Senin, 28 Maret 2016

Beauty Photography!!!!!!!



Karet, Jakarta, Senin, 28 Maret 2016

Salam jumpa Sobat jepret semuanya. Masih berputar pada topik bahasan yang sama, tentang fotografi, dan juga masih di pembahasan seputar tentang beauty photography. Kali ini, saya harus jujur bahwa saya masih belum terlalu memahami aliran fotografi yang satu ini secara mendalam.

Dalam benak saya (yang memang kapasitasnya tidak terlalu besar ini), saya dulu menyederhanakan aliran yang satu ini ke dalam satu bahasa, yaitu: "kecantikan". Namun, seiring berjalannya waktu dan setelah berkali-kali "bertapa" di depan monitor melihat hasil karya para master, saya sadar bahwa pemahaman saya selama ini ternyata sangatlah naif.

Lebih dari Sekadar Wajah yang Kinclong


Memang, pemahaman saya di atas terlalu "naif" dan terdengar sangat polos serta sederhana. Apalagi kalau kita kaji lebih dalam tentang beauty photography ini, pastinya akan kita temui kenyataan bahwa genre ini ternyata jauh lebih rumit, jauh lebih kompleks, dan jauh lebih "kejam" dibandingkan dengan pemahaman saya yang super naif tadi.

Dulu saya pikir, asalkan ada model cantik, pakai makeup yang tebalnya mirip bedak pengantin, lalu dijepret dengan lighting yang terang benderang, maka jadilah beauty photography. Ternyata saya salah besar, Sob!

Beauty photography bukan cuma soal memotret wajah yang cantik atau kulit yang mulus. Ini adalah soal detail—tentang bagaimana setiap helai rambut harus jatuh di posisi yang tepat, bagaimana bayangan di tulang pipi harus bisa menceritakan karakter, hingga bagaimana pori-pori kulit harus tetap terlihat nyata namun tetap menawan. Di sini, fotografer bukan cuma tukang jepret, tapi sudah merangkap jadi arsitek wajah.


Drama di Balik Cahaya dan Lensa


Coba bayangkan, dalam satu sesi foto beauty, kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengatur satu titik lampu supaya pantulan cahayanya di mata (catchlight) terlihat sempurna. Kalau meleset satu milimeter saja, aura mahakaryanya bisa langsung merosot jadi foto ijazah. Belum lagi urusan mengarahkan model.

Mengarahkan model untuk genre beauty itu punya tingkat kesulitan yang bikin kening berkerut. Kita harus bisa menangkap emosi lewat tatapan mata, padahal si model mungkin sudah pegal luar biasa karena harus menahan pose leher yang agak melintir demi mendapatkan sudut pandang yang estetik. Di sinilah sisi "kejam" yang saya maksud; estetika itu terkadang memang butuh pengorbanan, baik bagi fotografernya maupun modelnya.

Catatan Tambahan: Dilema Tukang Edit di Tengah Malam


Bicara soal beauty photography takkan lengkap tanpa membahas ritual suci yang bernama: Retouching. Nah, di sinilah humor tragisnya sering dimulai. Sebagai fotografer yang masih naif, saya sering terjebak dalam dilema antara ingin merapikan jerawat si model atau malah menghapus seluruh karakter wajahnya.

Pernah suatu kali, saking semangatnya menggunakan alat healing brush di Photoshop, saya malah membuat wajah model jadi terlalu mulus sampai-sampai pori-porinya hilang total. Hasilnya? Bukannya jadi foto beauty yang elegan, modelnya malah kelihatan kayak boneka manekin yang baru keluar dari pabrik plastik! Di situlah saya sadar, menjaga batasan antara "cantik alami" dan "cantik buatan aplikasi" itu lebih susah daripada nyari sinyal di dalam basement.

Belum lagi urusan "Liquify"—alat ajaib yang bisa mengecilkan pipi atau mancungin hidung dalam sekejap. Kalau tidak hati-hati, tembok di belakang model bisa ikut meliuk-liuk kayak kena gempa bumi gara-gara kita terlalu napsu mengecilkan lengan model. Kalau sudah begini, bukannya pujian yang didapat, kita malah bakal jadi bahan tertawaan di forum-forum fotografi karena dianggap gagal menguasai ilmu gravitasi dunia editing.


Kesimpulan: Terus Belajar dan Jangan Menyerah


Jadi, buat Sobat jepret yang mungkin sekarang merasa sama naifnya dengan saya, jangan berkecil hati. Fotografi itu adalah perjalanan panjang tanpa ujung. Semakin kita merasa tidak tahu, sebenarnya itu tandanya kita sedang mulai belajar. Jangan takut salah jepret, dan jangan takut hasil editing kalian dibilang aneh. Toh, semua master pun dulunya pasti pernah mengalami fase "naif" seperti kita.

Sobat, kalau memang sobat tertarik dengan genre fotografi ini, silakan mampir di beberapa artikel saya dalam laman ini, supaya dapat penjelasan yang lebih detil dan lebih lugas serta lengkap. Karena di sana, saya mencoba membedah lebih dalam tentang seluk-beluk beauty photography yang sesungguhnya.

Demikianlah sedikit curhatan dan ulasan singkat kali ini. Semoga dapat menghibur dan sedikit memberi pencerahan bagi Sobat-sobat jepret semuanya. 

Tetap sehat, tetap semangat, dan jangan lupa bersihkan lensa kamera kalian!

Artikel ini diadaptasi dan ditulis oleh: Tuntas Trisunu

2 komentar:

  1. Hasil karya yang sangat menarik serta menambah wawasan! Dan juga foto-foto yang luar biasa....Great Job!

    BalasHapus
  2. Lumayan bagus....mantab lah mas ! Ditunggu karya lainnya...4 Jempol!

    BalasHapus