atau dari jarak tertentu dengan menggunakan lensa tele. Foto yang dihasilkan haruslah memiliki komposisi yang seimbang sehingga menghasilkan gambar yang hidup.



Obyek fotografi makro ada dua, benda mati/diam dan makhluk hidup. Obyek benda mati meliputi peralatan makan, makanan, perhiasan, uang koin, mainan, percikan air dan sebagainya. Sedangkan makhluk hidup dapat meliputi serangga, kupu-kupu, bunga, dan sebagainya.



Pemilihan obyek sebenarnya didasarkan oleh tujuan fotografi makro itu sendiri. Obyek benda mati biasanya ditujukan kepada tujuan promosi, hingga engineering. Sedangkan obyek benda hidup lebih tertuju kepada kebutuhan ilmiah (identifikasi satwa atau tanaman), hingga keindahan.

Yup Sobat,  demikianlah 5 aliran fotografi yang sedang ngetrend atau sedang digila-gilai sama kids jaman now. Benernya sih, yang paling tinggi ratingnya alias yang pualiiiing banget digandrungi oleh kids jaman now (dan kids jaman old) sampai dengan saat ini, adalah selfie, mau selfie sendiri, atau selfie ramai-ramai, alias selfie sekecamatan.

Memang tidak 100% benar sih sob, tetapi, kalau mau dicermati, point nomer dua sampai dengan lima, bisa berubah, sesuai dengan kondisi jaman, tergantung musim, cuaca, dan nilai tukar rupiah, tapi, kalau yang nomor satu, alias foto selfie, wah...itu kayanya akan bertahan hingga ratusan tahun lagi...!



Bahkan, sampai ada anekdot..."Dollar naik? Woles bray, dibawa selfie aja"..hahahahaha.

Demikian sob, sekedar ulasan super singkat tentang trend fotografi yang lagi digila-gilai anak mude jaman sekarang alias saat ini, semoga dapat menghibur sobat-sobat semua, dan semoga, dollar cepet "bertobat" dan kembali kepada jalan yang benar, yaitu 10 ribu perak per satu dollar. terima kasih!

(Sedih, gara-gara dollar naik, harga lensa dan nasi padang, juga ikutan naek............)

Selasa, 15 Mei 2018

ALIRAN FOTOGRAFI-HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY (serie 2)


Pengayuh becak, Cileduk, Tangerang

Kemayoran, Jakarta, Selasa, 15 Mei 2018

Selamat pagi, siang, sore dan malam untuk sobat jepret semuanya. 

Kalau dalam artikel sebelumnya, saya sudah mengulas tentang Street Photography, kali ini, saya akan mencoba untuk mengulas tentang Human Interest. 

Nah, apa itu Human Interest Photography? 

Terus terang, saya agak sulit untuk menerangkan aliran fotografi yang satu ini, bukan tanpa sebab, karena aliran ini tak punya batasan yang jelas, dan sering sekali disamakan dengan aliran lain semacam Street Photography (Fotografi jalanan), Fotografi Budaya (Culture Photography), bahkan dengan Fotografi Potret.

Lho, kok bisa campur aduk seperti itu? Mungkin penyebabnya adalah, dari semua aliran yang sebutkan brusan, seluruhnya melibatkan unsur manusia, entah sebagai obyek utama, atau obyek penunjang. namun,  Street Photography (Fotografi jalanan), Fotografi Budaya (Culture Photography), Fotografi Potret, dan juga Human Interest, seluruhnya melibatkan unsur manusia. Jelas, dengan adanya sosok "manusia" di dalam frame, maka, ketika orang melihat foto-foto dari berbagai aliran tersebut, alam bawah sadar akan secara otomatis menggiring persepsi dalam otak ke arah manusianya, baru kemudian citra atau gambar lain dalam frame.

Penjual Kerak Telor, Puri Beta 2, Ciledug Tangerang-Banten

Gimana? Ngerti gak? Hahahahaha......sabar sob, mungkin saya bisa sederhanakan seperti ini :

"Ketika manusia melihat suatu foto, maka obyek yang paling dahulu dilihat adalah manusia, setelah itu yang lainnya"....Nah, paham tokh sekarang?

Itulah penyebabnya, mengapa aliran-aliran fotografi yang sudah saya tuliskan diatas, menjadi rancu satu sama lain, karena fokus atau "point of interest" nya sama....Manusia!

Terus, balik lagi kepersoalan  utama, jadi, apa sih sebenarnya "HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY" itu?

Ini sob, penjabaran secara panjang lebar (disadur dari www.fotografi.lovelybogor.com)

Penjahit Pinggir Jalan, Kebayoran Lama
Jakarta

Hehehehe, sebenarnya jawabannya sederhana sob, HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY adalah satu aliran dalam fotografi (lihat tentang human interest, bagian 1), dimana penekanan atau fokus dari obyek utamanya adalah manusia, dengan kata lain, Fotografi Human Interest atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai fotografi humanisme adalah “aliran” yang menekankan pada manusia sebagai obyek utamanya. 

Meskipun demikian, ada perbedaan dengan aliran-aliran lainnya, sebuah foto human interest akan lebih menitikberatkan terhadap hadirnya “mood” atau “suasana” atau “emosi” dalam setiap potret yang dihasilkannya.

Pemulung, Puri Beta 2 Ciledug
Tangerang-Banten
Penekanan terhadap unsur “mood” didalam setiap potretnya membuatnya berbeda dari genre fotografi jurnalistik yang menekankan pada unsur peristiwa. Tidak jarang foto human interest pun dimasukkan dalam genre lainnya, yaitu fotografi jalanan, karena mayoritas fotonya juga “dipungut” dari kehidupan jalanan, tetapi karena tidak semua fotografi jalanan bersubyek manusia, maka fotografi humanisme sering dianggap bagian yang berdiri sendiri.
Tetapi, ada perbedaan dasar yang menjadikannya berbeda.

Fotografi human interest menampilkan manusia dalam kehidupannya sehari-hari dalam kondisi yang sealami mungkin. Manusia-manusia yang menjadi inti sebuah potret bahkan sering tidak menyadari bahwa dirinya menjadi sasaran kamera.

Sangat alami dan natural.

Apalagi, sebuah foto human interest tidak selamanya terfokus pada sang manusianya saja, tetapi menggambarkan juga kehidupan mereka, reaksi, ekspresi atau tindakan spontan mereka menghadapi situasi saat potret dibuat.

Jadi, bukan hanya pada manusianya. Unsur lingkungan dan situasi pada saat potret dibuat akan bisa menjadi unsur penting di dalamnya.

Penjual Keperluan Rumah Tangga, Puri Beta, Ciledug, tangerang-Banten

Bertujuan Menarik Simpati?

Bisa jadi dan tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar.

Banyak yang memberikan penjelasan tambahan bahwa fotografi human interest bertujuan untuk menarik simpati mereka yang melihat. Tidak salah, karena salah satu cara menampilkan “mood” atau “suasana” dalam sebuah foto adalah dengan memasukkan unsur yang bisa mengundang “rasa” dalam diri yang melihat.

Salah satu rasa itu adalah “simpati” dan “empati”.

Penjual Tisue, Kemayoran, Jakarta Pusat

Oleh karena itu, banyak fotografer yang mengambil subyek atau obyek foto berupa mereka-mereka yang berasal dari kalangan ekonomi bawah. Bagaimanapun, rasa kasihan atau simpati ada dalam diri setiap manusia dan melihat mereka-mereka yang berada dalam tekanan kehidupan adalah cara yang paling umum dan mudah untuk mendapatkan perhatian dari yang melihat.

Meskipun demikian, tidak selamanya benar.

Fotografi human interest bukan hanya untuk menghadirkan simpati. Tidak ada batasan bahwa sebuah potret harus mengambil tema kesusahan orang dan mengundang airmata dari yang melihat. Sebuah foto humanisme bisa saja mengambil obyek orang kaya dan sukses serta menggambarkan kemewahan yang dinikmatinya.

Yang terpenting adalah menghadirkan “mood” tersebut di dalam karya foto yang dihasilkan.

Nah, berikut ini adalah beberapa tips untuk foto aliran Human Interest 

Tips Membuat Foto Human Interest

Terlihat mudah, tetapi sebenarnya membuat sebuah foto human interest bukanlah perkara mudah. Masalah paling utama yang paling sering dihadapi adalah untuk menghadirkan yang namanya “mood” atau “emosi” ke dalam potret.

Tidak pernah ada cara yang “ampuh” atau paling benar untuk melakukan semua itu. Masing-masing fotografer harus terus mencoba dan mencoba melakukannya. Mengusahakan agar feeling dan insting terasah dengan banyak turun ke jalan adalah kewajiban.

Penjual barang bekas, Kebayoran Lama, Jakarta
Tidak bisa tidak karena fotografi human interest lebih mengedepankan rasa yang hadir di dalam diri sang fotografer dibandingkan sekedar menerapkan berbagai teknik fotografi.

Walaupun demikian, ada beberapa tips yang bisa dicoba untuk meningkatkan peluang menghasilkan foto bertema human interest yang baik.

1) Banyak Membaca Berita
Terlihat tidak ada kaitannya, tetapi karena kebanyakan foto dari “genre” ini diambil di jalanan, seperti street photography, pengetahuan tentang berbagai tema sosial dalam masyarakat dapat memperluas wawasan.

Sebagai contoh, semisal kejadian yang sedang hangat menjadi berita adalah penggusuran kaki lima disuatu tempat, maka, seandainya anda membuat foto tentang itu, pesan yang akan disampaikan oleh foto anda, akan menjadi sangat kuat, dan lebih mampu berbicara.

2) Jeli Melihat Situasi dan Lingkungan Sekitar
Fotografi human interest dalam berbagai hal tidak berbeda jauh dengan fotografi jalanan dan kebanyakan obyeknya pun ada di dalam kehidupan keseharian. Oleh karena itu, teknik hunting fotonya pun tidak berbeda jauh.

Jeli dalam mencari obyek dan momen adalah sebuah keharusan. Terkadang menunggu di satu titik lebih baik dibandingkan terus berjalan karena hal itu memberikan kesempatan seorang fotografer untuk memandang ke sekitar untuk menemukan hal-hal yang menarik.

Seniman Boneka, Fatahillah, Kota, Jakarta

3) Kamera Harus Siap Beraksi
Mau tidak mau. Momen-momen di jalanan tidak akan bisa diulang lagi. Semua terjadi dalam hitungan detik. Dalam hal ini prinsip “decisive moment“-nya Henri Cartier Bresson berlaku.

Kamera harus dalam kondisi standby setiap saat untuk menghindari kehilangan momen-momen. Mode auto akan lebih menguntungkan dalam hal ini karena fotografi human interest lebih mengandalkan pada kekuatan “cerita” dalam potret dibandingkan penerapan teknik fotografi.

Meskipun demikian, seorang fotografer kawakan tetap mungkin mendapatkan sebuah foto yang menarik bahkan dengan mode manual sekalipun karena skillnya dalam menentukan settingan kamera yang tepat.

4) Lensa Zoom Menguntungkan
Salah satu kriteria (meski tidak mutlak dan sulit dibuktikan) adalah sifat alami alias tidak dibuat-buat. Seringkali hal itu terkendala oleh sikap sang obyek yang berubah menjadi kaku dan tidak natural ketika tahu dirinya berada dalam bidikan lensa. Itulah sebabnya seringnya harus ada jarak yang cukup antara yang memotret dengan obyek agar kehadiran kamera tidak mempengaruhi tingkah laku “buruan”. 

Pemakaian lensa zoom akan sangat menguntungkan karena jarak bisa tetap dijaga dan sang fotografer bisa leluasa mengamati obyek mereka tanpa mengganggu aktifitasnya.

Penjual Bunga Keliling, Puri Beta

5) Meminta Izin
Terkadang, suka atau tidak suka banyak orang yang tidak suka kamera diarahkan kepada dirinya. Apalagi jika kamera yang dibawa adalah DSLR, yang entah kenapa sering menimbulkan reaksi tidak nyaman dari sang obyek. 

Oleh karena itu, jika ternyata setelah tombol shutter ditekan dan kemudian reaksi dari sang obyek terlihat tidak nyaman, ada baiknya mempertimbangkan untuk mendatanginya dan berkomunikasi secara langsung. Jelaskan tujuan Anda mengambil foto dan perlihatkan hasilnya.

Dalam banyak kasus, mereka pada akhirnya mengerti dan bahkan tidak jarang mengajak berbincang (pengalaman sendiri). Tidak jarang bahkan mereka bersedia dipotret lagi. Jangan ragu untuk meminta izin jika diperlukan.

6) Pisahkan Obyek Utama
Salah satu kesulitan yang paling sering dihadapi di jalanan adalah situasi yang terlalu ramai. Terkadang meski ada obyek menarik, tetapi hasilnya tidak maksimal karena banyak hal yang tidak perlu, terutama orang-orang yang berlalu lalang, hadir dan mengganggu. 

Jika menghadapi hal ini, cobalah berbagai sudut pemotretan sehingga sang sasaran bisa dipisahkan dari latar belakang yang terlalu “gaduh”. Jangan diam dan statis, tetapi usahakan agar sebisa mungkin sang obyek bisa benar-benar terfokus tanpa gangguan.

Penjual cemilan Tahu, Selasar Blok-M, Jakarta

7) Pakai Bokeh
Kalau ternyata memisahkan sang obyek dari latar belakang sulit, kaburkan latar belakang dan pakai bokeh. Dengan begitu latar belakang yang ramai bisa “dihilangkan” dan tidak lagi mengganggu target utama. Lagipula, dengan mengaburkan background akan menambah nilai artistik dari sebuah foto. Bukan keharusan, tetapi bisa sangat membantu.

8) Pilih Obyek Yang Berkarakter Kuat atau Unik
Foto human interest seringnya harus mengandalkan pada sosok, terutama kalau kita hendak membuat potret.

Untuk itu kejelian dalam memilih karakter yang menjadi tokoh utama diperlukan. Carilah karakter-karakter yang “kuat” atau “unik”. Masing-masing selera akan berbeda, jadi tentukanlah berdasarkan selera sendiri. Tidak ada patokan standar tentang hal ini.


9) Fokuskan Pada Wajah
Wajah adalah area dimana emosi seseorang akan ditampilkan pertama kali. Emosi akan menciptakan mood.

Memfokuskan ide utama sebuah foto pada wajah seseorang, bisa sangat membantu dalam menghadirkan unsur “mood” atau “emosi”.

10) Pakai Foto Hitam Putih
Bukan tanpa alasan, penggunaan foto hitam putih sangat banyak ditemukan dalam fotografi jalanan atau human interest.

Pengemis, Puri Beta 2, Ciledug, Tangerang-Banten

Nuansa “suram” dan penuh “misteri” yang dihadirkan foto monochrome ini membantu menghadirkan yang namanya “mood”, terutama kalau yang ingin dihadirkan adalah ide tentang kesedihan, kesusahan.

Itulah penjabaran luar biasa dari fotografer ahli, yang menerangkan secara panjang lebar tentang aliran Human Interest ini. Mungkin diantara sobat ada yang memiliki persepsi sendiri tentang aliran ini, yang berlainan dengan penuturan beliau...itu sama sekali tidak salah.

Kembali lagi, fotografi itu seni, bukan eksakta, bukan ilmu pasti (baca artikel tentang ini), jadi setiap orang berhak untuk memiliki persepsi yang berbeda, selama masih dalam garis besar yang sama. 

Jasa Tukar Uang, Kota, Jakarta

Nah, demikianlah penuturan tentang aliran fotografi yang bernama Human Interest. Semoga artikel ini bisa menambah wawasan kita tentang aliran Human Interet tersebut.

Akhir kata, seperti kata pepatah, "tak ada gading yang tak retak", artikel inipun sama seperti itu, masih sangat boleh untuk dikritik dan ditanggapi.

Salam jepret.