Dalam artikel kali ini, cerita yang diusung alias yang akan dikemukakan adalah bagi-bagi atawe share hasil foto. Foto di atas adalah foto yang saya ambil di daerah Kotu, di salah satu spot fotografi yang menurut saya super ciamik, dan juga sudah kesohor seantero jagat komunitas pecinta jeprat-jepret (fotografi) di Jabodetabek. Lokasinya tepat di bagian belakang Museum Bank Indonesia, tak jauh dari Lapangan Fatahillah dan juga Toko Merah. Dan foto ini diambil malam hari, karena saat itu suasana spot itu boleh dibilang unik dan juga menarik untuk di foto.
Spot tersebut terlihat sangat menarik, karena mampu menghadirkan banyak peristiwa dalam satu waktu, dimana atmosfer sejarah, seakan masih bisa dirasakan, berbarengan dengan kisah keseharian saat ini, yang diisi dengan hiruk-pikuk yang mewarnainya.
Benar-benar satu gambaran keseharian yang punya banyak makna. Indah sekaligus ironis.
Dan sayangnya, karena pada saat itu saya masih super polos dan masih "pemulanya" pemula dalam hal fotografi, maka bisa dipastikan, hasil jepretan saya juga jauh dari yang diharapkan...,alias acak adut !
Nah, tentang hasil foto saya di atas, silahkan di bully, di hina, dan kritik habis-habisan.
Coretan tambahan:
Membawa kamera di sekitaran Lapangan Fatahillah hingga menyisir sudut Toko Merah malam itu benar-benar membuka mata saya. Sebagai anak baru yang megang kamera saja masih gemetaran dan bingung mengatur exposure, saya justru disuguhkan oleh pemandangan yang magis. Cahaya lampu kota yang temaram berpadu dengan megahnya dinding-dinding kolonial, menciptakan siluet yang luar biasa indah. Namun di sisi lain, saya juga menangkap potret getir—tentang mereka yang mengais rezeki hingga larut malam demi menyambung hidup di atas lantai trotoar yang dingin.
Keindahan dan ironi itulah yang membuat tangan saya gatal untuk terus menekan tombol rana, peduli amat dengan urusan teknis yang masih acak-acakan. Hasilnya memang jauh dari kata estetik khas fotografer profesional; ada yang blur, kegelapan, bahkan komposisinya miring sana-sini. Tapi bagi saya, di situlah letak kejujurannya. Foto yang "gagal" ini justru menjadi saksi bisu proses belajar saya yang paling murni, sebuah rekaman jujur tanpa rekayasa.
Seni fotografi ternyata bukan cuma soal pamer alat mahal atau memburu gambar yang sempurna tanpa cela. Lebih dari itu, ini adalah tentang bagaimana kita merekam sebuah rasa dan cerita yang terjadi di depan lensa. Setiap jepretan adalah cara kita menghargai kehidupan dan waktu yang terus berjalan maju. Jadi, meskipun draf foto kali ini panen kritikan tajam dari sana-sini, saya tidak akan kapok atau ciut nyali. Langkah kaki ini akan tetap meluncur ke spot-spot ciamik lainnya dengan semangat yang sama. Mari kita nikmati saja setiap prosesnya, terus jepret tanpa ragu, dan biarkan waktu yang merapikan hasil akhir kita kelak. Tetap semangat dan salam jepret selalu!

Artikel yang sangat menarik serta menambah wawasan! Dan juga foto-foto yang luar biasa....Great Job!
BalasHapus