Karet, Jakarta, Senin, 28 Maret 2016
Edisi kali ini masih tentang fotografi!
Dalam edisi ini, saya posting hasil jepretan temen-temen
di komunitas fotografi Banana’s Photography, yang menurut saya, luar biasa.
FG: Arsya
Dalam foto di atas (dari perspektif saya tentunya), si fotografer(FG) berusaha untuk menangkap sisi roman sekaligus sudut feminin dari si model, lewat pengambilan potret dari sisi samping, yang mempertegas karakter si model. Fotografer seakan-akan berusaha untuk menggiring titik fokus siapa saja yang melihat foto ini ke dalam sudut pandang yang sama dengan fotografernya (dalam artian, perspektif subjektifnya FG lebih dominan!). Juga dari komposisi pemilihan warna, selain karakter feminin yang ditonjolkan, karakter “kuat” alias “strong!” juga dibalur di sekitar aura
roman yang mengalun tipis di foto ini!
Walaupun foto di atas boleh dibilang konservatif (mengusung tema portrait tentunya), tapi tetap ada yang unik dari atmosfernya. Pemilihan latar merah tentu saja semakin memperkuat point of interest dari si objek foto. Dengan busana yang yang kontras dengan latarnya, si obyek semakin terlihat menonjol dan mampu "meredam" obyek lain di dalam frame. Efeknya dapat ditebak, si model dalam foto di atas menjadi pusat fokus bagi siapa saja yang melihat foto tersebut.
Penghargaan terbesar untuk fotografer dan juga model di foto itu.
Catatan:
Fotografi Portrait (Potret) adalah teknik fotografi yang menangkap image manusia atau model secara dekat atau dengan latar yang blur atau bisa juga dengan latar belakang yang sangat kontras. Tujuannya adalah menonjolkan si model dalam frame tersebut. Untuk saat ini, foto portrait ini semakin berkembang dengan memadukan berbagai teknik atau pendekatan teknik fotografi yang berbeda.
Supaya berimbang, silahkan baca juga artikel yang sangat menarik, yang mengulas tentang foto portrait dengan judul: "Apa Sih Bedanya Fotografi Model & Portrait?".
Harmoni dalam Kontras: Mengapa Foto Ini "Bicara"?
Sobat, ada satu hal yang bikin foto ini nggak cuma sekadar "cakep", tapi punya "nyawa". Yaitu keberanian bermain dengan kontras. Di dunia fotografi, warna merah itu ibarat pedang bermata dua; kalau salah pakai, bisa-bisa mata yang melihat malah lelah. Tapi di tangan Arsya, latar belakang merah menyala ini justru jadi panggung yang sempurna buat menonjolkan sisi lembut Siti Hafsah.
Ada filosofi menarik di balik pemilihan sudut pandang samping atau side profile ini. Secara psikologis, wajah dari samping itu menyimpan misteri yang lebih dalam dibanding kita menatap kamera langsung (direct stare). Garis rahang, lekukan hidung, hingga tatapan mata yang seolah menerawang ke satu titik tak kasat mata, bikin kita yang melihat foto ini jadi bertanya-tanya: "Lagi mikirin apa ya dia?". Inilah yang disebut kekuatan naratif dalam sebuah potret. Foto ini nggak cuma diam, tapi dia seolah-olah lagi bisik-bisik ke kita.
Kontras antara "api" dari warna merah dan "air" dari ketenangan raut wajah Siti Hafsah menciptakan sebuah harmoni yang seimbang. Ini teknik tingkat lanjut, Sob. Menggunakan warna yang keras untuk mengemas keanggunan. Ditambah lagi dengan pemanfaatan cahaya yang pas, sehingga meskipun latar belakangnya "berteriak", fokus mata kita tetap nggak bisa lepas dari subjek utamanya.
Buat Sobat yang baru belajar fotografi potret, karya Siti Hafsah dan Arsya ini bisa jadi pelajaran berharga. Jangan takut tabrak warna! Jangan takut mencoba sudut yang nggak biasa. Fotografi itu bukan cuma soal alat yang mahal, tapi soal gimana kita bisa "merasakan" momen sebelum kita menekan tombol shutter. Karena pada akhirnya, potret yang paling berkesan bukan yang paling jernih gambarnya, tapi yang paling jujur ceritanya. Selamat berkarya dan teruslah mencari "nyawa" di setiap jepretan kalian!
Demikianlah ulasan singkat kali ini, semoga Sobat dapat terhibur karenanya.
Akhir kata, tetap sehat, tetap semangat, dan jangan pernah berhenti memotret.
Artikel oleh: Tuntas Trisunu

Artikel yang sangat menarik serta menambah wawasan! Dan juga foto-foto yang luar biasa....Great Job!
BalasHapus