Salam jumpa Sobat jepret semuanya! Kali ini saya akan coba mengulas tentang satu jenis genre dalam fotografi yang kebetulan tengah saya coba untuk tekuni, yaitu foto hitam-putih.
Dan di bawah ini adalah satu foto hitam-putih yang akan kita coba untuk "kuliti" dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Menembus Batas Warna Lewat Perspektif Close-Up
Kalau kita lihat foto di atas, kita bisa melihat perspektif dari si fotografer yang mencoba untuk mendapatkan satu sudut yang berbeda dari si model. Foto itu mencoba memadukan antara foto close-up yang dikemas dengan hitam dan putih.
Berfokus pada area mata si model, di mana ekspresi dari si model turut memperkuat aura dari keseluruhan foto.
Seandainya foto tersebut tidak ditampilkan dalam komposisi hitam dan putih, dan tidak dikemas dalam perspektif close-up, tentunya "pesan" yang akan disampaikan oleh foto tersebut akan sangat berbeda.
Kekuatan Gradasi, Garis, dan Emosi Murni
Kekuatan sebuah fotografi hitam-putih terletak pada gradasi warna hitam-putih itu sendiri. Fotografi hitam-putih juga mengandalkan bentuk dan garis. Kombinasi bentuk, garis, dan gradasi warna hitam-putih membangun irama dalam sebuah karya fotografi hitam-putih.
Seringkali foto hitam-putih terasa lebih dramatis dan lebih kuat pesannya daripada foto berwarnanya sendiri. Kelebihan dari foto hitam-putih adalah mampu menyampaikan kesan murni serta emosi yang sangat kuat. Hal inilah yang mendasari mengapa sampai saat ini sebagian fotografer tetap bertahan dengan idealisme hitam-putihnya.
Catatan Sampingan: Curhat Colongan dari Tukang Foto
Bicara soal idealisme hitam-putih ini, kadang ada suka dukanya sendiri yang bikin elus dada, Sob. Sadar atau tidak, tantangan terbesar fotografer aliran ini bukan cuma masalah teknis mengatur shutter speed atau nyari garis komposisi yang simetris. Ujian terberatnya justru datang dari reaksi orang awam pas melihat hasil akhir foto kita.
Bayangkan, Anda sudah bela-belaan nongkrong seharian demi dapet lighting dramatis, menahan napas biar tangan enggak gemetaran, lalu lanjut bertapa berjam-jam di depan laptop buat ngatur gradasi abu-abunya agar terlihat masterpiece. Pas fotonya dipamerkan dengan bangga, tiba-tiba ada teman yang komentar: "Loh, ini fotonya bagus banget, tapi kok lupa diwarnain, Sob? Kameranya rusak ya?" Di momen seperti itulah, iman kefotografian kita benar-benar sedang diuji secara lahir dan batin.
Belum lagi kalau kita nekat memotret teman pakai genre close-up hitam-putih begini. Alih-alih dipuji karena berhasil menampilkan "emosi murni" dan kesan dramatis, yang ada kita malah diamuk karena jerawat atau kerutan di wajah mereka justru kelihatan makin tegas akibat kontras warna yang tajam. Ujung-ujungnya, mereka malah minta fotonya diedit ulang pakai filter beauty yang bikin muka mulus kinclong kayak porselen.
Jadi kesimpulannya, main di genre hitam-putih itu memang butuh mental baja dan stok kesabaran yang tebal. Tapi serunya, begitu Anda berhasil menjepret satu momen yang pas, foto itu bakal kelihatan abadi dan berkelas banget—berubah drastis dari yang tadinya cuma jepretan biasa, langsung naik kasta kelihatan kayak karya seni yang dipajang di pameran internasional.
Supaya Sobat bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas, ada baiknya Sobat juga membaca artikel yang berjudul:
Dalam kedua artikel tersebut, ada penjelasan yang lebih rinci dan lebih mendalam mengenai foto hitam dan putih.
Demikianlah Sob, sedikit ulasan mengenai foto hitam-putih. Semoga dapat menghibur Sobat semuanya. Tetap sehat, tetap semangat!
Artikel diadaptasi dan ditulis oleh: Tuntas Trisunu


Hasil karya yang sangat menarik serta menambah wawasan! Dan juga foto-foto yang luar biasa....Great Job!
BalasHapus