Kamis, 17 Maret 2016

Waaaaahhhhhhh......Nostalgia!!!!!


Pojok Benteng, Jogjakarta
Sekitar tahun 1994
trisoenoe.com

Karet, Jakarta, Kamis, 17 Maret 2016

Foto ini kiriman dari sahabat saya, Wendy Laksmono W. Potret ini diambil pada saat kita sedang pakansi ke kota pelajar alias Jogjakarta (dilafalkan dengan "Yogyakarta"). Kalau tak salah, potret ini diambil sekitar tahun 1994, atau di era dimana segala sesuatu terasa murah dan mudah. 

Pada era 90'an, Jogja masih sangat terasa "Jogja". Tidak ada macet, tidak ada kebisingan yang kelewat batas, tidak ada kerawanan yang kelewat seram, tidak ada hal yang tidak menyenangkan di sana. Di Jogja, segala segalanya terasa seperti "pulang ke rumah". Bukan rumah dalam arti kata harafiah, melainkan rumah dalam artian dimana kita merasa nyaman, merasa tenang, dan merasa seperti keluarga. Atmosfer dari Jogja saat itu terasa sangat ayem, sangat menyejukkan, sangat menenangkan jiwa. 

Yang saya ingat, saat itu kami merasa sangat nyaman di Jogja. Walaupun saya bukan berasal dari Jogja, tapi saya merasa kalau Jogja memperlakukan saya seperti "anak" yang pulang kampung, sekedar untuk melepas kangen dan ingin pulang.

Benar-benar waktu yang indah.

Nambah Coretan Cerita di Balik Layar:


Kalau melihat foto kiriman Wendy ini, ingatan saya langsung melesat kembali ke tahun 1994. Zaman di mana isi dompet tipis tapi bahagianya tembus sampai ke langit ketujuh. Bayangkan saja Sob, modal nekat naik kereta ekonomi yang jalannya dalam irama selow, penuh mampus dan bisingnya minta ampun, kami tetap bisa menikmati pakansi dengan gaya paling maksimal yang kami bisa. Waktu itu Jogja benar-benar masih "perawan" dari kemacetan gila-gilaan. Jalanan masih didominasi kayuhan becak dan derap kaki kuda andong. Uang beberapa perak saja sudah bisa bikin perut kenyang makan nasi di warung koboi (pada waktu itu, kami menyebut warung angkringan dengan sebutan warung koboi) di pinggir jalan sampai begah. Gaya berpakaian kami di foto itu pun kalau dilihat sekarang rasanya kocak banget—potongan rambut acak-adut khas anak muda zaman itu, celana gombrang, dan pose yang sok keren di depan kamera analog yang roll filmnya cuma berisi 36 jepretan. Salah jepret sedikit, tamatlah riwayat kenangan kami!

Namun, di balik semua tawa dan kekonyolan masa muda yang terekam di Pojok Benteng malam itu, ada rasa hangat yang tidak akan pernah bisa ditukar dengan materi apa pun. Kebersamaan kami terasa begitu murni, tanpa distraksi layar ponsel atau pamer status di media sosial. Kami hanya beberapa anak muda yang sedang menikmati hidup, saling melempar lelucon renyah, dan berjalan menyusuri trotoar Jogja yang adem di bawah temaram lampu kota.

Namun kini, waktu telah berjalan terlampau jauh dan membawa perubahan yang tak bisa kita tebak. Menyaksikan kembali lembaran foto hitam-putih ini mendadak memercikkan rasa sesak dan rindu yang teramat berat di dalam dada. Laki-laki di tengah foto itu, yang memakai kacamata dengan senyumnya yang khas, adalah sahabat kami, Sri Wahyudi. Kami semua akrab menyapanya dengan nama "Sere". Kini, Sere telah berpulang ke pangkuan Sang Pencipta, meninggalkan kami dengan sejuta memori indahnya di sudut-sudut Jogjakarta. Tempat berdiri yang kosong di antara kami kini menjadi pengingat bahwa sebagian dari masa muda kami telah ikut pergi bersamanya. Selamat jalan, Sere. Terima kasih telah menjadi bagian dari cerita terbaik dalam hidup kami.

Terima kasih Jogjakarta.

1 komentar:

  1. Artikel yang sangat menarik serta menambah wawasan! Dan juga foto-foto yang luar biasa....Great Job!

    BalasHapus