Edisi kali ini bisa dikatakan sebagai edisi narsis dan nostalgia. Ceritanya, pada jaman dahulu, sekitar tahun 1994, saya dan para Sobat sedang melanglang buana ke Jogjakarta (dilafalkan “Yogyakarta”). Dan kalau ke Jogja, kurang afdol rasanya kalau tidak sekalian pakansi ke candi Borobudur.
Maka, suatu hari, kami memutuskan untuk berangkat ke Borobudur. Angkutan umum sudah pasti jadi sarana pilihan kami untuk melancong ke sana. Tapi, berbeda dengan “kaum kebanyakan” yang pergi pagi pulang sore, kami memutuskan untuk berangkat sore hari dari Jogja, biar anti mainstream, sekaligus mau menikmati suasana matahari terbenam di Borobudur.
Sekitar pk. 16.00, kami tiba di candi tersebut. Masuk ke dalam kawasan, kami banyak berpapasan dengan pengunjung yang mulai pulang. Naiklah kami ke atas candi, dan tanpa basa-basi, kami mulai menikmati suasana menjelang malam di atas candi.
Singkat kata singkat cerita, menjelang mahgrib, kami diminta meninggalkan area candi karena sudah masuk jam tutup. Kamipun bergegas turun, lalu langsung menuju warung untuk sekedar mengisi perut dengan cemilan, kopi, dan juga rokok. Tepat pk. 19.30, kami beranjak menuju terminal untuk kembali ke jogja.
Astaga.
Ternyata, angkutan umum sudah selesai beroperasi pk. 18.00 WIB, dan terminal kosong melompong. Waduh, cilaka sembilan belas ini namanya. Bekal di kantong tidak seberapa, tak akan cukup untuk makan malam, apalagi untuk sewa penginapan.
Berundinglah kami untuk mencari solusi yang jitu, apakah akan menginap dan pulang esok pagi, ataukah nekat pulang, dengan resiko terburuknya jalan kaki.
Dan kami sepakat untuk berjalan kaki, dari Magelang menuju Jogja, dengan berjalan kaki.
Capek, tapi senangnya luar biasa. Kami mulai berjalan pk. 21.00, dan tiba di Jogjakarta pk. 03. 00 WIB
Seandainya saya dianugerahi seribu kehidupan, maka saya akan kembali memilih kehidupan saya yang sekarang untuk saya jalani selama seribu kali.
Sungguh, masa-masa yang sangat indah.
Coretan Tambahan: Sisi Lain Jalan Kaki Magelang - Jogja
Kalau dipikir-pikir pakai logika sehat sekarang, keputusan nekat jalan kaki dari Magelang ke Jogja malam itu adalah puncak kegilaan masa muda kami yang paling hakiki. Bayangkan saja, jarak puluhan kilometer kami jabanin cuma modal alas kaki seadanya dan sisa-sisa tenaga yang sudah diperas habis setelah seharian memanjat tangga Borobudur. Di beberapa kilometer pertama sih kami masih bisa sok tangguh; berjalan sambil tertawa lebar, asyik merokok, sambil menyanyikan lagu-lagu lawas dengan suara fals yang sukses bikin kucing pinggir jalan ketakutan.
Tapi begitu jam dinding melewati tengah malam, rute Magelang-Jogja mendadak berubah jadi arena uji nyali yang sesungguhnya. Saban kali ada truk gandeng melintas gila-gilaan, anginnya yang aduhai itu sukses bikin badan kami yang kurus-kurus ini agak terhuyung ke pinggir aspal mirip daun kering ditiup angin. Pemandangan di kanan-kiri jalan pun makin suram—isinya cuma hamparan tegalan, sawah, dan kebun yang gelap gulita. Hanya ada satu dua warung yang malam itu sudah tutup rapat, plus beberapa rumah warga yang letaknya berjauhan banget, mirip orang musuhan.
Sekitar pukul 01.00 dini hari, drama sesungguhnya dimulai. Kami benar-benar berada di titik jenuh kelelahan. Betis rasanya sudah kondekan dan minta pensiun dini. Tenggorokan juga kering kerontang mirip padang pasir di siang bolong, sementara tidak ada satu pun warung yang buka sekadar buat beli es teh manis. Di tengah keputusasaan tingkat dewa itu, untungnya kami menjumpai sebuah rumah yang halamannya masih terang benderang. Pas kami intip, sang pemilik rupanya masih terjaga dan lagi sibuk menumpuk jerami di pekarangan rumahnya.
Dengan modal muka tembok dan sisa tenaga yang tinggal dua persen, kami menghampiri beliau buat minta izin numpang selonjoran sekaligus minta air minum. Pemilik rumah itu seorang laki-laki paruh baya dengan perawakan badan yang kekar—ciri khas petani tulen yang ototnya terbentuk karena kerja keras, bukan karena member gym larang. Di luar dugaan, bapak petani ini baiknya fiks nggak ada obat! Beliau menyambut kami dengan sangat ramah, langsung mempersilakan kami melepas lelah di halaman rumahnya, dan menyuguhkan kami air putih hangat. Rasanya? Wah, air putih hangat malam itu mengalir di tenggorokan mengalahkan nikmatnya sirup mahal mana pun di dunia!
Kami sempat mengobrol santai sebentar dengan beliau, saling melempar tawa di bawah temaram lampu pekarangan, sebelum akhirnya kami pamit undur diri buat melanjutkan sisa perjalanan ke Jogja. Meskipun raga ini disiksa habis-habisan sampai betis kaku mati rasa, ajaibnya nggak ada satu pun di antara kami yang mengeluh atau saling menyalahkan. Kebersamaan bareng Wendy, Tito, dan mendiang Sereh malam itu—ditambah plot twist kebaikan hati bapak petani kekar tadi—justru bikin ikatan persahabatan kami makin rekat. Kami pulang membawa betis yang pegal luar biasa, tapi juga membawa sebuah cerita mahal tentang kemanusiaan yang nggak bakal bisa dibeli pakai uang. Sebuah bukti nyata kalau bahagia di masa itu sesederhana jalan bareng sahabat sejati di bawah langit malam yang sama.
Catatan
Foto di atas adalah foto yang kami jepret saat di Borobudur. Belum ada kamera digital, segala urusan jepret menjepret masih mengandalkan kamera engkol dan roll film. Dan gaya kami di atas, pada masa itu, gaya model begitu sudah menjadi standar gaya paling Top anak Muda.
In Frame; (kiri ke kanan) Saya, sobat saya Wendy LW, sobat saya Sereh, dan Tito
Lokasi: Borobudur
Artikel yang sangat menarik serta menambah wawasan! Dan juga foto-foto yang luar biasa....Great Job!
BalasHapus